Sukses

Curahan Hati Mahasiswa Asal Papua di Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Jemi Kudiai (32), mahasiswa asal Nabire, Papua, mengimbau mahasiswa asal Papua tak perlu lagi khawatir untuk kembali ke daerah-daerah studi di luar Papua dan melanjutkan belajarnya. Sebab situasi d iluar Papua, terutama di daerah-daerah tempat mereka belajar sangat kondusif, berbeda dengan situasi yang terjadi di Papua belakangan ini.

“Keamanan benar-benar terjamin sehingga mahasiswa asal Papua dapat melakukan aktivitas belajarnya dengan baik,” kata mahasiswa strata dua Universitas Nasional (Unas) Jakarta ini, dalam keterangan tertlisnya.

Jemi yang sudah berada di Jakarta sejak 2012 merasa nyaman untuk melakukan aktivitas belajar dan menjalani kehidupannya sehari-hari. Sebelum melanjutkan kuliah S2 di Jakarta, ia menyelesaikan S1-nya di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD)-APMD Yogyakarta. Dia menggunakan biaya sendiri, bukan beasiswa dari Pemerintah Daerah.

Menurut Jemi kondisi dan situasi baik di Jakarta maupun daerah-daerah studi lainnya masih aman dan sangat kondusif. Menurutnya semua tergantung kepada pribadi masing-masing mahasiswa dalam berinteraksi dengan lingkungan dan warga sekitar tempat mereka kuliah.

“Yang penting dalam interaksi tersebut sifat kejujuran harus dikedepankan,” katanya.

Saat kerusuhan di Papua pecah, Jemi mengaku sudah berusaha menyarankan kawan-kawannya untuk tidak termakan isu hoax dan pulang kampung. Namun desakan dari para orangtua yang khawatir dengan nasib anak-anaknya yang tengah belajar di daerah lain, memaksa mereka untuk pulang sejenak. Jemi yakin kawan-kawan mahasiswa asal Papua akan kembali belajar ke daerah-daerah studi mereka sebab liburan semester/masa cuti kuliah sudah habis.

"Saya berharap mahasiswa Papua untuk kembali kuliah dan melanjutkan perjuangan. Mahasiswa Papua harus lebih tekun belajar di bidang yang ditekuni. Mahasiswa jangan lagi termakan isu hoax", ajak Jemi.

Menyikapi permasalahan yang terjadi di kalangan generasi muda Papua saat ini, Jemi lebih menyoroti pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) setempat, terutama kalangan pemuda Papua lulusan sarjana.

Di sisi lain, masyarakat lokal Papua juga harus 'bersaing' dengan pendatang yang memiliki SDM dan pengetahuan lebih baik, sehingga kondisi itu menimbulkan kecemburuan sosial tersendiri. Menghadapi kenyataan ini, seharusnya Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah juga harus menyiapkan lapangan kerja dan menciptakan peluang bagi pemuda Papua.

“Masyarakat setempat juga harus mampu merangkul para pendatang dan kalau perlu saling bertukar ilmu,” katanya.

Menurut dia, istilah OAP (Orang Asli Papua) sebenarnya tidak perlu dimunculkan kembali agar kecemburuan sosial tidak lagi ada. Permasalahan ekonomi yang lebih didominasi oleh warga pendatang harusnya memicu Pemerintah Daerah (Pemda) untuk lebih meningkatkan mental dan jiwa interpreneur di kalangan warga asli setempat, khususnya pemuda.

Jemi menambahkan, Papua adalah bagian dari Indonesia, maka harus ada rasa saling memiliki. Pemprov Kabupaten/Kota harus membantu mahasiswa untuk kembali belajar. Ideologi Pancasila serta kemanusiaan harus terus didorong. Sebab berbicara NKRI dan Pancasila sudah final.

"Dari Sabang sampai Merauke itulah Indonesia. Papua adalah bagian dari Indonesia, maka harus ada rasa saling memiliki. Pemprov Kabupaten/Kota harus membantu mahasiswa untuk kembali belajar," kata Jemi.

Loading
Artikel Selanjutnya
Bertemu Kepala Daerah, DPR Dukung Pembentukan Papua Tengah Lewat UU Otsus
Artikel Selanjutnya
Mahfud Md Temui Parlemen Selandia Baru, Sempat Bahas Papua