Sukses

Rayuan dan Jeratan Para Muncikari di Palembang (1)

Liputan6.com, Palembang - Hiruk-pikuk suara anak-anak bermain, lalu lalang sepeda motor hingga obrolan ringan ibu-ibu berbelanja di warung pinggir jalan, mewarnai permukiman rumah susun (rusun) di Jalan Radial Kelurahan 26 Ilir Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), dari pagi hingga sore hari, di hari Selasa (16/3/2021).

Namun di malam hari, canda tawa anak-anak hingga cengkrama warga sekitar sirna. Ada aktivitas rutin lain yang menyelimuti kawasan rusun, yang terletak di perkotaan Palembang Sumsel.

Rusun 26 Ilir Palembang yang acapkali sering disebut permukiman kumuh di Kota Palembang, juga menjadi lokasi bisnis prostitusi terselubung para pekerja seks komersial (PSK). Bisnis tersebut dilakoni warga lokal hingga imigran internal di Sumsel.

AT (50), nama samaran, atau sering dipanggil Mami AT, merupakan salah satu muncikari senior yang cukup terkenal di Rusun 26 Ilir Palembang. Lebih dari 20 tahun, Mami AT menjalani bisnis prostitusi di rusun.

Mami AT menceritakan bagaimana dia menjalani bisnis prostitusi tersebut. Sekitar tahun 2000-an, mojang Sunda ini hijrah dari Kota Bandung Jawa Barat (Jabar) ke Kota Palembang mengikuti saudaranya.

Karena tidak mendapatkan pekerjaan tetap, Mami AT akhirnya memilih untuk menjadi PSK di rusun. Bermodalnya paras cantik, kulit kuning langsat cerah dan tubuh langsing, Mami AT dengan mudah menggaet para pelanggannya.

Beberapa tahun menjadi wanita hiburan, pergaulan Mami AT di bisnis prostitusi ini semakin berkembang. Sampai akhirnya, dia berkenalan dengan seseorang di kampung halamannya, yang menyediakan gadis muda untuk dijadikan anak asuhnya.

“Teman saya di Bandung bertugas menyalurkan gadis muda asal Tasikmalaya dan Bandung Jabar. Tapi terkadang tidak setiap tahun, tergantung ada tidaknya stok perempuan yang mau dikirim ke sini,” katanya kepada seseorang yang dia percayai, pada Selasa (16/3/2021) malam, ketika ditemui di salah satu blok rusun di 26 Ilir Palembang.

Para gadis muda tersebut dijanjikan penyalur di Bandung, dengan berbagai jenis pekerjaan di Kota Palembang. Mulai dari pramusaji rumah makan, pembantu rumah tangga, hingga ada juga yang benar-benar berniat untuk menjadi PSK di Palembang.

Setelah para gadis tersebut sampai ke Kota Palembang, Mami AT langsung mengirim sejumlah uang sebagai biaya upah bagi penyalur. Namun dia enggan menyebutkan, berapa jumlah biaya yang disetor ke penyalur tersebut.

Gadis-gadis yang diantar ke Kota Palembang, langsung ditempatkan di sebuah rumah di rusun dan disambut dengan ramah oleh Mami AT.

 

 

2 dari 5 halaman

TPPO Pekerja Seks

Bisnis prostitusi di rumah susun di Kota Palembang ini, menjadi gambaran suramnya kondisi para perempuan di Indonesia. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) mendata, ada 509 kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) pekerja seks yang terdata dari tahun 2011-2013. Lalu di tahun 2015-2019, kasus TPPO pekerja seks yang terdata sebanyak 297 kasus.

Bahkan di tingkat internasional, Global Report on Trafficking in Person di Asia Pasifik yang dikeluarkan PBB di tahun 2014 mendata, ada 36 persen korban TPPO merupakan anak-anak, sedangkan 64 persen sisanya adalah orang dewasa.

Di tengah tingginya angka kasus TPPO di Indonesia, International Organization for Migration (IOM) juga turut mengidentifikasi dan mendampingi sebanyak 759 orang korban dalam kategori forced prostitution atau prostitusi paksa.

IOM mendampingi ratusan korban prostitusi paksa dalam kurun waktu 2005 hingga 2020. Di mana, para korban didominasi dari daerah asal Jabar, Kalimantan Barat (Kalbar) dan Sumatera Utara (Sumut). Dengan daerah tujuan Malaysia, Kepulauan Riau (Kepri) dan Sumut.

Di Provinsi Sumsel, temuan Women’s Crisis Centre (WCC) Palembang sendiri semakin menguatkan buruknya kondisi para perempuan yang terjerumus bisnis prostitusi.

 

3 dari 5 halaman

Janji Manis Muncikari

Direktur WCC Palembang Yeni Roslaini mengungkapkan, para perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia atau human trafficking di Sumsel, diiming-imingi pekerjaan berpenghasilan besar oleh para penyalur ilegal.

“Modusnya ditawari kerja di rumah makan hingga pembantu rumah tangga. Ada perempuan dari luar Sumatra, seperti dari Sukabumi, Cianjur dan kawasan lain di Jawa Barat. Ada juga yang dari Jakarta hingga Sulawesi,” katanya kepada Liputan6.com.

Para korban TPPO tersebut, akhirnya dipekerjakan sebagai PSK di pusat hiburan malam di Kota Palembang. Bahkan, WCC Palembang pernah melaporkan, adanya salah satu rumah yang menjadi tempat penampungan para gadis dari luar daerah.

Hal tersebut terbongkar, ketika salah satu korban berhasil melarikan diri dari rumah tersebut. Dari pengakuan korban, para perempuan yang diinapkan di rumah tersebut, diperlakukan secara tidak layak.

Sama halnya dengan kasus-kasus TPPO di Sumsel, para perempuan yang direkrut Mami AT pun, hanya bisa meneguk janji manis tanpa realisasi.

4 dari 5 halaman

Jeratan Utang

Pekerjaan halal yang diumbar saat akan berangkat pun, tinggal asa semata. Mereka malah dipekerjakan di tempat hiburan, seperti diskotek, billiar hingga karaoke.

Para gadis belia tersebut, hanya bisa pasrah dan harus menuruti keinginan Mami AT. Terlebih mereka dibebankan dengan utang-piutang, selama hijrah dari kampung halamannya ke Palembang hingga biaya hidup di Kota Palembang.

“Jadi sistemnya utang, mereka harus membayar ke saya. Mau tidak mau, mereka harus bekerja dan menyetor ke saya sampai utangnya lunas,” ujarnya.

Mami AT mempunyai cara khusus untuk meyakinkan anak didiknya, agar betah bekerja sebagai PSK di Kota Palembang. Seperti, uang dari pelanggan yang sudah dilayani, semuanya diserahkan ke anak asuhnya.

Bahkan cara itu dilakukan Mami AT beberapa kali, agar para gadis yang terlanjur terjerat, merasa nyaman dengan upah yang menggiurkan.

 

Baca Berita SelanjutnyaRayuan dan Jeratan Para Muncikari di Palembang (2)

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini :