Sukses

Dedikasi Guru di Kutai Kartanegara, Keliling Kawasan Terpencil demi Akses Teknologi Informasi

Liputan6.com, Kutai Kartanegara - Ponsel Suwito berdering. Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara itu bergegas mengangkat panggilan tersebut.

Saat itu, pertengahan tahun 2018, sedang digelar Ujian Nasional Berbasis Kompetensi (UNBK). Suwito dan beberapa guru lainnya ditunjuk sebagai tim teknis yang menangani ujian nasional itu.

Rupanya, ada sekolah di kecamatan lain yang saat itu tidak bisa mengakses soal ujian karena terkendala jaringan internet. Tanpa menunggu, Suwito bergegas berangkat.

“Begitu kami sampai, yang pertama kami lakukan adalah mencari titik di mana sinyal internetnya kuat,” kenang Suwito saat ditemui di Kecamatan Sebulu, Selasa (24/11/2020).

Setelah berkeliling kompleks sekolah itu, lokasi sinyal terbaik tak kunjung ditemukan. Tiang bendera yang tinggi di depan sekolah menarik perhatiannya.

“Tak ada pilihan lain, benderanya kita turunkan, modemnya dinaikkan. Alhamdulillah ujiannya lancar,” katanya.

Persoalan akses internet di Kabupaten Kutai Kartanegara adalah persoalan tersendiri mengingat wilayah yang sangat luas. Titik-titik blank spot masih sangat banyak.

“Itu tantangan kita dalam hal pembelajaran jarak jauh, tak semua daerah bisa,” ungkap Suwito.

2 dari 7 halaman

Berjuang Mengedukasi Guru

Kabupaten Kutai Kartanegara harus diakui masih memiliki banyak kawasan yang terpencil dan terisolir. Banyak guru yang kemudian kesulitan mengakses belajar teknologi informasi.

Suwito kemudian tergerak untuk mengatasi kekurangan itu. Bersama dua rekannya, Slamet Widodo dan Imam Mashudi, mereka sepakat untuk memberikan edukasi itu.

Mereka bertiga kemudian berkeliling kabupaten yang luasnya setara negara Belgia itu. Mereka berharap, semua guru bisa melek teknologi informasi.

“Ini sebenarnya panggilan hati. Kok teman-teman guru segini saja, tidak maju-maju khususnya di bidang IT. Kita melas banget melihatnya,” ujar Suwito bercerita.

Satu per satu sekolah maupun guru yang ingin belajar teknologi itu memanggil mereka. Tanpa dibayar, ketiga orang ini berangkat ke sekolah yang dituju.

Meski terpencil, karena panggilan hati, ketiganya dengan semangat mengajarkan semua hal tentang upaya mendukung proses pembelajaran. Beberapa kawasan bahkan ada yang tanpa sinyal seluler sama sekali.

“Kadang sedih melihat kondisi guru-guru di kawasan itu, namun itu yang memotivasi kita untuk membantu mereka,” kenang Suwito.

Semua yang berbau Teknologi Informasi, sambung Suwito, mereka siap membantu kapan saja. Apalagi, proses pembelajaran saat ini sudah mulai mensyaratkan perkembangan teknologi itu.

“Meski terpencil, tidak ada alasan untuk tidak mempelajari itu,” sebutnya.

Untuk daerah tanpa sinyal, Suwito dan kawan-kawan menyarankan menggunakan router. Sehingga akses jaringan lokal masih bisa diterapkan untuk ujian maupun pembelajaran.

“Hanya saja terkendala biaya. Kami paham, sekolah terpencil itu sangat sulit membiayai hal lain karena pasti dana operasional sekolah tak cukup,” katanya.

Selain soal panggilan hati, Suwito dan dua rekannya merasa masih ada waktu yang bisa diisi untuk hal yang bermanfaat. Mereka yang memahami teknologi pembelajaran kemudian terpanggil mengisi waktu kosong itu untuk mengedukasi guru-guru lainnya.

“Kami kemudian bersepakat, ayo kita luangkan waktu bersama-sama, apa yang bisa kita buat,” tambahnya.

3 dari 7 halaman

Belajar Pegang Mouse

Banyak kejadian unik saat Suwito, Slamet Widodo, dan Imam Mashudi memulai tekad mereka. Selain akses jalan yang berat dan jauh, mereka juga harus menghadapi kenyataan jika banyak guru yang pegang komputer saja tidak pernah.

“Di satu desa, ada guru yang bahkan harus kami ajari cara pegang mouse,” katanya seraya tersenyum.

Antara miris dan kasihan, Suwito kemudian mengajari secara perlahan. Meski tujuan kedatangannya bukan untuk itu, namun panggilan hati membuatnya harus mengajari guru dari nol.

“Artinya ini dasar sekali. Bagaimana kita mau lanjut (pelatihan tekonologi informasi) kalau yang dasar saja belum,” tambahnya.

Meski demikian, Suwito dan dua rekannya makin memahami kondisi itu. Sebab beberapa guru memang sudah berusia lanjut atau saat kuliah kependidikan masih belum mempelajari komputer,

“Kita sadar, banyak hal yang harus dilakukan agar tenaga pendidik bisa maju. Itu semakin memotivasi kami,” kata Suwito.

Di sebuah desa, kenang Suwito, ada desa yang tidak ada sinyal telekomunikasi sama sekali tapi minta diupayakan pembelajaran jarak jauh. Ketiganya langsung mengerutkan dahi.

“Pak di sini tidak ada listrik, tidak ada sinyal, kami mau pakai Google Meet, Google Form,” ujar Suwito menirukan laporan dari guru di desa tersebut.

Tentu saja, ketiganya tersenyum miris. Namun hal itu bukan menjadi hambatan, malah makin membuat ketiganya tertantang mengatasinya.

4 dari 7 halaman

Bikin Aplikasi Ujian Daring

Pertemuan tiga guru ini dalam satu cita-cita bersama juga menghasilkan karya. Berawal dari perjuangan mencerdaskan tenaga pendidik di bidang teknologi informasi membuat mereka harus menemukan solusi lain.

Pertemuan ketiganya semakin intens, baik di perjalanan menuju sekolah yang dituju, maupun di obrolan warung kopi. Pertemuan yang rutin, obrolan yang semakin panjang, membuat mereka sepakat untuk membantu dunia pendidikan di Kutai Kartanegara.

“Ketemulah formula membuat aplikasi ujian daring yang bisa dilaksanakan oleh sekolah maupun guru bidang studi,” ujar Suwito.

Tujuannya untuk membantu guru dalam memberikan ujian, menganalisa soal, dan memudahkan pemberian nilai. Aplikasi ini akan sangat memudahkan guru mengingat tugas mereka semakin banyak.

“Untuk ujian, guru biasanya disibukkan dengan membuat soal, bikin pra ujian, setelah ujian mengoreksi, mengevaluasi soal. Guru harus kerja ekstra,” katanya.

Di aplikasi yang mereka bikin, tinggal menempel di domain milik sekolah tersebut. Aplikasi ini membantu guru mengukur kredit skor soal mereka, memberikan ujian dalam rentang waktu tertentu, hingga menilai hasil ujian siswa.

“Aplikasi ini membuat guru bisa mengetahui kualitas soal mereka, apakah membuat siswa berfikir atau tidak,” sebutnya.

5 dari 7 halaman

14 Tahun Mengajar Tapi Belum PNS

Suwito menamatkan pendidikan tingginya di sebuah universitas swasta di Cirebon, Jawa Barat. Sejak tahun 2006, Suwito mengabdikan diri menjadi guru di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Selama 14 tahun mengajar Bahasa Inggris, dia masih berstatus tenaga honorer sampai hari ini. Begitu pula dua rekannya yang lain, Slamet Widodo dan Imam Mashudi.

“Kalau ditanya mau tidak jadi PNS, siapa sih yang tidak mau. Kebanyakan yang memilih menjadi guru, ujung-ujungnya pasti ingin ke sana,” katanya parau.

