Sukses

Air Mata Ibu Korban Kekerasan MOS SMA Taruna Indonesia Palembang

Liputan6.com, Palembang - Kasus kekerasan saat kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMA Taruna Indonesia Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menelan korban.

Setelah satu orang siswa SMA Taruna Indonesia Palembang meninggal dunia usai mengikuti MOS, kini siswa lainnya mengalami koma karena dugaan kekerasan yang dialaminya.

Di Rumah Sakit (RS) Charitas Palembang, WK (14), masih dinyatakan kritis setelah melewati operasi akibat kekerasan saat MOS.

Saat dikunjungi Ketua TP PKK Sumsel Feby Deru di ruang ICU lantai III, Rabu (17/7/2019), ibu korban terlihat menangis dan memeluk puteranya yang tidak sadarkan diri.

Ibu korban tampak begitu syok menerima kenyataan, anaknya menjadi salah satu korban kekerasan saat mengikuti kegiatan di sekolah barunya.

“Sedih sekali melihatnya, sampai tidak bisa ngomong lagi saya. Sebagai seorang ibu, saya mengerti betul apa yang dirasakan ibu korban dan keluarganya saat ini. Mohon doanya agar ada keajaiban untuk WK lekas sembuh" ujarnya kepada Liputan6.com.

Ia berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. Istri Gubernur Sumsel Herman Deru ini pun meminta dinas terkait, agar segera mengusut tuntas kasus ini.

Menurutnya, MOS di Palembang ini harusnya menjadi pengenalan dan mengajarkan kedisplinan siswa saja. Namun tidak menggunakan kekerasan seperti yang terjadi pada para siswa SMA Taruna Indonesia Palembang.

“Saya minta betul kedepan Dinas terkait memperhatikan kegiatan siswa di sekolah. Kalau bisa jangan ada kekerasan lagi seperti ini di sekolah. Karena ini akan jadi dendam berkepanjangan,”ujarnya.

Selain menjenguk korban MOS SMA Taruna Indonesia Palembang, Feby Deru juga meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, untuk menangani pendanaan selama korban dirawat di rumah sakit Palembang ini.

 

2 dari 2 halaman

Dugaan Kekerasan Fisik

Sebelumnya diberitakan seorang siswa meninggal dunia saat mengikuti MOS di SMA Taruna Indonesia Palembang , DW (14). Korban sempat dilarikan ke rumah sakit Myria Palembang, Sabtu (13/7/2019) pukul 04.00 WIB.

Namun nyawa korban tidak bisa diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu pagi. Korban diduga mengalami kekerasan fisik sehingga mengganggu beberapa fungsi organ tubuhnya.

WK juga diduga turut menjadi korban kekerasan oknum staf sekolah tersebut karena dibawa ke rumah sakit saat menjalani MOS.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti juga turut menjenguk WK di ruang ICU.

"Tadi pagi saya sudah menjenguk korban dan berbincang-bincang dengan orangtua korban. Memang benar korban sekarang sedang mengalami masa koma, kita juga akan mengevaluasi kasus ini,"katanya.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Dua Saksi Mutilasi di Musi Banyuasin Hilang
Artikel Selanjutnya
Dokter Ungkap Penyebab Kematian Wanita Korban Mutilasi di Musi Banyuasin