Sukses

Zaman Berganti, Mau 'ke mane' Seni Betawi?

Liputan6.com, Jakarta - Kesenian Betawi, salah satunya lenong Betawi, kini mulai termakan oleh zaman. Salah satu penyebabnya adalah adanya kemajuan teknologi. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita mesti mengikuti zaman tanpa melupakan nilai-nilai kebudayaan dan kesenian yang sudah ada sebelumnya.

Di samping itu, perkembangan dan kemajuan teknologi informasi juga memengaruhi eksistensi kesenian lokal, terutama lenong Betawi dan gambang kromong. Dua hal yang saling berkaitan dengan seni pertunjukan.

Dengan begitu, apakah kesenian, seperti lenong Betawi, perlu dimodernisasi?

“Seperti istilah Yamin Azhari, 'jangan asyik sendiri' kata itu mengandung falsafah yang tinggi sekali, meskipun saya belum baca buku tentang Beliau, saya tertarik kepada falsafahnya. Ada kalanya kita mesti berani lompat dari “pagar” itu demi kemajuan," terang pengamat kesenian Betawi, Julianti Parani, dalam sebuah diskusi soal teater rakyat Betawi di selasar Graha Bhakti Budaya, Jumat (10/01/2020).

"Bukan berarti kita tidak merawat yang lama. Tetap harus dirawat, seperti gambang kromong dan lainnya."  

Namun, hal itu dibantah oleh seniman yang sempat menjadi juri Festival Lenong Betawi, Diding Boneng. Diding, mengatakan bahwa semua kesenian boleh mengikuti zaman, tetapi kesenian tetap memiliki pakemnya tersendiri.

“Lenong perlu mengikuti zaman, tetapi seni punya pakem yang tidak boleh dilanggar. Boleh semodern apa pun tapi jangan melanggar pakem dan pakem itu harus dipelihara. Kita mesti memahami pakemnya, tidak boleh ditabrak apalagi ditinggalkan,” terang Diding di Selasar Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta (10/01).

Tidak hanya itu, Diding menilai perkembangan lenong sekarang kebablasan, salah satunya adanya istilah lenong bangsawan. Ia menyebut bahwa tidak ada lenong bangsawan, yang ada hanyalah teater bangsawan.

“Saya sudah cari bukunya lenong bangsawan, tidak ada bukunya tuh,” kata Diding.

Diding sempat menjadi juri festival lenong dan ia mengaku ingin sekali melihat penampilan lenong yang orisinal.

“Saya rindu menonton lenong yang memang lenong,” ujar Diding.

Tidak hanya lenong, ondel-ondel juga merupakan ikon dari Betawi. Kerap beberapa kali kita melihat banyak orang meminta sumbangan menggunakan ondel-ondel sebagai mediumnya.

“Saya minta dari Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) buat satgas kesenian, karena saya tersinggung berat dengan adanya ondel-ondel yang dipakai untuk ngamen. Kesenian Betawi kok dipakai untuk ngemis,” kata Diding.

Akhmad Mundzirul Awwal/PNJ.

2 dari 2 halaman

Simak Video Pilihan Berikut:

Loading