Sukses

Lampu Hemat Energi Karya Santri untuk Terangi Negeri

Liputan6.com, Bandung Raut wajah Ahmad Azis Santoso (19) tampak serius. Mengenakan sarung dan peci hitam, tangan Azis cekatan menempelkan timah ke ujung solder lalu menempelkannya ke papan sirkuit berwarna hijau.

Dalam sekejap komponen elektronika yang ditangani, menyatu dengan papan rangkaian PCB dengan menggunakan timah tersebut. Begitulah Azis, alumni santri dari Pesantren Darul Hidayah bekerja menyolder peralatan elektronika lampu yang dilabeli Limar atau Listrik Mandiri Rakyat.

Pondok Pesantren Daarul Hidayah terletak di Jalan 17 Agustus II No 19, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Lokasi produksi Limar berada di lantai dua.

Berjalan ke ujung lorong, terdapat ruangan pembuatan Limar berukuran 4x3 meter. Di lokasi inilah para santri turut memproduksi lampu hemat energi yang tujuannya bukan untuk komersil.

Selain hemat energi, lampu itu mengurangi gas karbondioksida. Sebabnya, lampu Limar kreasi warga Bandung ini berupa lampu LED atau Light Emitting Diode yang tenaga listriknya berasal dari surya panel.

Ditemui Liputan6.com, Sekretaris I Yayasan Pesantren Terpadu Darul Hidayah Ridwan Hidayat mengatakan, lampu hemat energi Limar dirintis sejak 2008 oleh Ujang Koswara. Secara sepintas lampu Limar seperti bohlam biasa.

Namun, 19 lampu LED yang dipasang melingkar tersebut didesain agar cahayanya tersebar merata secara luas. Adapun cangkang lampunya dengan bentuk seperti bola golf.

"Lampu Limar ini hanya 1,5 watt tapi lampunya setara 10 kali lipat lampu pijar. Beban listriknya hemat," kata Ridwan saat ditemui, Kamis (21/10/2021).

Ridwan menjelaskan bahwa Pesantren Darul Hidayah memiliki kesibukan lain di luar aktivitas kesehariannya belajar dalam ilmu agama. Meski demikian, perakitan lampu penerangan hemat energi ini bukan ekstrakurikuler.

"Ide awalnya dari ketua yayasan Pak Haji Asep. Beliau melihat santri itu kebiasaan siang kalau enggak ada tugas ya tidur. Lalu terpikir bagaimana kalau selain menimba ilmu agama, santri punya bekal dalam kehidupan akhirnya dibuka produksi Limar," ujarnya.

Pengetahuan tentang perakitan dan pembuatan Limar dari Ujang Koswara ini akhirnya ditransfer kepada santri. Dengan harapan apabila santri telah bisa membuat Limar nantinya dapat membantu masyarakat dalam hal kebutuhan lampu penerangan, sekaligus agar para santri kelak mampu menjadi pengusaha mandiri.

"Awalnya ada beberapa santri yang diajak. Tapi mereka pegang solder saja takut. Setelah terbiasa justru ketika ada barang elektronik yang rusak mereka sekarang ini sudah berani memperbaiki," kata Ridwan.

Ridwan sendiri merupakan alumni pesantren pada 2010. Setelah mengenyam pendidikan sarjana ekonomi, ia kembali ke pesantren untuk memimpin produksi lampu Limar.

Azis pun juga salah satu murid Ridwan. Ia saat ini tengah mengambil studi sarjana di salah satu kampus swasta di Bandung. Ia mengaku banyak mendapat pengalaman yang bermanfaat dari kegiatan produksi Limar.

"Manfaatnya yang terasa itu asalnya kan jarang menggeluti dunia perlistrikan, tapi setelah dicoba jadi bisa. Sejak ikut memproduksi Limar jadi sering pergi keluar kota untuk membekali masyarakat lain," kata Azis.

Ridwan mengatakan, saat ini ada 20 santri dari total 300 santri di pesantren yang turut memproduksi lampu limar. Para santri yang terlibat, tidak dibebankan target jumlah produksi untuk membuat Limar.

Namun rata-rata santri memproduksi satu boks, terdiri atas lima lampu Limar dan satu switch box setiap harinya. Para santri yang bekerja diberi bantuan pembuatan Kartu Indonesia Pintar dan uang saku sebesar Rp70 ribu per boks.

Dengan biaya Rp3 juta untuk pemasangan Limar dan solar panel, warga yang kesulitan memperoleh listrik bisa mendapat penerangan yang memadai. Namun, pihak pesantren menggandeng sejumlah perusahaan yang berderma lewat bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Hasilnya, warga yang tak teraliri listrik karena akses dan tak mampu bayar bisa mendapatkan Limar secara gratis.

"Kita memang tidak berjualan untuk komersial seperti dijual secara online karena nanti dipasarkan online dikhawatirkan banyak yang meniru atau menyalahgunakan. Apalagi target kita terbatas, sasarannya ke daerah yang sulit mendapatkan listrik dari PLN," tutur Ridwan.

Pesantren Darul Hidayah sendiri dihuni oleh mayoritas anak jalanan dari sekitaran Kota Bandung. Sang pendiri pesantren, Ki Haji Ajengan Memed berinisiatif untuk membantu kaum marjinal agar bisa memperoleh pendidikan.

"Sebanyak 40 persen siswa di sini dari mulai SD sampai SMA adalah anak jalanan. Mereka enggak dikenai biaya pendidikan karena sudah ada KIP. Yang dari luar pesantren tapi ikut mengaji tiap malam ke sini juga ada," kata Ridwan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut:

2 dari 3 halaman

Berawal dari Konversi Minyak Tanah

Limar diciptakan Ujang Koswara pada 2008 bersama seorang tukang reparasi televisi di Jalan Banceuy, Bandung, bernama Agus Listrik. Setelah berbagai percobaan selama enam bulan, Limar akhirnya berhasil diciptakan dengan produksi pertama sebanyak 5.000 unit.

Gagasan memproduksi Limar sendiri muncul karena Ibu Ujang, yang tinggal di pelosok Garut cemas dengan mahalnya harga minyak tanah dari harga eceran Rp4.000 menjadi Rp15 ribu. Padahal, bahan bakar tersebut biasanya digunakan untuk lampu teplok mengingat di kampungnya belum teraliri listrik.

"Bukan hanya mahal, tapi juga minyak tanah waktu itu sulit didapat karena sudah tidak diproduksi dan digantikan ke LPG. Ibu saya cemas karena pada saat itu ingin menyiapkan fasilitas untuk ikut ujian nasional keponakan mau belajar," kata Ujang saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (22/10/2021).

Ujang bergegas mencari tahu alternatif listrik. Peralatan pembangkit listrik seperti mikrohidro sempat dibeli Ujang agar rumah ibunya bisa terang. Tapi semua itu gagal karena listrik yang dihasilkan kurang karena faktor alam.

Setelah memperoleh informasi bahwa listrik bisa disimpan di baterai, Ujang kemudian mencari lampu. Kebanyakan lampu yang dijual umumnya di masyarakat justru arus AC yang tak menggunakan baterai.

"Waktu itu enggak ada yang jualan lampu dengan arus DC, kalaupun ada jualan lampu mobil. Lalu saya lihat hape jadul yang ada lampu senter. Saya bongkar dan ternyata lampu itu jenisnya LED, kemudian saya cari tahu pabriknya," ungkapnya.

Percobaan pertama, Ujang menggunakan aki mobil berkapasitas 35 ampere yang dicas selama dua jam. Hasilnya, listrik dapat bertahan selama satu bulan dengan pemakaian lampu Limar sekaligus selama 12 jam setiap hari.

"Saya sampai membeli komponen LED-nya dari Amerika. Tapi pemikiran saya kan bagaimana permasalahan listrik di desa menjadi energi positif bagi saya untuk memberikan solusi," ucapnya.

Setelah menemukan cara sederhana untuk penerangan, Ujang kemudian memberikan nama temuannya Limar. "Karena ini solusi untuk masyarakat maka saya tidak kepikir mengkomersilkan," cetusnya.

Pria yang akrab disapa Uko ini kemudian menggerakkan komunitas mulai dari mantan preman, anak jalanan, pemuda pengangguran hingga narapidana di lembaga pemasyarakatan untuk belajar memproduksi Limar. Ia berharap akselerasi listrik ke daerah pelosok bisa dilakukan lebih cepat dengan melibatkan banyak orang.

"Termasuk ke pimpinan Pesantren Darul Hidayah yang merupakan kerabat saya. Saya bilang produksi di sini saja agar santri punya aktivitas," ujarnya.

Adapun santri yang membuat Limar mendapatkan uang saku sebagai imbalan dari kerja mereka. Namun, peran pesantren tidak berubah sebagai tempat menuntut ilmu agama.

"Penghasilan tetap kita kasih secara harian tetapi jangan sampai mengubah posisi pesantren sebagai pabrik lampu. Namun sebagai pelengkap memperkuat kurikulum. Saya juga enggak mau juga pesantren jadi pabrik lampu, tapi mereka jadi punya keahlian tambahan," tuturnya.

Ujang juga menegaskan Limar diperuntukkan bagi masyarakat yang selama ini terpinggirkan dan tidak bisa dijangkau oleh PLN. Menurut catatan Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana, sebanyak 542.124 rumah tangga di Indonesia belum teraliri listrik hingga kuartal pertama 2021. Sementara di Jabar, per November 2020, sebanyak 204.608 kepala keluarga (KK) masih belum memiliki listrik.

"Itulah kenapa yang dipakai teknologi LED, karena saya terinspirasi dari masyarakat yang merasakan gelap. Pendekatan Limar listrik hanya untuk penerangan, masyarakat yang tuna cahaya itu tidak perlu kulkas untuk mereka, tapi butuh untuk penerangan," ungkapnya.

Dari pengalamannya ke pelosok Indonesia dari Sumatera hingga Papua, Ujang menemukan hambatan menginstalasi Limar dengan aki mobil dan genset. Pendiri Yayasan PIlar Peradaban ini pun akhirnya mengkonversi tenaga listrik menggunakan solar panel. Limar hingga saat ini sudah dipasang di lebih dari 300.000 unit rumah.

"Sejak 2018, kita mulai bergeser ke solar panel karena sekarang harganya lebih murah. Ditambah energi matahari kan melimpah, ada di mana-mana," cetusnya.

Penggunaan solar panel menurut Ujang bukan semata-mata karena ingin tampil dengan ramah energi dan isu pemanasan global. Bahkan sejak 2008 ia juga sudah memikirkan pemanasan global.

"Tetapi, saya pelajari lagi di Indonesia faktanya masih banyak kepentingan makanya Limar bukan tidak bisa untuk di kota. Seandainya rumah miskin kota menggunakan limar tetapi nanti penghasilan PLN berkurang. Buat kami penggunaan teknologi ramah lingkungan secara teori setuju tapi fakta di lapangan butuh kebijakan yang lebih kuat," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Hemat Energi Berdampak Baik untuk Alam

Isu pemanasan global memang selalu menarik untuk dibahas dan dikaji secara lebih lanjut. Pemanasan global merupakan salah satu gejala terjadinya perubahan iklim.

Sebagaimana diketahui, pada dasarnya perubahan iklim secara garis besar dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas manusia yang berlebihan. Sehingga membuat iklim di seluruh dunia berubah menjadi iklim ekstrem.

Aktivitas-aktivitas manusia tersebut secara dominan lebih banyak memproduksi karbondioksida atau CO2. Padahal, zat ini secara tidak langsung merupakan musuh dari lapisan ozon yang melindungi bumi dari berbagai benda angkasa.

Beberapa aktivitas manusia yang menjadi faktor penyebab dari pemanasan global di antaranya mobilitas manusia yang menggunakan transportasi, kegiatan industri, dan penggundulan hutan.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata temperatur di Kota Bandung (2014-2020) menunjukkan suhu rata-rata pada 2014 di angka 23,9° Celcius. Dalam kurun waktu empat tahun sesudahnya, suhu rata-rata tahunan terasa hampir sama bahkan cenderung lebih dingin yaitu 22,12° Celcius yang tercatat pada 2018.

Namun, dalam kurun dua tahun terakhir (2019-2021) suhu rata-rata di Kota Bandung mengalami tren kenaikan. Tercatat di 2019, suhu rata-rata tahunan mencapai 22,87° Celcius dan 25,69° Celcius di 2020.

Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung Teguh Rahayu melalui staf peneliti cuaca dan iklim Muhammad Iid Mujtahiddin menyatakan, dalam kurun waktu tahun 1975 sampai 2018 terjadi kenaikan suhu sekitar 1° Celcius.

"Parameter suhu dari time series data menunjukkan tren naik," ucap Iid beberapa waktu lalu.

Menurut Iid, tren kenaikan suhu terjadi akibat adanya pemanasan global dan terjadi merata di seluruh wilayah di Indonesia. Oleh karena itu, pertumbuhan kota seperti di Bandung turut menjadi salah satu faktor penyumbangnya.

"Hal ini karena pemanasan global berdampak pada perubahan iklim global. Untuk melihat ada tidaknya global climate change salah satunya dilihat dari parameter suhu udara permukaan bumi," kata Iid.

Selama penyebab pemanasan global tidak ditekan, kata Iid, tren suhu akan terus mengalami kenaikan. "Indikatornya tergantung faktor-faktor penyebab pemanasan global, baik itu emisi, penebangan pohon, asap cerobong pabrik, dan lain-lain," cetusnya.

Sementara itu, Dosen Prodi Meteorologi ITB Joko Wiratmo menyatakan, dari tahun ke tahun di Kota Bandung memang terjadi peningkatan suhu. Peningkatan suhu itu terjadi juga di skala global.

"Karena memang aktivitas manusia bertambah. Misal, bertambahnya pabrik, kendaraan bermotor, dan sebagainya juga ikut berpengaruh. Selain itu, dari bentuk Kota Bandung yang berupa cekungan sehingga ketika di atas kota Bandung terjadi awan-awan jenis stratus maka sirkulasi udara terbentuk di bawah awan sehingga udara menghangat," kata Joko.

Meski demikian, menurut Joko, adanya pertumbuhan di suatu kota di mana mereka mempunyai banyak pabrik dan aktivitas lainnya seiring juga dengan jumlah manusia juga bertambah, maka temperatur udara juga akan meningkat. Bahkan polusi juga ikut berdampak pada kenaikan tren temperatur.

"Pembangunan gedung, perumahan sebagai implikasi dari jumlah penduduk yang bertambah juga akan menyumbang pada peningkatan suhu. Kondisi Bandung yang berbeda dengan lainnya di mana berbentuk cekungan menyebabkan peningkatan temperatur akan lebih cepat," ujarnya.

Adapun pemanasan global terutama disebabkan oleh adanya pencemaran udara yang merusak lapisan ozon sehingga membuat sinar matahari tidak tersaring jatuh ke bumi. Bandung sebagai bagian dari bumi, tentu ikut berkontribusi terhadap aktivitas penyebab pemanasan global ini melalui pencemaran yang terjadi di dalamnya.

"Selama jumlah gas buang banyak dikeluarkan oleh manusia dengan berbagai aktivitasnya, akan terus menerus bertambah suhunya. Bisa jadi suatu saat akan terjadi peningkatan yang makin tinggi trennya," kata Joko.

Penulis buku, Anomali Cuaca dan Iklim Indonesia ini pun mengungkapkan bahwa pemerintah maupun pemangku kebijakan dan masyarakat untuk ikut serta mengurangi pencemaran udara yang dapat meningkatkan kenaikan suhu di bumi.

"Cara-cara yang bisa dilakukan oleh kita-kita ini misalnya adalah meningkatkan jumlah lahan hijau yang ditanami, dan menurunkan pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer Bahkan bila kita hemat energi maka akan berdampak baik bagi alam," tuturnya.