Meski demikian, dia tidak berharap banyak dengan status itu. Sebab, jika diharapkan berlebihan, dia khawatir akan sangat kecewa dan patah semangat.

“Kami berkarya saja. Bagi saya, ketika orang merasa sangat terbantu dengan apa yang kami buat, itu sudah sebuah kebahagiaan luar biasa,” ujar ayah dari tiga orang anak ini.

Selebihnya, soal status PNS, itu hanya bonus baginya. Apalagi upayanya saat ini dalam mengedukasi guru di berbagai wilayah di Kutai Kartanegara, makin membuatnya mengenal banyak orang.

“Silaturahmi makin panjang, teman makin banyak. Jadi kalau minum kopi di mana saja ada temannya, kalau ban sepeda motor bocor banyak yang bisa dihubungi untuk membantu,” katanya diakhiri dengan tawa lepas.

Suwito dan dua rekannya itu malah sering jadi tenaga teknis dalam ujian tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Mereka bertugas memastikan ujian daring itu berjalan lancar.

Kondisi ini tentu membuat kita miris mendengarnya. Pengabdian yang panjang, tapi dihadapkan pada situasi yang menyedihkan.

Untuk menambah pendapatan, Suwito membuka kursus komputer di kawasan Sebulu Modern, Kecamatan Sebulu. Dia menyewa bangunan kayu dua tingkat untuk disulap menjadi tempat kursus.

Suwito berkelakar, seandainya jasa yang mereka berikan untuk guru dan sekolah di bidang teknologi informasi dijadikan lahan bisnis, mereka bisa saja kaya raya saat ini. Tapi jalan itu tidak mereka diambil.

“Kami guru dan memahami kondisi guru dan sekolah. Berapa sih dana BOS mereka? Sangat kecil. Rasanya kami kurang ajar sekali kalau itu dibisniskan,” tegas Suwito.

6 dari 7 halaman

Guru Berdedikasi

Kepala Seksi Kurikulum dan Pengembangan Mutu SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara, Emy Rosana Saleh, mengapresiasi luar biasa pengabdian tenaga pendidik seperti Suwito, Imam Mashudi, dan Slamet Widodo.

“Mereka itu luar biasa. Mereka itu asetnya Kutai Kartanegara. Kita membutuhkan orang-orang yang dedikasinya seperti pak Suwito. Kami menghargai usaha mereka,” kata Emy.

Apalagi, tambahnya, apa yang Suwito dan teman-temannya lakukan saat ini, efeknya luar biasa bagi dunia pendidikan di Kutai Kartanegara. Bagi Emy, guru seperti ketiganya mampu menerjemahkan tantangan zaman.

“Guru akhirnya familiar dengan teknologi. Dan apa yang mereka lakukan berdampak luas bagi dunia pendidikan,” sambung Emy.

Soal status PNS, Emy mengaku ini sesuatu yang dilematis. Sebab, kewenangan pemerintah kabupaten hanya sebatas mengangkat Tenaga Harian Lepas (THL)

“Kewenangan penerimaan PNS itu ada di pusat. Di daerah tidak semudah itu mengangkat PNS. Kami ini banyak kekurangan guru,” sebutnya.

Dia bercerita, ada satu sekolah di Kutai Kartanegara yang berstatus PNS hanya kepala sekolahnya. Kewenangan itu yang membuat Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara tak bisa berbuat banyak mengapresiasi pengabdian guru berdedikasi seperti Suwito dan kawan-kawan.

“Harapan saya, daerah itu didengar, kesulitannya diatasi. Saya yakin BKD itu sudah melaporkan kekurangan guru di Kutai Kartanegara,” tambahnya.

Meski demikian, Kabupaten Kutai Kartanegara patut bangga memiliki guru seperti Suwito, Imam Mashudi, dan Slamet Widodo. Dedikasi dan pembuktian ketiganya dalam pengabdian sebagai guru sudah dibuktikan hingga saat ini.

Selamat Hari Guru, pahlawan tanpa tanda jasa!

7 dari 7 halaman

Simak juga video pilihan berikut