Sukses

Semringah Bocah Kampung Cinta ‘Ngubek Balong’ di Tengah Musibah Banjir Bandang

Liputan6.com, Garut - Di tengah musibah banjir bandang yang merendam dua kecamatan di Garut, Jawa Barat saat ini. Belasan bocah cilik (Bocil) kampung Cinta, Desa Cinta, Kecamatan Karangtengah, justru menikmati kaceriaan melakukan ‘Ngubek Balong’ di tengah musibah yang tengah menerjang kampung mereka.

Dengan rona wajah ceria, mereka nampak asik dan ceria ‘ngubek balong’ atau mencari ikan yang tersisa di kolam milik warga setelah musibah banjir bandang menyapu kampungnya.

"Ikannya lumayan banyak, seru saja kami mencari ikan bareng-bareng," ujar Firdaus, 10 tahun, salah satu bocil setelah mendapatkan ikan mas, di kolam milik warga, Ahad (28/11/2021).

Bagi mereka, musibah banjir bandang yang telah menyapu kampungnya, tidak selamanya menyengsarakan, namun sebaliknya. Bahkan adanya kekhawatiran setelah musibah itu, tidak terlalu mereka fikirkan, di tengah upaya perbaikan dan penanggulangan yang tengah dilakukan pemerintah.

"Yang penting kami tidak ikut menyusahkan orang tua," ujarnya dengan polos penuh dengan senyum ceria.

Cereriaan lain muncul dari Dindin, rekan Firdaus itu mengaku jika musibah banjir bandang memberikan hikmah tersendiri bagi dia dan teman-temannya.

"’Ngubek balong’ memang asik sambil bermain lumpur dengan teman-teman," kata dia.

Meskipun jenis ikan yang berhasil mereka tangkap tidak seberapa mulai ikan mas, mujair, nilem dan ikan kecil lainnya, namun semangat ngubek balon, yang dilakukan secara bersama-sama itu menghadikan keceriaan dan kegembiraan di tengah musibah banjir bandang kali ini.

"Memang anak-anak di sini kalau ada kolam sisa panen, sering dipake ngubek balong," ujar Engkum, 63 tahun, salah satu tetua di lokasi banjir bandang, kampung Cinta menambahkan.  

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Musibah Serupa

Menurutnya musibah banjir bandang yang menyapu kampung mereka merupakan kali kedua sejak kejadian serupa berlangsung lima dekade yang lalu.

“Tahun 1970-an pernah juga banjir bandang, tapi tidak separah kali ini,” kata dia mengenang.

Saat itu, hujan deras seharian membuat luapan sungai di wilayahnya tidak sanggup menahan volume debit air yang masuk. “Saat itu jembatan semi permanen dari bambu langsung ambrol,” kata dia.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah itu, hingga akhirnya musibah serupa kembali terulang petang kemarin. “Air mulai naik sejak pukul 14.30 WIB di tengah-tengah hujan yang cukup deras,” kata dia.

Dibanding musibah sebelumnya, luasan wilayah terdampak banjir kali ini terbilanh cukup luas hingga menggenangi wilayah kecamatan lainnya. “Kalau dulu meskipun besar, kerusakan hanya di kampung ini saja, tidak sampai ke kampung lain,” kata dia.

Namun terlepas dari musibah alam yang telah terjadi, Engkum berharap semua warga termasuk dirinya tersadarkan untuk kembali menjaga kelestarian alam sekitar.

“Memang kembali ke kita juga, kalau alamnya terjaga dengan baik mungkin tidak ada musibah ini,” ujar mengingatkan.

Sebelumnya, untuk menangani dampak musibah banjir bandang, Pemerintah daerah segera menerapkan status tanggap darurat bencana alam bagi wilayah Kecamatan Sukawening dan Karangtengah.

Wakil Bupati Helmi Budiman menyatakan, melihat besarnya dampak yang ditimbulkan setelah musibah banjir bandang, Bupati Garut Rudy Gunawan segera menekan status tanggap darurat bagi dua kecamatan itu.

Dalam perhitungan sementara, total sebanyak 312 Kepala Keluarga di dua kecamatan ikut terdampak setelah musibah banjir bandang itu. Rinciannya, sekitar 200 kepala keluarga di Kecamatan Karang Tengah, dan 112 Kepala keluarga di Kecamatan Sukawening.