Sukses

Mengenal Pram, Penulis Bumi Manusia yang Hidup di Terali Besi Tiga Rezim

Liputan6.com, Blora - Menyambut Hari Kemerdekaan ke-74 RI, novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer diadaptasi dan diangkat menjadi karya film. 

Tak terasa sudah 13 tahun Pramoedya Ananta Toer atau Pram meninggal dunia. Namun Karyanya yang banyak tersimpan di balik bangunan sederhana di pertigaan Jalan Sumbawa, tepatnya di RT 01 RW 01 Kelurahan Jetis, Blora, Jawa Tengah, masih tetap hidup.

Sebelum Anda menonton film Bumi Manusia, ada baiknya mengenal sosok Pram, penulis Lekra yang sebagian hidupnya dihabiskan di terali besi tiga rezim.

Saat kecil Pram dipanggil dengan sebutan Moek atau Mamoek oleh orangtuanya. Ia merupakan sulung kelahiran Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 dari pasangan suami istri Mastoer dan Oemi Saidah.

Di usianya kecilnya, Pram dianggap orang tuanya, Mastoer, sebagai anak kurang cerdas. Ia waktu mengeyam sekolah dasar IBO di Blora, selama tiga kali tidak naik kelas. Saat itu pimpinan tempat pendidikan tersebut adalah ayahnya sendiri.

Pram kecil itu sejatinya bukanlah seorang siswa yang menonjol prestasinya. 10 tahun lamanya ia baru mampu menyelesaikan sekolah dasarnya. Hal ini tentu sangat mengejutkan mengingat perhatiannya yang besar terhadap riset di suatu waktu kelak, khususnya terhadap penelitian sastra dan sejarah Indonesia. Kebiasaannya melakukan riset inilah yang kemudian menghasilkan antara lain roman sejarah, essai mengenai sejarah sastra Indonesia.

Usai tamat dari sekolah dasar IBO di Blora, Pramoedya Ananta Toer kemudian melanjutkan ke pendidikan sekolah setingkat SLTP kejuruan radio (Radio Vakschool) Surabaya yang dibiayai oleh sang ibunya Oemi Saidah. Waktu itu, ayahnya Mastoer menolak menyekolahkan di MULO (setingkat SLTP). Pecahnya perang dunia II membuat ijazah sekolah itu tidak pernah sampai ditangannya.

Hal ini erat kaitannya dengan wajib militer yang dikenakan kepada para pelajar oleh pemerintah pendukung jepang yang tidak disukai Pram, hingga ia memutuskan untuk meninggalkan kursus tersebut sebelum memperoleh ijazah. Tentara Jepang mulai mendarat di pantai utara pulau jawa dan sampai di daerah Blora pada 2 maret 1942.

Di awal masa penjajahan Jepang, Pram mengalami kenyataan pahit. Ibu yang sangat dicintainya meninggal pada 3 Juni 1942 akibat penyakit TBC. Neneknya, Mbah Sabariyah didatangkan dari Ngadiluwih untuk mengurus keluarga, namun tidak lama tinggal di Blora. Akibatnya Pram hidup dalam ketidakpastian. Kepergian sang ibu sangat mengguncang hati Pram muda.

Demikianlah masa kecil Pram yang ia tuliskan dalam karya-karyanya, khususnya dalam kumpulan cerita pendek Tjerita dari Blora. Ia kemudian merantau ke Jakarta, dan sempat mendaftarkan diri di sebuah sekolah Taman Siswa (Tepatnya Taman Dewasa-setingkat SLTP).

 

2 dari 5 halaman

Karya Terjemahan

Ia pun sempat menempuh sekolah di sekolah Islam untuk beberapa waktu, namun tidak selesai. Selain pendokumentasian, ia pernah mencoba menerjemahkan karya pengarang dunia, terutama dari bahasa Belanda. Walau di masa kecilnya tidak begitu serius mempelajari hal tersebut, namun kemampuan pasifnya memang cukup baik.

Selain Max Havelaar, Pram pun menerjemahkan sebuah buku berbahasa Belanda Lode Zielens, yang bahasanya bagi orang Belanda sekarang pun tidak mudah dipahami. Padahal itu dilakukan waktu ia saat masih muda.

Beberapa rangkaian karya terjemahan Pram yang lain adalah Tikus dan Manusia (diterjemahkan dari Of Mice and Men karya John Steinbeck), Kembali kepada Tjinta Kasihmu (diterjemahkan dari edisi Belanda karya Leo Tolstoy berjudul Huwelijksgeluk), dan Ibunda (karya Maxim Gorki, diterjemahkan dari bahasa Belanda dan bahasa Inggris dengan judul asli Mati).

Setelah sanggup membina kehidupan keluarga, pada 13 januari 1950 Pram kemudian menikah dengan seorang gadis yang telah dilamarnya sejak ia masih dalam penjara Belanda. Kebutuhan untuk menafkahi keluarga yang ia bangun nampak mendorong untuk lebih produktif menulis.

Banyak karyanya yang ditulis Pram di tahun 1950-an. Diantaranya Pertikaian Revolusi (1950), Di Tepi Bekasi (1950), Keluarga Gerilya (1950), Perburuan (1950), Subuh (1950), Bukan Pasar Malam (1951), Mereka Jang Dilumpuhkan (1951), Tjerita dari Blora (1952), Gulat di Djakarta (1953), dan lain sebagainya.

Pram menunjukkan integritasnya pada kesustraan, kemudian dari hal itulah yang membuatnya dapat beasiswa dari Sticusa (Sticting Culturele Samunwerking, lembaga kebudayaan Indonesia Belanda) untuk belajar di Belanda. Namun beasiswa yang ia dapatkan hanya dijalani selama enam bulan dari rencana satu tahun yang diberikan.

Dari hal itu-lah seolah Pram mendapat semangat baru, yang kemudian membuatnya aktif berpolitik sekembalinya ke Indonesia. Karya Pram menunjukkan, ia diangkat sebagai anggota badan musyawarah Golongan Fungsional Kementeran Petera (Pengarah Tenaga Rakyat).

Kapasitas intelektualitasnya semakin diasah ketika menjadi ketua Discusi Simpat Sembilan. Sebuah kelompok diskusi yang antara lain mencetuskan kembali ke UUD 1945 untuk mengatasi perpecahan konstituante pada 22-28 Januari 1959.

 

3 dari 5 halaman

Sepak Terjang di Lekra

Pram juga terpilih sebagai anggota pimpinan pleno dalam kongres nasional Lekra yang diadakan di Solo. Saat itu secara resmi, ia mulai dilibatkan dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Semuanya memberi modal bagi ke Pram untuk terjun dibidang ilmiah akademik. Hal itu dibuktikan pada tahun 1962 mengabulkan permintaan pimpinan Fakultas Sastra Universitas Res Publika (sekarang Universitas Tri Sakti) untuk mengajar di Universitas tersebut.

Periode ini merupakan masa ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) semakin berpengaruh dalam peta perpolitikan Indonesia. Hal ini memberi konsekuensi menguatnya peran Lekra, yang memiliki kedekatan dengan partai tersebut. Dalam masa ini, Pram terlibat dalam arus polemik ideologis yang cukup dikenal dalam sejarah kebudayaan Indonesia pada masa itu.

Namun, polemik yang dibangun Pram terhadap kubu manifes kebudayaan berakhir antiklimaks. Pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru harus dibayar mahal dengan penangkapan besar-besaran para aktivis, simpatisan, atau siapapun yang diduga terlibat dalam PKI. Banyak orang terbunuh, dan sebagian lainnya, termasuk Pram dipenjarakan sebelum kemudian dibawa ke Pulau Buru.

 

4 dari 5 halaman

Tetralogi Pulau Buru

Selama pengasingannya di Pulau Buru, Integritas kepenulisannya tidak menjadi luntur. Bahkan dari Pulau Buru inilah kemudian lahir karya masterpiecenya. Empat buah buku yang disusun sebagai Tetralogi karya Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca). Karya itu berhasil ditulis setelah sebelumnya diceritakan secara lisan kepada teman-teman Pram ketika sepengasingan.

Hampir 18 tahun lamanya, Pram kehidupannya dihabiskan dalam penjara, sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia bermartabat. Secara bergiliran dirasakannya nyinyir terali besi tiga rezim tiga kekuasaan, tiga tahun tawanan kolonial Belanda (Penjara Bukit duri 1947-1949), Satu tahun (1960) dalam penjara orde lama, dan 14 tahun yang melelahkan dimasa Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969, Juli 1969-16 Agustus 1969 di Pulau Nusa Kambangan, Agustus 1969-12 November 1979 di Pulau Buru, November-Desember 1979 di Magelang dan Banyuwangi) tanpa proses pengadilan.

Pada tanggal 21 Desember 1979, Pram mendapatkan kebebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G 30 S/PKI. Namun ia masih dikenakan tahanan rumah hingga 1992. Tahanan kota dan tahanan negara sampai 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu, kurang lebih selama 2 tahun.

Setelah beberapa bulan mengalami gangguan kesehatan dan dirawat ke rumah sakit St CarolusJakarta selama 3 hari sejak kamis 27 April 2006, akhirnya meninggal dunia pada hari Minggu 30 April 2006 sekitar pukul 19.15 WIB di kediamannya Jalan Multi Karya II 26, Jakarta Timur.

5 dari 5 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Lahirnya Pram-Pram Muda di Blora