Sukses

Berkebun Pagi Hari ke Sentra Alpukat di Lereng Gunung Arjuno

Liputan6.com, Pasuruan - Pohon alpukat tumbuh di kiri kanan jalan. Serta tegak berdiri di pekarangan rumah dan kebun penduduk. Bibit tanaman bernama latin Persea americana ini juga tampak di polybag yang tertata rapi berada di halaman depan rumah – rumah warga.

Di Desa Jatisari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sebuah desa di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl) di lereng Gunung Arjuna. Sejauh mata memandang, pohon alpukat tumbuh subur di bersama pohon durian.

Ada lima jenis alpukat yang dibudidayakan warga Jatisari yakni alpukat Arjuna, Pameling, Aligator, Florida dan Markus. Dua jenis lagi sedang dikembangkan, yakni Arjuna Mentega dan Columbus. Desa ini memiliki produktivitas alpukat yang berlimpah.

Satu pohon mampu menghasilkan sampai 1,5 kuintal alpukat. Sebab buahnya bisa seberat 1 kilogram sampai 1,5 kilogram. Di puncak masa panen selama periode Februari – April, lebih dari 200 ton alpukat mampu dihasilkan.

Hasil panen biasanya dikirim ke Pasar Purwodadi, Pasuruan maupun ke Pasar Lawang, Kabupaten Malang. Para pengepul juga kerap datang langsung mengambil, membeli dengan sistem borongan alias menebas.

M Ilyas, seorang petani alpukat di Dusun Andongbang, Desa Jatisari, Pasuruan, mengatakan setahun terakhir ini budidaya buah berkulit halus ini semakin meluas. Sudah 10 ribu bibit yang baru disebar ke warga untuk ditanam.

“Banyak yang mulai menanam bibit di kebun dan halaman rumah mereka,” kata Ilyas pertengahan April lalu.

Kebun milik Ilyas jadi salah satu pusat pembibitan di desa ini. Penanaman ribuan bibit itu bukan tanpa sebab. Ingin menjadi desa agro alpukat. Menawarkan ke siapa saja yang tertarik belajar budidaya sampai memetik buah langsung di pohon.

“Kami siap menjamu siapa saja yang ingin merasakan suasana pedesaan pagi hari dan belajar berkebun alpukat,” tutur Ilyas.

Rumah penduduk turut disiapkan sebagai tempat menginap. Warga mengolah daging buah bertekstur lembut itu jadi berbagai produk olahan untuk dicecap. Seperti es krim sampai puding alpukat hasil olahan warga.

“Agar siapapun yang singgah di desa ini bisa turut menikmati suguhan olahan alpukat,” kata Ilyas.

2 dari 3 halaman

Warisan Alpukat

Keinginan warga menjadikan desa mereka pusat wisata alpukat muncul sejak setahun silam. Padahal dahulu, buah itu kerap dipandang sebelah mata. Lantaran harga jual sering tidak menguntungkan saat masuk masa panen karena kelewat murah.

Kalau sudah begitu, mereka memilih membiarkan saja alpukat di pohon meski sudah masuk masa petik. Dulu di masa panen satu pohon produktivitasnya hanya menghasilkan 50 kilogram. Pengepul hanya mau membeli hasil satu pohon itu paling mahal Rp 500 ribu.

“Sekarang produktivitasnya lebih berlimpah, harga jual bisa sepuluh kali lipat,” ucap Ilyas.

Perubahan itu setelah mereka belajar dari beberapa ahli pertanian alpukat, mengubah pola tanam. Jika dahulu pohon dibiarkan saja, sekarang dari tiga cabang diambil satu untuk disetek sebagai bibit. Bisa ditanam sendiri maupun dijual ke luar daerah.

“Sudah 20 ribu bibit kami kirim ke Jawa Tengah dan daerah lainnya. Maka, desa agro alpukat ini juga untuk menularkan hal baik,” ujar Ilyas.

Abdul Rosyid, petani alpukat di Dusun Penjalinan, Desa Jatisari menambahkan, pohon alpukat punya banyak kelebihan misalnya tidak mengenal usia pohon. Selain itu perawatannya juga tidak rumit, berbeda dengan budidaya tanaman apel.

“Meski sudah berusia tua, pohon akan tetap berbuah. Karena itu, meski lewat masa panen tetap ada saja buahnya,” kata Rosyid.

Pohon alpukat ibarat warisan turun temurun bagi penduduk desa ini. Kerap dibiarkan begitu saja, tanpa perawatan yang memadai. Sekarang, ada upaya mengubah pola pikir tentang tanaman ini. Agar tidak hanya buahnya saja yang bisa mengahasilkan keuntungan.

“Kalau jadi desa wisata alpukat dan banyak dikunjungi, harapan kami juga berimbas positif ke warga secara langsung,” ucap Rosyid.

3 dari 3 halaman

Wisata Menarik

Kepala Desa Jatisari, Juma’in mengakui warganya semakin bergairah membudidayakan alpukat. Sudah banyak warganya yang paham bila buah ataupun bibitnya mampu menambah pundi ekonomi dapur rumah tangga.

“Dahulu segelintir petani yang tahu bibit tanaman bisa dijual. Sekarang banyak yang tahu pohon ini bisa memberi nilai lebih,” ujarnya.

Karena budidaya tanaman tegakan ini semakin meluas, pemerintah desa tidak ragu mengusung ide besar. Menjadikan desa ini sebagai salah satu sentra budidaya tanaman alpukat. Sebab tanaman bisa dijumpai di pekarangan mapupun kebun penduduk.

Konsep desa agro alpukat realistis dan sesuai potensi desa. Sebab, tidak perlu khawatir ada kelangkaan buah di desa ini. Sebab, di tiap pekarangan dan kebun warga Dusun Andongbang, Dusun Penjalinan dan Dusun Trimo, tiga dusun di desa itu ada tanaman alpukat.

Desa Jatisari tidak hanya menawarkan sebagai pusat wisata pendidikan alpukat saja. Di desa terdapat sumber daya alam yang disulap untuk tujuan wisata. Mulai dari Kali Kajar, Mahoni Ground, Hutan Pinus Windu serta Rumah Pangan Sehat.

“Masing – masing tujuan wisata itu punya ciri khas tersendiri. Sehingga pelancong tak perlu risau bakal jenuh bertandang ke desa ini, “ kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Alam Indah Jatisari, M Mahfud.

Kali Kajar didesain sebagai tempat wisata edukasi keluarga nan ramah lingkungan. Dapat digunakan sebagai tempat perkemahan. Sedangkan Mahoni Ground, menawarkan aroma rimbunan pohon mahoni dilengkapi berbagai ornamen unik memanjakan penyuka swa-foto.

Mahoni Ground juga hendak diarahkan menyajikan wisata mancakrida atau latihan ketangkasan di alam terbuka. Kontur areanya di lereng pegunungan diperuntukkan bagi penyuka olahraga petualangan menguji adrenalin.

Ada pula Hutan Pinus Windu kerap dijujug penghobi fotografi. Serta dilengkapi wahana bermain seperti ayunan kayu, wedding garden sampai rumah ranting. Semua itu bakal melengkapi desa agro alpukat. Menyasar mereka yang ingin berlama – lama tinggal di desa.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
4 Alasan Perlu Memasukkan Alpukat ke Menu Harian
Artikel Selanjutnya
Alasan Penting Menyikat Alpukat Sebelum Diolah