Sukses

Kisah Warga Desa Muara Enggelam Bertahan Hidup di Balik Pagar Raksasa

Liputan6.com, Kutai Kartanegara - Heri Cahyadi panik setengah mati. Rumah pria paruh baya itu tiba-tiba bergetar hebat. Angin kencang dari pusat danau bertiup kencang. Rumahnya yang dibangun dari tiang pancang berguncang, oleng, dan nyaris rubuh. Tak lama berselang, atap rumah terbang bersama angin.

Rumah kayu sederhana di salah satu sisi belantara Danau Melintang, danau luas di Kalimantan Timur, itu pun tak beratap. Menyisakan suara angin yang tak henti bertiup meski sang pemilik sudah pasrah.

Heri segera keluar rumah. Pemandangan tak kalah miris terjadi pada tetangganya yang bermukim di Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai kartanegara. Ada rumah yang sudah hampir roboh. Adapula rumah rakit yang hanyut terbawa angin dan ombak.

"Kejadian itu terjadi pada akhir tahun 2004 lalu. Angin puting beliung menerjang desa. Air danau yang pasang tinggi membuat angin dengan mudah menghantam rumah-rumah warga tanpa pelindung," cerita Heri didampingi istrinya, Siti Sumarni, Kamis (23/1/2020).

Desa Muara Enggelam merupakan desa terpencil dan nyaris terisolir yang berada di kabupaten kaya minyak dan gas, Kabupaten Kutai Kartanegara. Sejatinya, desa ini tak memiliki daratan. Secara topografi, kawasan desa masih berada di areal Danau Melintang. Kalaupun ada daratan, biasanya menunggu musim kemarau datang yang membuat air danau mengering.

"Semua panik. Angin itu tak hanya menghantam dan menghancurkan rumah-rumah warga, tapi juga nyaris menghancurkan perasaan kami," kata Heri.

Dia bercerita, tantangan warga menghadapi alam Danau Melintang tak hanya angin. Ada ombak dan tanaman gulma. Kala kemarau panjang terjadi, daratan yang timbul kemudian ditumbuhi gulma. Saat air pasang kembali, gulma akan tercabut dari tanah bersama akarnya dan hanyut terbawa arus danau.

"Gulma yang berkumpul membentuk seperti daratan kemudian terbawa arus dan mendorong rumah warga. Karena rumah warga mayoritas adalah rumah rakit yang diikat, tali penahan rumah putus karena tak kuat menahan ombak, angin dan desakan gulma," katanya.

 

 

2 dari 4 halaman

Ganasnya Alam Danau Melintang

Ramsyah memandang nanar ke arah Danau Melintang dari atas perahu kecilnya. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan air. Hanya ada satu Pohon Rengas di tengah danau yang masih berdiri kokoh.

"Di danau ini dahulunya masih banyak pohon. Kebakaran dan perambahan membuat pohon-pohon itu habis sama sekali," kata Ramsyah yang kini menjabat Direktur BUMDes Bersinar Desaku milik Pemeritah Desa Muara Enggelam.

Paling banyak, katanya, adalah Pohon Jeluma. Batang pohon ini biasanya diambil untuk bahan bakar pembuatan ikan asap.

"Kisah terjangan angin dan ombak sudah sering kita dengar dari orangtua dan pendahulu kampung. Tapi tak separah tahun 2004 itu," katanya.

Danau Melintang memiliki luas 11 ribu hektare. Danau ini kaya akan ikan air tawar. Budidaya ikan air tawar sangat mudah dan jadi mata pencaharian utama warga. Ada tiga desa yang hidup di berbagai sisi danau. Semuanya hidup bergantung dari alam Danau Melintang.

Hanya ada dua musim, sama seperti wilayah lain di Indonesia. Jika musim kemarau, maka danau akan mengering. Itu juga petaka bagi warga desa. Akses keluar masuk desa menghilang. Maklum, warga desa mengandalkan perahu bermesin tunggal untuk aktivitas bepergiannya.

"Kalau danau kering, kami tak bisa ke mana-mana. Tak ada perairan yang bisa dilewati. Perahu kandas. Kalau kandas, bisa-bisa harus menginap di tengah danau," cerita Ramsyah.

Pada musim penghujan, air pasang tinggi. Sebenarnya tak ada masalah dengan air pasang. Sebab mayoritas rumah warga terbuat dari rakit yang akan terus mengapung setinggi apapun air danau.

Hanya saja, angin dan ombak jadi tantang warga. Rumah-rumah tak memiliki pelindung dari terjangan ombak, angin, dan hantaman gulma.

Secara umum, Danau Melintang merupakan ekosistem Hutan Dipterokarpa dengan tumbuhan dominan Pohon Kahoi dan Pohon Jeluma. Ada juga beberapa pohon jenis lain yang tumbuh di lahan basah Danau Melintang.

 

 

3 dari 4 halaman

Sepakat Bangun Pagar Raksasa

Ramsyah dan Heri bergegas menuju balai desa yang menggelar pertemuan. Kala itu awal 2005, warga masih trauma dengan terjangan angin puting beliung yang tak hanya merobohkan dan menghancurkan atap rumah, tapi juga menghanyutkan rumah rakit milik warga.

Mereka hendak mengusulkan agar dibangun penahan angin dan pemecah ombak, sekaligus menahan tumpukan gulma yang larut terbawa arus danau. Warga desa berharap, kejadian serupa tak terulang.

"Kita bersepakat membangun tanggul pemecah ombak. Dari sisi tinggi, kita sepakati setinggi 12 meter. Untuk lebar, tergantung anggaran. Pokoknya cukup untuk melindungi desa," kata Ramsyah.

Pembangunan pun dimulai dengan memanfaatkan dana awal dari anggaran Dinas Perhubungan Kutai Kartanegara. Terbangunlah tanggul dengan panjang sekira 40 meter sebagai tahap awal.

Beberapa tahun kemudian, pembangunan tahap kedua melalui dana APBD yang dianggarkan lewat Dinas PU, bentangnya memanjang lebih dari 100 meter. Bentuknya tak lurus. Lebih melengkung seolah memeluk desa.

"Tahap ketiga telah selesai beberapa tahun lalu dan kini panjangnya hampir 300 meter. Ada gerbang masuk di tengah-tengah yang memudahkan warga keluar masuk desa," ujar Ramsyah.

Desa Muara Enggelam dihuni 747 warga dengan 178 kepala keluarga. Desa ini dibagi menjadi tiga Rukun Tetangga (RT). Tak ada akses lain menuju desa ini selain menembus Danau Melintang menggunakan perahu kecil.

 

 

4 dari 4 halaman

Gapura Terbaik Nasional

Muhammad Fairuz bergegas mengambil kameranya. Perahu kecil bermesin tunggal yang ditumpanginya sedang melintasi Danau Melintang. Dari kejauhan tampak benteng raksasa dengan cat warna-warni tampil sangat mencolok di antara warna air danau dan hijaunya tanaman gulma. Jurnalis sebuah media telivisi swasta nasional itu tak ingin melewatkan pemandangan cantik nan unik yang tersaji di depannya.

"Itulah desa Muara Enggelam," kata Ahmad Riyanto, Kepala Bagian Pengelolaan Komunikasi Publik Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yang menemani perjalanan jurnalis Fairuz.

Jelang HUT RI ke-74 pada 2019 lalu, warga desa bersepakat menghias pagar atau tanggul pemecah ombak. Awalnya pagar ini hanya berwarna coklat, khas kayu ulin. Dananya berasal dari keuntungan BUMDes, dana desa, dan swadaya masyarakat.

"Pembangunan tanggul ini awalnya atas keinginan masyarakat desa. Setelah jadi, ada ide untuk menghiasnya. Akhirnya kita gotong royong mengecat, memasang hiasan, bendera, dan segala macamnya. Sekaligus memperingati hari ulang tahun republik kita," kata Kepala Desa Muara Enggelam, Jauhar.

Tak disangka, hasilnya luar biasa indah. Mereka pun berinisiatif mendaftarkan tanggul atau pagar penahan ombak dan angin ini ikut dalam Festival Gapura Cinta Negeri tingkat nasional tahun 2019 lalu. Tak disangka mereka mampu bersaing dengan 1.793 gapura dari berbagai daerah dan masuk sebagai salah satu pemenang.

Kepala Desa, Direktur BUMDes, dan beberapa warga berkesempatan bertemu Presiden Joko Widodo untuk menerima piala, piagam, serta uang tunai. Ini membuktikan sinergitas yang baik antara warga desa, pemeritah desa, hingga pemerintah kabupaten.

Pagar raksasa itu kini berdiri megah di antara belantara Danau Melintang. Melindungi warga dan segala harapannya. Tak ada lagi rasa khawatir meski musim kerap berganti.

Meski harus hidup terisolir, mereka tetap bertahan hidup, menjelajah Danau  Melintang, menangkap ikan air tawar yang kemudian diekspor jauh. Warga Desa Muara Enggelam membuktikan kekuatan kebersamaan, sekuat pagar raksasa yang mereka bangun.   

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Loading