Sukses

Ridwan Kamil: Perusuh Demo di Bandung 100 Persen Bukan Buruh

Liputan6.com, Bandung - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan, kericuhan yang terjadi dalam unjuk rasa di Bandung beberapa hari terakhir hingga menyebabkan perusakan fasilitas umum, bukan dilakukan kalangan buruh.

Diketahui, unjuk rasa dilakukan massa aksi buruh menolak Omnibus Law UU Cipta di Bandung, sejak Selasa (6/10/2020). Mereka meminta agar UU Cipta Kerja dibatalkan pemerintah. Ridwan pun telah menemui perwakilan buruh yang menggelar unjuk rasa di Gedung Sate pada Kamis (8/10/2020).

"Tadi buruh menyatakan bahwa mereka menyampaikan aspirasi, murni dan tidak mau ditunggangi oleh pihak lain. Jadi mereka merasa tidak bertanggung jawab terhadap hal-hal anarkisme, kerusuhan yang terjadi di hari sebelumnya karena dalam pandangan mereka itu 100 persen bukan perwakilan buruh," katanya.

Selama dua hari berturut-turut unjuk rasa di Bandung, 6-7 Oktober, sudah 209 orang diamankan Polrestabes Bandung. Simpatisan yang mendukung penolakan UU Cipta Kerja itu diduga melakukan tindakan anarkis.

Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap ratusan orang yang diduga sebagai perusuh tersebut. Selain itu, mereka juga menjalani rapid test di Mapolrestabes Bandung. Hasilnya, 13 orang dinyatakan reaktif dan akan menjalani swab test di RS Sartika Asih.

"Saya cek kepada Kapolda juga bahwa yang ditahan karena melakukan kerusakan itu ternyata 100 persen bukan dari pihak buruh. Dan saya sampaikan sesuai dengan protap Covid-19 mereka ini langsung dilakukan tes Covid-19," ucap Emil, panggilan Ridwan Kamil.

2 dari 3 halaman

Kelompok Misterius

Adapun demonstrasi tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja hari ketiga, Kamis (8/10/2020) di depan Gedung Sate, kembali ricuh. Aksi pelemparan sempat mewarnai unjuk rasa.

Terdapat beberapa perusuh yang berhasil diamankan. Mereka kemudian dibawa ke pos satpam dan ada juga yang langsung dibawa ke sudut-sudut yang ada di sekitar Gedung Sate.

Menurut Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Ulung Sampurna Jaya, massa yang melakukan pelemparan ke petugas bukan berasal dari kalangan buruh dan mahasiswa.

"Itu kelompok di luar mahasiswa dan buruh," ucapnya.

Ulung menuturkan, massa mulai melakukan pelemparan setelah kelompok buruh selesai melakukan demo di depan Gedung Sate. Menurutnya, massa di luar buruh dan mahasiswa itu lantas diduga memancing keributan.

"Mereka sengaja mencari momen itu sudah selesai. Kemudian mereka mencari situasi untuk membuat rusuh dan memancing emosi dari petugas, oleh karenanya kita tidak terpancing dan kita tetap bertahan," katanya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini