Sukses

Meredam Penyebaran Corona, Aturan Ketat Wisata ke Candi di Yogyakarta Diberlakukan

Liputan6.com, Yogyakarta PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero) menerapkan protokol untuk mencegah penyebaran virus corona (COVID-19) di kalangan wisatawan. Protokol itu dibuat setelah melewati tahap penjelasan dari dokter ke internal TWC.

"Kami akhirnya membuat standard operational procedure (SOP) untuk pencegahan," ujar Edi Setijono, Direktur Utama (Dirut) PT TWC, Jumat (13/3/2020).

Ia menyebutkan, sejumlah langkah yang sudah dilakukan, meliputi, pemasangan banner yang berisi informasi pencegahan dan bahaya virus corona, pengukuran suhu tubuh wisatawan, serta pengumuman seputar virus corona dari radio TWC, serta penyediaan ambulans yang siaga selama objek wisata beroperasi.

Pengukuran suhu tubuh dilakukan di pintu masuk candi setelah pengunjung membeli tiket masuk.

Wisatawan dengan suhu tubuh 38 derajat Celcius atau lebih akan dibawa ke klinik untuk mendapat diagnosis. Tidak menutup kemungkinan wisatawan  akan diujuk ke rumah sakit untuk penanangan lebih lanjut.

"Sementara, secara periodik, radio TWC menyiarkan informasi untuk meningkatkan kesadaran pengunjung dalam mencegah penyebaran virus corona," ucapnya.

Selain cuci tangan sebelum makan, pengunjung juga dingatkan untuk tidak menbuang masker dan tisu sembarangan serta menjaga stamina dengan beristirahat untuk mencegah terkena virus corona. Objek wisata candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko yang luas biasanya membuat pengunjung merasa lelah setelah berjalan sekitar dua jam.

2 dari 2 halaman

Penurunan Jumlah Pengunjung

Edi tidak menampik terjadi penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko sejak awal tahun atau pasca meluasnya virus corona.

"Ada penurunan wisatawan hampir 40,8 persen dari target kunjungan wisatawan," kata Edi.

Meskipun demikian, ia berusaha optimistis kondisi ini bisa pulih dalam satu sampai tiga bulan mendatang. Salah satu alasannya, pemerintah telah mengumumkan penambahan hari libur nasional.

Menurut Edi, objek wisata dalam negeri untuk sementara waktu bergantung kepada wisatawan nusantara. Sebab, tidak mungkin mengharapkan wisatawan mancanegara di sela-sela pembatasan penerbangan pasca wabah corona.

"Pariwisata tetap harus bergerak karena imbasnya banyak, seperti penginapan, toko oleh-oleh, makanan, dan sebagainya," ucapnya.