Sukses

Emak-Emak di Sikka Mendadak Hobi Menjahit

Liputan6.com, Sikka - Selama pandemi Covid-19 sejak tahun 2020 lalu, peserta kursus menjahit yang dilaksanakan oleh Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) Christine,Maumere, Kabupaten Sikka,Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan.

“Sejak pandemi Corona tahun 2020 lalu, banyak yang mendaftar ikut kursus menjahit di tempat kami,” kata pemilik kursus menjahit LPK Christine di Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Christina Kayat saat ditemui di tempat kursusnya, Jumat siang (23/7/2021).

Christine bilang dua tahun sejak pandemi Corona banyak yang mulai ikut kursus menjahit bahkan peserta bisa mencapai 20 orang dalam setahunnya.

Banyaknya pendaftar membuatnya membagi peserta kursus dalam tiga shift, dari pagi jam 9.00 WITA sampai jam 20.00 WITA.

“Dalam seminggu minimal pertemuan empat kali dan minimal pertemuan empat jam setiap harinya tapi kalau ada peserta yang masih merasa kurang bisa menambah jam belajarnya dan saya tidak batasi. Saya harus mendampingi anak didik satu per satu dan setiap orang materinya berbeda setiap harinya,” ucap dia.

Perempuan yang akrab disapa Cristin ini menjelaskan, sebelum pandemi Covid-19 peserta kursus biasanya dari desa dan hanya mengambil kursus singkat saja selama sebulan atau bahkan hanya dua minggu saja. Pelatihan menjahit tingkat dasar teorinya ena, bulan harus selesai dengan jumlah pertemuan minimal 100 kali pertemuan.

“Tapi kalau ada yang masih mau menambah pengetahuan beberapa pertemuan lagi saya tidak keberatan.Tapi mereka harus memahami bahwa saya juga harus mengajar peserta yang baru,” ungkap

Di LPK miliknya, kursus dibagi 3 tingkatan yakni menjahit dasar, madya dan mahir dan yang membedakan ketiganya hanya dari bidang polanya saja.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Kursus Sambil Terima Order

Tetapi meskipun tingkat dasar, peserta kursus sudah bisa membuat produk dan sudah menerima jahitan sendiri. Bahkan ada yang baru ikut kursus selama sebulan sudah berani menerima order jahitan.

“Siswa saya beragam ada yang masih bersekolah di SMP, SMA bahkan karyawan pemerintah, karyawan swasta dan dokter. Motivasi mereka mengikuti kursus pun beragam,” ungkapnya.

Ada juga seorang dokter yang mengikuti kursus menjahit mengaku hendak membeli pakaian yang diinginkan tapi harganya mahal sehingga ia mengikuti kursus agar bisa menjahit sendiri. Banyak peserta kursus yang mengaku kecewa dengan hasil jahitan dari para penjahit yang tidak sesuai keinginan.

Ia menekankan, penjahit harus paham bagaimana cara menyamakan motif, meletakan motif agar tampak serasi dan indah.

“Harus ada pengetahuan seperti itu agar orang jangan merasa kecewa atas hasil jahitan kita.Peserta kursus dari karyawan kadang meminta waktu hari Sabtu atau Minggu dan saya pun tidak keberatan,” ujarnya.

Sementara, Ami Ipir salah satu peserta kursus menjahit, yang ditemui di tempat kursus mengaku dalam mengikuti kursus pihaknya mendapatkan pendampingan satu per satu di setiap materinya.

Selain teori, peserta kursus lebih banyak praktik langsung dengan pengawasan dari pemilik lembaga kursus dan asistennya sehingga bisa langsung memperbaiki kesalahan.

“Selain bisa langsung praktik dengan didampingi oleh pemilik lembaga kursus,fasilitas yang ada di lembaga kursus ini pun tergolong lengkap.Kita bisa langsung menjahit aneka pakaian dan langsung dicek hasilnya,” ucapnya.

3 dari 3 halaman

Simak Juga Video Pilihan Berikut: