Sukses

Heboh Tanah Retak 50 Meter Menyedot Kolam Ikan Seisinya di Cilacap

Liputan6.com, Cilacap - Dampak kemarau semakin meluas, tak terkecuali di Cilacap, Jawa Tengah. Tetapi, krisis air bersih yang melanda di berbagai wilayah itu tak dirasakan warga Majingklak, Kecamatan Wanareja.

Di desa ini, air masih melimpah ruah. Majingklak tak masuk dalam peta rawan bencana kekeringan. Warga pun adem ayem tak kekurangan suatu apa.

Wilayah yang berada di perbukitan ini berimpitan dengan hutan yang memiliki vegetasi bagus. Air mengalir dari sela ceruk, akar pepohonan dan memastikan warga Majingklak tak kekurangan air.

Tetapi, suasana tenteram di Majingklak itu berubah heboh, Minggu, 18 Agustus 2019. Tanpa pertanda sebelumnya, mendadak retakan tanah muncul dan menyedot air dan ikan milik Karwa Karsono.

Warga Dusun Seukeut RT 03/12 Desa Majingklak, pun heran dibuatnya. Pasalnya, retakan tanah ini muncul pada kemarau. Tak main-main, panjang retakan mencapai 50 meter dan nyaris membelah jalan desa.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majenang, Edi Sapto Prihono mengatakan, selain merusak kolam ikan retakan tanah ini juga mengancam perumahan. Pasalnya, retakan ini muncul bersebalahan dengan permukiman warga.

“Itu panjang sekitar 50 meter, lebar rekahan sekitar 20 sentimeter. Itu disamping jalan dan dekat dengan perumaha, sekitar 30 meter,” katanya, Senin, 19 Agustus 2019.

Berdasar penelitian dan kunjungan lapangan, diduga retakan tanah ini muncul akibat tanah labil. Terlebih, wilayah setempat berkontur berbukit dengan tingkat kemiringan mencapai 45 derajat.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Retakan Muncul Akibat Gempa Sesar Citanduy?

“Yang jelas kondisi tanahnya memang tanah labil. Kemudian di sana itu berada di lereng,” ucapnya.

Dia pun tak memungkiri ada pula pendapat yang mengaitkan munculnya retakan ini dengan gempa di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Selama Juli dan Agustus ini, setidaknya wilayah setempat diguncang gempa hingga empat kali.

Sumber gempa diperkirakan adalah Sesar Citanduy. Dan Majingklak masuk dalam kawasan peta gempa (shake map) yang terdampak besar lantaran dekat dengan episentrum atau pusat gempa.

Meski begitu, Edi tidak bisa memastikan bahwa retakan itu muncul akibat gempa. Sebab, untuk mengetahui penyebabnya, dibutuhkan penelitian geologi mendalam.

“Bisa jadi karena dampak gempa beberapa hari yang lalu, ya. Memang relatif dekat. Tapi kita tidak bisa memberikan statemen seperti itu karena bukan wewenangnya,” dia menerangkan.

Edi mengungkapkan, wilayah Majingklak selama ini dikenal sebagai salah satu desa rawan longsor atau gerakan tanah. Sebab, wilayah Majingklak berada di pegunungan dengan elevasi tinggi.

Selain itu, banyak pula tandon-tandon air, seperti kolam ikan yang diduga juga turut meningkatkan risiko pergerakan tanah. Kondisi ini mengakibatkan gerakan tanah mudah terjadi.

“Keberadaan kolam mungkin juga salah satu faktornya,” ujarnya.

Saat ini, BPBD bersama dengan warga menutup retakan tersebut untung mengantisipasi retakan susulan yang bisa menyebabkan kerugian lebih besar dan mengancam keselamatan penduduk.

“Kita tutup, Forkompicam juga sudah di sana, mengimbau agar sebaiknya kolam-kolam ikannya ditutup saja,” dia menjelaskan.

Tragedi Kabut Asap
Loading