Sukses

Menyusuri Jalur Pendakian Gunung Kerinci yang Sarat Misteri

Liputan6.com, Kerinci - Gunung Kerinci yang terletak di perbatasan Jambi-Sumatra Barat, mengalami erupsi dan menyemburkan abu vulkanik setinggi 800 meter dari atas puncaknya, Rabu (31/7/2019) pukul 12.48 WIB. Abu kolom vulkanik dari kawah gunung tertinggi di Sumatra itu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah timur.

Gunung Kerinci adalah gunung berapi bertipe stratovulcano yang masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 2009. Saat ini, status gunung dengan julukan atap Sumatra (3.805 MDPL) itu dalam status waspada level II sejak tahun 2007.

Berdasarkan catatan di R10, Desa Kersik Tuo, Kayu Aro, Kerinci, puncak Kerinci pertama kali didaki oleh von Hasselt bersama Veth pada tahun 1877. Kondisi puncak di atas berupa kawasan batu cadas tak bervegetasi dan mengelilingi kawah dalam selebar 600 meter.

Kepala Bidang Mitigasi pada Pos Pengamatan Gunung Api Kerinci, Hendra mengatakan, erupsi yang terjadi Rabu (31/7/2019) siang bukan pertama kalinya terjadi pada tahun ini. Sejak awal tahun 2019, tercatat Gunung Kerinci sudah erupsi empat kali yakni Januari, Maret, Mei, dan Juli.

"Bulan Juni 2019 lalu juga erupsi. Ini kejadian erupsi biasa dan hampir setiap tahun memang erupsi," kata Hendra kepada Liputan6.com.

Meskipun waspada level II dan sering mengalami erupsi, tetapi hingga kini gunung tersebut masih menjadi magnet bagi pendaki dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Selain itu, masyarakat di kaki Gunung Kerinci juga masih beraktivitas normal.

Selain memiliki jalur yang indah dan sulit tempuh, juga ada legenda di jalur pendakian Gunung Kerinci yang hingga kini masih tersimpan dan menjadi daya tarik bagi pendaki. Berbagai mitos dan legenda pun banyak berkembang di kalangan pendaki.

 

2 dari 3 halaman

Pohon Bolong

Di jalur pendakian vegetasi hutan rimba atau tepatnya di antara pos III dan shelter I terdapat pohon besar yang bolong. Pohon tersebut berada di sisi kanan jalur pendakian dan dapat dijumpai saat mendaki di Gunung Kerinci.

Cerita dari para porter di Gunung Kerinci, para pendaki yang melihat pohon bolong tersebut dianjurkan tidak berhenti untuk makan, foto-foto, atau buang air karena itu adalah pohon keramat. Konon pohon bolong tersebut, dulunya pernah dijadikan tempat untuk menyimpan jenazah pendaki yang meninggal.

Cerita lain yang berkembang di kalangan porter, pohon bolong tersebut banyak sosok penunggu. Salah satunya, sosok yang sering menampakkan diri adalah sosok nenek tua serta genderuwo. Konon, hilangnya Setiawan Maulana pada 2014 lalu memiliki hubungan dengan sosok penunggu di pohon besar.

Salah seorang pendaki dari Kota Jambi, Bima Putra pernah merasakan keanehan pohon bolong tersebut. "Pas naik sempat ketemu pohon bolong itu, tapi pas turun tidak ketemu, tanya ke pendaki lain juga begitu," kata Bima yang pernah melakukan pendakian Gunung Kerinci, Januari 2019 lalu.

 

3 dari 3 halaman

Tugu Yuda

Sebelum sampai di puncak atau Top Kerinci, pendaki pasti akan bertemu Tugu Yuda. Tugu tersebut dibuat untuk mengenang nama Yudha Sentika yang hilang saat mendaki Gunung Kerinci pada tahun 1990. Hingga kini, Yudha Sentika belum ditemukan.

Terdapat cerita mistis di kalangan pendaki soal Tugu Yudha Sentika ini. Warga di kaki Gunung Kerinci mengatakan bahwa Yudha diambil oleh penguasa Gunung Kerinci sehingga sampai kini jasadnya tak bisa ditemukan.

Di jalur pendakian Tugu Yudha adalah jalur batu cadas. Di tempat tersebut juga terdapat belasan tugu lainnya untuk mengenang pendaki yang meninggal di Gunung Kerinci.

Tak jarang juga pendaki saat tiba di Tugu Yudha, mereka pasti berhenti sejenak hanya sekadar mengirimkan doa. Yang pasti, kisah Tugu Yudha Gunung Kerinci hingga kini masih menjadi misteri. Baik jasadnya maupun keberadaannya bak hilang ditelan bumi.

Uhang Pandak

Di jalur pendakian Gunung Kerinci masih ada mitos aneh yang hingga kini belum terpecahkan. Dia adalah orang pendek, warga setempat menyebutnya Uhang Pandak.

Mitos tentang Uhang Pandak di Gunung Kerinci bahkan terdengar di telinga seorang peneliti asal Inggris Debbie Martyr. Debbie Martyr mendengar cerita Uhang Pandak sejak 1989, saat melakukan kunjungan wisata ke Kerinci.

Jenis makhluk ini berdasarkan catatan Debbie, merupakan primata besar, mirip dengan orangutan tapi bukan orangutan karena bewarna kuning kemerahan atau cokelat dan memiliki kaki terbalik.

Warga di kaki Gunung Kerinci meyakini Uhang Pendek tinggal di kawasan hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di jalur pendakian. Namun demikian, hingga kini belum ada pendaki yang mengabadikan sosok makhluk tersebut.

 

Simak video pilihan berikut ini: