Sukses

Ini 3 Sektor yang Pengaruhi Inflasi Sumsel di November 2021

Liputan6.com, Palembang - Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Sumatera Selatan ([Sumsel](inflasi "")) pada bulan November 2021mengalami inflasi sebesar 1.54 persen (mtm). Di mana, pada bulan Oktober 2021 lalu, tercatat inflasi sebesar 0.08 persen(mtm).

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumsel Nurcahyo Heru Prasetyo mengatakan, perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh inflasi, yang bersumber dari kelompok makanan, minuman dan ternbakau.

Dengan perkembangan tersebut, realisasi inflasi kumulatif Sumsel, tercatat sebesar 1,40 persen (ytd). Secara tahunan, inflasi IHK di bulan November 2021 tercatat sebesar 1,98 persen (yoy), Iebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 1,75 persen (yoy), namun lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Sumsel 2,13 persen (yoy).

Dia menuturkan, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,22 persen (mtm), dengan andil sebesar 0,36 persen (mtm).

“Inflasi didorong oleh peningkatan harga pada beberapa komoditas subkelompok makanan, seperti cabai merah, minyak goreng dan telur ayam ras,” ucapnya, Jumat (3/12/2021).

Nurcahyo menuturkan, inflasi komoditas cabai merah disebabkan pasokan yang terbatas, dengan kenaikan harga crude palm oil (CPO) global. Sementara inflasi telur ayam ras, karena permintaan masyarakat yang mulai membaik.

Lalu, kelompok transportasi juga menyumbang inflasi sebesar 0,77 persen (mtm), dengan andil sebesar 0,80 persen (mtm).

Inflasi tersebut didorong oleh kenaikan harga mobil sebesar 5,18 persen (mtm), sebagai dampak perubahan skema Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), yang saat ini berdasarkan emisi gas buang dan konsumsi bensin kendaraan.

“Untuk kelompok perumahan, air, listri dan bahan bakar rumah tangga di bulan November 2021, mengalami inflasi 1,05 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,06 persen (mtm),” ungkapnya di Palembang Sumsel.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 3 halaman

Inflasi Kelompok Makanan

Menurutnya, inflasi disebabkan pada komoditas emas perhiasan, yang tercatat sebesar 4,48 persen (mtm), dengan andil sebesar 0,05 persen (mtm). Di mana, inflasi pada komoditas emas perhiasan, dipengaruhi oleh kenaikan harga emas global.

Dia melanjutkan, inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau tertahan oleh deflasi pada komoditas buah naga, tomat, kopi bubuk, jeruk dan bawang merah.

Deflasi pada komoditas tomat tercatat sebesar -9,88 persen (mtm), yang disebabkan melimpahnya pasokan domestik, seiring dengan musim panen di wilayah sentra.

"Peningkatan pasokan karena musim panen juga, mendorong deflasi komoditas bawang merah," ucapnya.

 

3 dari 3 halaman

Data PIHPS

Dari data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga jual bawang merah turun dari Rp32.550/Kg di bulan Oktober 2021, menjadi Rp30.100/Kg di November 2021.

Di bulan November 2021 ekdua, kota sampel IHK yaitu Kota Palembang dan Lubuk Linggau, mengalami inflasi sebesar 0,56 persen (mtm) dan 0,29 persen (mtm).

Komoditas yang memberikan andil inflasi di Palembang yakni, cabai merah, minyak goreng, telur ayam ras, mobil dan emas perhiasan. Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar di Lubuklinggau, adalah cabai merah, telur ayam ras, minyak goreng, besi beton dan seng.

"Mencermati perkembangan inflasi terkini dan beberapa indikator harga, inflasi Sumsel di Desember 2021 diperkirakan akan kembali inflasi. Yang didorong peningkatan permintaan masyarakat, dalam rangka Hari Natal dan perayaan Tahun Baru," katanya.