Sukses

Pakar Epidemiologi Sarankan 4 Strategi Cegah Penyebaran Covid-19 di Daerah

Liputan6.com, Jakarta - Jumlah orang Indonesia yang terpapar virus corona Covid-19 semakin meningkat. Data per hari Minggu, 29 Maret 2020, jumlah orang positif virus corona sudah 1.285 orang dengan angka kematian 114 orang dan sembuh 64 orang. Bahkan kasus virus corona sudah masuk di 30 provinsi di Indonesia. 

Pemerintah sudah melakukan berbagai langkah, setidaknya untuk memperlambat laju penyebaran virus corona di Indonesia. Gugus Tugas Pecerpatan Penaggulangan Covid-19 sudah dibuat, tim pakar pendamping sudah memberi masukan. Strategi utama, yaitu Social Distancing sudah diterapkan, desentralisasi laboratorium sudah dijalankan.

Rapid test juga sudah diujikan, rumah sakit khusus Covid-19 di Kemayoran, Jakarta, sudah berfungsi, sebentar lagi di Pulau Galang. Bahkan pemerintah daerah juga melakukan langkah yang sama dengan mengalihfungsi bangunan menjadi rumah sakit darurat Covid-19. Yang terbaru, pemerintah bahkan sudah mulai tegas dengan membubarkan paksa kerumunan, melarang orang mudik, dan pemberlakukan karantina wilayah di daerah-daerah tertentu. 

Lalu strategi apa yang kemudian harus dilakukan di daerah? Pakar Epidemologi yang juga Pengamat Kesehatan UI, Syahrial Syarif kepada Liputan6.com, Senin (30/3/2020) mengatakan, banyak strategi yang bisa dilakukan untuk menghadapi wabah virus corona Covid-19, namun yang diperlukan sekarang adalah strategi yang mampu memberikan dampak bermakna pada pencegahan penularan, mampu mengatasi kekurangan kebutuhan fasilitas kesehatan, mampu mengurangi dampak sosial-ekonomi yang terjadi, dan berdasarkan pada sistem dan sumber daya yang ada. 

"Strategi pertama bisa penanganan penanggulangan berbasis kabupaten/kota. Keberhasilan penanggulangan Covid-19 sangat tergantung pada manajemen kendali di tingkat kabupaten/kota. Sumber daya dan rentang kendali manajemen memungkinkan. Saat ini tampak peran gubernur, terutama di Jawa sangat kentara," katanya.

Strategi berikutnya yang bisa dijalankan adalah penyediaan tiga jenis fasilitas kesehatan dengan kebutuhan yang berbeda, pertama, pusat karantina untuk merawat ODP dan PDP. Kedua, pembangunan RS khusus Covid-19 untuk merawat kasus konfirmasi dengan gejala ringan dan sedang. Ketiga, RS rujukan untuk kasus konfirmasi dengan gejala klinis serius hingga berat. Pusat karantina bisa menggunakan alihfungsi gedung-gedung yang ada.

"Penemuan kasus sedini mungkin juga penting dengan Rapid test pada orang dengan suhu lebih atau sama dengan 38 derajat, OTG, ODP dan PDP serta perluasan pemeriksaan diagnostik. Perlu jadi catatan, pembiayaan tidak boleh menjadi hambatan," katanya.

Berikutnya strategi pembentukan Desa Siaga Covid-19 di bawah kendali manajemen kabupaten/kota. Untuk wilayah perkotaan, kata Syahrial, dapat dibentuk RT siaga covid-19, di desa bisa menyesuaikan. Satuan tugas tingkat desa ini membutuhkan banyak tenaga pendukung, kehadiran kader atau tenaga relawan sangat dibutuhkan.

"Fungsi terpenting adalah memantau status demam harian warga, memberi arahan istirahat di rumah, memantau pergerakan warga, membantu proses diagnostik dini, membantu proses rujukan dan memantau status suhu Orang Tanpa Gejala (OTG) yang berasal dari daerah tertular. Proses pemantauan dapat memanfaatkan kemajuan internet atau menggunakan instrumen sederhana berupa simbol status kesehatan." katanya.

Penerapan beragam strategi tersebut, kata Syahrial, tidak bisa dipisahkan dengan langkah pembatasan mobilitas umum. Catatan penting yang juga perlu dipertimbangkan adalah, apapun langkah strategis yang akan dilakukan, termasuk opsi karantina wilayah, hendaknya mampu meminimalkan dampak sosial ekonomi masyarakat.

"Karena ancaman kematian Covid-19 tidak lebih menakutkan dibanding dengan tidak adanya uang untuk makan bagi anak2nya pada hari itu," katanya. 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini: