Sukses

Reklamasi Lahan Bekas Tambang, Semen Baturaja Budidayakan Koloni Lebah Trigona

Liputan6.com, Palembang - Untuk mereklamasi dan revegetasi lahan bekas penambangan bahan baku pembuatan semen, Beeyond PT Semen Baturaja (Persero) Tbk melakukan inovasi ramah lingkungan.

Yakni mengelola ekosistem pada area lahan bekas tambang Quarry dengan Sistem silvikultur menjadi habitat budidaya koloni lebah trigona.

Menurut Hendri Irawan Manuhutu Vice Presiden Mining PT Semen Baturaja, area hijau yang dihasilkan dari progam reklamasi, menumbuhkan banyak jenis tanaman.

Tanah seluas 30,14 Hektare di lahan bekas tambang tersebut, diisi dengan berbagai tanaman buah-buahan, tanaman hias berbunga, dan tanaman dengan pohon sedang hingga yang tinggi.

“Jenis tanaman hias yang banyak mengandung nectar dan pollen inilah, yang sangat disukai oleh koloni lebah. Makanya muncul ide untuk pemanfaatan tanaman tersebut, sebagai habitat budidaya koloni lebah trigona,” katanya, Selasa (24/5/2022).

Dia mengatakan, inovasi tersebut mendukung visi dan misi Semen Baturaja, untuk menjadi Green Cement Based Building Material Company terdepan di Indonesia.

Di mana, kegiatan tersebut membantu Semen Baturaja menciptakan pabrik semen ramah lingkungan, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.

Lingkungan bekas tambang Semen Baturaja, lanjut Hendri, sangat mendukung untuk dilakukan kegiatan ternak lebah.

“Kita melihat adanya potensi dari inovasi tersebut, untuk membantu proses reklamasi dan pasca tambang Mining Semen Baturaja secara umum. Dan secara khusus akan membantu proses reproduksi vegetative, dari tumbuhan yang ditanam pada area reklamasi,” ucapnya.

Perseroan melakukan kegiatan pembenihan, penyapihan, pembibitan di lokasi Nursery Green House Division Mining.

Setelah bibit siap untuk ditanam terlebih dahulu area yang akan ditanami tanaman, untuk tempat berkembang biak lebah trigona dilakukan penebaran Legume Cover Crop (LCC), agar tanah lebih subur kembali.

Hendri melanjutkan, Semen Baturaja berencana akan memberdayakan peternak lebah lokal berpengalaman di wilayah Baturaja Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan (Sumsel), untuk mengembangkan inovasi tersebut.

“Diharapkan mampu mengedukasi masyarakat lain, untuk ikut melakukan budidaya lebah secara mandiri, dan dapat menjadi salah satu kegiatan yang mendukung Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan,” ungkapnya.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 3 halaman

Budidaya Lebah Trigona

Lebah Trigona atau sering disebut sebagai lebah kelulut, klancing, klenceng, lonceng dan sejenisnya, merupakan salah satu genus lebah tanpa sengat terbesar. Trigona menjadi jenis lebah madu yang paling banyak dipelihara secara tradisional oleh masyarakat pedesaan sekitar kawasan hutan se-Indonesia.

Di bulan September 2021 lalu, sudah dilakukan panen pertama yang dihadiri oleh Direktur Produksi & Pengembangan dan Direktur Umum & SDM, dan hasil yang didapatkan pada panen pertama sangat memuaskan.

“Madu dipanen secara langsung dengan menggunakan mesin penyedot madu yang dibuat dengan memodifikasi pompa vakum aquarium, sehingga bisa digunakan sebagai penyedot madu lebah trigona panen juga telah disiapkan untuk dibawa pulang para Direksi dan karyawan/ti yang hadir dengan packaging yang menarik.” ujarnya.

Saat ini, tambah Hendri, luas area yang sudah dilakukan kegiatan reklamasi sekitar 30 Hektare. Dari referensi sebuah hasil penelitian, untuk satu hektar lokasi hijau dapat ditempatkan sebanyak 15 kotak koloni lebah.

3 dari 3 halaman

Green Economy

Jika semua lahan reklamasi tersebut dapat dioptimalkan untuk produksi madu trigona, produksi madu bisa berpotensi mencapai 45 - 90 liter madu per bulan dengan parameter asumsi 0,1 - 0,2 liter per kotak per bulan.

Namun untuk saat ini, belum semua area reklamasi bisa dioptimalkan dikarenakan masih dalam tahap penelitian dan pengamatan. Di mana, total kotak yang dimiliki Semen Baturaja sekarang, sebanyak 40 kotak koloni lebah.

Budidaya Lebah Trigona tersebut, menjadi Role Mode Ekonomi Hijau (Green Economy) yang diterapkan pada area bekas tambang yang tidak ekonomis lagi, menjadi penghasil madu dengan nilai ekonomi tinggi.

Alhamdulillah saat ini produksi madu trigona telah mencapai 3-5 liter per 1,5 bulan. Semoga dengan berjalannya program ini, mampu memberdayakan ekonomi pascatambang dan memberikan manfaat kesehatan dengan mengonsumsi madu trigona,” ucapnya.