Sukses

Kisah Perempuan Petugas Evakuasi Pasien Covid-19, Soal Hidup dan Mati Urusan Tuhan

Liputan6.com, Samarinda - Siang yang terik, Luri Estyani Syarifudin, seorang petugas BPBD Kota Samarinda, sudah mengenakan wearpack miliknya. Pakaian khusus untuk keselamatan kerja itu ditutupinya lagi dengan jas hujan plastik.

Secara telaten, perempuan yang lahir pada 5 Desember 1991 itu memasangkan Alat Pelindung Diri (APD) untuk empat rekannya. Mereka sedang bersiap mengevakuasi seorang pasien dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 untuk diisolasi di rumah sakit rujukan.

Bulir-bulir keringat menetes perlahan. Hawa panas khas kawasan katulistiwa harus dilawan sekuat mungkin.

Seorang pasien yang dinyatakan positif hasil rapid test harus mereka jemput. Padahal pasien ini sudah sempat masuk ruang isolasi RSUD AW Syahranie Samarinda.

Sehari sebelumnya, pasien tersebut sempat dipulangkan karena mengancam petugas medis dengan pecahan kaca jendela. Namun, upaya mengembalikan ke ruang isolasi sedikit terhambat.

“Atas permintaan atasan, kita jemput lagi dan harus dibawa kembali ke rumah sakit,” kata Luri menceritakan pengalamannya kepada liputan6.com, Selasa (21/4/2020).

Ada empat orang tim evakuasi yang harus dipakaikan APD lengkap sesuai protokol penanganan pasien Covid-19. Tak boleh ada celah. Resikonya, mereka bisa ikut tertular.

Luri bekerja secara perlahan memasang baju hazmat. Kemudian memasang sarung tangan lateks dan handskun hingga tiga lapis. Tak lupa, dia juga harus memasang lakban di setiap celah yang ada.

“Di tim ini tugas saya sebagai assist yang membantu empat anggota tim lainnya menyiapkan proses evakuasi. Mereka tidak boleh menyentuh apapun selama proses pemasangan APD karena itu tugas saya,” sebutnya.

Luri bercerita, setelah memasang baju hazmat, petugas evakuasi dipasangkan lagi jas hujan plastik. Kemudian celah yang ada dipasang lakban kembali. Tak lupa Yuri juga memasang pelindung full face ke wajah tim evakuasi.

Setelah semua lengkap, ternyata pasien tidak bisa langsung dijemput. Butuh negosiasi agar yang bersangkutan mau kembali ke ruang isolasi rumah sakit.

“Bisa dibayangkan bagaimana kondisi kami, di tengah panas terik, kami harus menunggu pasien agar bersedia kami bawa,” kata alumni Teknik Sipil, Universitas Mulawarman ini seraya tertawa.

Itu salah satu kisah Luri saat mengevakuasi pasien yang sedikit bandel karena menolak diisolasi. Rasa cemas tertular, hingga harus melawan udara panas sudah menjadi bagian dari keseharian tim evakuasi.

2 dari 6 halaman

Meminimalisir Resiko Tertular

Setelah memasangkan APD lengkap, Yuri harus tetap siaga di samping mobil komando. Dia harus memperhatikan empat rekannya yang masuk ke dalam rumah pasien Covid-19 dan siap mengantar jika ada sesuatu yang dibutuhkan.

Saat proses menjemput pasien, waktu yang dibutuhkan kadang tidak tentu. Jika waktunya lama, di situlah ujian mental bagi tim evakuasi.

Baju APD yang terpasang tentu menyiksa. Namun hanya dengan cara itu, potensi tertular menjadi sangat kecil.

“Setelah penjemputan selesai, saya harus lepas perlahan-lahan supaya tidak ada kebocoran, memastikan mereka tidak menyentuh apapun,” kata Yuri.

Prosesnya hampir mirip dengan pemasangan, hanya saja harus ada tahap sterilisasi di setiap tahapan pelepasan APD. Hal ini untuk memastikan tidak ada virus yang menempel.

“Begitu datang kita semprot sanitizer, buka jas hujan semprot lagi, buka hazmat semprot lagi, buka lateks juga disemprot lagi, buka handskun semprot lagi,” papar Yuri.

Seluruh pakaian pelindung yang mereka kenakan langsung dikumpulkan dan dibakar saat itu juga. Tidak boleh ada barang yang dibawa kembali ke markas BPBD Kota Samarinda.

3 dari 6 halaman

Satu-satunya Perempuan

Untuk mengantisipasi penularan Covid-19, BPBD Kota Samarinda membentuk tim khusus yang bertugas mengevakuasi pasien Covid-19. Tim ini terdiri dari tujuh orang. Salah satunya adalah, Luri Estyani Syarifudin.

Dia perempuan satu-satunya di tim evakuasi yang harus siaga selama 24 jam. Tak ada waktu untuk bersantai selama masa pandemi Covid-19 masih berlangsung.

“Tugas tim ini itu ada tiga, penyemprotan disinfektan, patroli untuk himbauan, dan evakuasi,” kata Luri.

Tugas utamanya tentu saja mengevakuasi pasien Covid-19 untuk dibawa ke rumah sakit atau ke tempat karantina lainnya. Jika ada pasien meninggal dan harus dikubur sesuai protokol Covid-19, Luri dan rekan-rekannya yang melaksanakan penguburan.

“Jika tidak ada evakuasi, tugas harian kami itu penyemprotan disinfektan dan patroli rutin memberikan himbauan kepada masyarakat agar tidak berkumpul di café atau warung kopi,” katanya.

Dari ketujuh orang ini, empat orang bertugas mengevakuasi pasien hingga ke dalam rumah. Dua petugas lainnya membantu perlengkapan evakuasi dan memasangkan APD. Sedangkan satu orang lagi bertugas sebagai helper.

“Tim evakuasi yang bersentuhan langsung dengan pasien, saya juga yang terakhir bersentuhan dengan tim evakuasi. Perlengkapan sudah saya siapkan duluan, dan tugas saya sampai melepas dan mensterilkan perlengkapan itu,” ujarnya.

4 dari 6 halaman

Berserah Diri Pada Tuhan

Menjadi tim evakuasi yang bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 tentu menimbulkan rasa cemas. Biasanya, rasa cemas itu bisa dilawan dengan berserah diri pada tuhan.

“Kita sudah berikhtiar semampu kita, menggunakan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, selebihnya kita serahkan pada tuhan,” kata Luri yang masih berstatus pegawai honorer di BPBD Kota Samarinda.

Saat jumlah pasien mulai meningkat, Yuri bersama tim evakuasi lainnya memilih tidak pulang ke rumah. Interaksi dengan pasien suspek Covid-19 mulai sering seiring bertambahnya laporan pasien yang harus dievakuasi.

“Sudah sembilan hari saya tidak pulang ke rumah karena kalau pulang juga tetap disuruh stand by 24 jam, handphone harus selalu nyala, lagipula kita juga sayang keluarga sehingga takut mereka tertular,” ungkapnya.

Yuri juga harus memastikan perlengkapan tim sudah lengkap dan sesuai standar. Jika tidak lengkap atau tidak memenuhi standar, mereka menolak untuk mengambil tindakan apapun.

Jika kemudian akhirnya terjangkit, Yuri mengaku pasrah. Dia tidak mempersoalkan itu meski harus kehilangan nyawa.

“Kalau misalnya saya terjangkit, bahkan sampai meninggal dunia, saya serahkan kepada tuhan,” kata putri pasangan Dino Syarifudin dan Hadijah ini.

Meski perempuan, Luri sangat bangga dengan tugasnya saat ini. Zona merah penularan Covid-19 sudah menjadi bagian kesehariannya. Dia juga berharap pandemi segera berakhir.

5 dari 6 halaman

Panggilan Hati

Memilih jalan yang penuh resiko tentu hanya dilakukan oleh orang-orang pilihan. Tidak semua orang bersedia memilih berada di posisi yang seharusnya bisa dihindari.

Itu pula yang dirasakan Luri Estyani Syarifudin. Dia menyebut tugasnya saat ini sebagai panggilan hati.

“Saya melakukan semua kegiatan ini karena panggilan hati,” ungkapnya.

Luri mengaku, posisinya saat ini di tengah pandemi Covid-19 adalah sebagai bentuk aktualisasi diri sebagai seorang manusia. Bergabung bersama tim evakuasi membuatnya bisa membantu banyak orang.

“Selama badan saya masih mampu untuk membantu orang, saya gunakan badan saya untuk bantu mereka. Semua orang bisa melakukan, tapi untuk panggilan hati, tidak semua bisa,” kata Luri.

Di tengah pandemi Covid-19, semua orang bisa menjalankan perannya masing-masing. Peran tersebut tidak memandang gender.

“Kita bisa terinspirasi oleh siapa saja. Pandemi ini butuh kerjasama semua orang, semua pihak. Covid-19 bisa dilawan dengan kebersamaan,” ujarnya.

Kota Samarinda saat ini sedang memasuki fase puncak kurva epidemiologi. Berdasarkan analisa dan prediksi Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dalam beberapa pekan ke depan, jumlah pasien Covid-19 akan meningkat drastis.

Luri tentu sudah memikirkan baik-baik hal itu. Terbayang tugas yang akan semakin berat.

Semilir angin berhembus diantara celah-celah dinding kamar istirahatnya di Kantor BPBD Kota Samarinda. Luri merebahkan tubuhnya dan tidur menyamping seperti seekor udang.

Sebuah jaket dipeluknya erat. Dia butuh istirahat sejenak di atas tikar sederhana, seraya menunggu panggilan tugas berikutnya.

Sebelum memejamkan mata, Luri berdoa agar tidak ada korban Covid-19 yang meninggal dunia di Kota Samarinda. Sebab, dia tak ingin ada prosesi pemakaman, meski itu juga menjadi tugasnya nanti. 

6 dari 6 halaman

Simak juga video pilihan berikut