Sukses

Kisah Prabowo Mendatangi Suku Komoro Papua

Liputan6.com, Jayapura M. Nurman Karupukaro, 41 tahun tak akan pernah lupa dengan sosok Prabowo dalam kejadian 23 tahun lalu. Ia terus mengingat bagaimana sosok tentara berpakaian serba hitam dan memakai topi baret merah mengetuk pintu rumahnya yang terletak di Timika.

Nurman muda yang saat itu duduk di kelas 3 SMA sedang berada di ruang tamu. Ia sedang serius belajar untuk kelulusan di bangku sekolahnya.

"Saya ingat betul kejadiannya, hari itu sekitar jam 5 sore ada yang mengetuk pintu rumah. Saya bukakan. Saya kaget juga, kenapa yang datang ke rumah ini tentara semua,” kata Nurman kepada Liputan6.com, saat bertemu di Jayapura, Kamis sore (11/4/2019).

Saat dibukakan pintu, seorang tentara langsung menanyakan keberadaan ayah saya. “Benar ya, ini rumah Bapak Aman Sugianto?” kata tentara itu. Nurman yang agak ketakutan kala itu langsung menjawabnya. “Benar Pak,” kata Nurman.

Tanpa basa basi, tentara tadi terus menanyakan sang ayah. “Ada bapak?” tanya tentara itu.

Nurman yang agak bingung, langsung masuk ke dalam rumahnya dan membangunkan sang ayah yang sedang istirahat tidur.  “Pak ada yang cari. Tapi kok tentara semua ya?” kata Nurman mengingat lagi.

Sang ayah pun menghampiri tamunya. Dalam perbincangan itu, tentara yang sejak tadi bicara, langsung memperkenalkan dirinya. “Saya Prabowo. Apa benar bapak adalah Pak Aman Sugianto? Istri bapak dari suku Komoro?” lantas saja pertanyaan itu diiyakan oleh almarhum ayah Nurman.

Mulai dari saat itu, Nurman mengetahui bahwa sosok yang ditemuinya 23 tahun lalu adalah Prabowo, calon presiden yang saat ini bertarung di pemilu.

Nurman menyebutkan dari pertemuan itu, ternyata Prabowo ingin mengumpulkan tokoh adat dan kepala suku dari Komoro, untuk meredam konflik di Timika yang sedang terjadi.

Prabowo sejak dulu bukan tipe yang banyak bicara. Dia pekerja keras dan cepat mengambil sikap,” ujarnya.

Saksikan video menarik berikut ini : 

2 dari 3 halaman

Damai di Timika

Nurman menceritakan, jejak Prabowo di Papua, salah satunya adalah di Timika. Saat itu, tahun 1996, usai pembebasan sandera Lorentsz di Mapenduma.  

Prabowo dan pasukannya memang sengaja memilih homebase untuk distribusi logistik dan kelengkapan proses pembebasan sandera Mapenduma di Timika, karena jaraknya yang lebih dekat dari Mapenduma.

Secara kebetulan, ada dua kejadian berbeda di Timika dan tak ada kaitannya dengan keberadaan Prabowo di Timika.

Saat itu, masyarakat dari wilayah pegunungan Timika yakni Suku Amungme dan masyarakat di pesisir pantai, Suku Komoro marah kepada Freeport karena tak ada kompensasi apapun kepada masyarakat setempat.

Aksi unjuk rasa masyarakat itu pun pecah  yang disebabkan salah satu pendemo terjatuh dari mobil pick up dan meninggal dunia.  Masyarakat marah hingga akhirnya terjadi kerusuhan, mulai dari Tembagapura hingga ke Kota Timika.

Dalam kejadian itu, massa hampir membakar Bandara Timika yang kebetulan menjadi homebase Prabowo dan pasukannya.

Kata Nurman, untuk mengendalikan kekacauan itu, Prabowo meminta masyarakat tenang dan tak melanjutkan aksinya.

Malam harinya, Prabowo mulai mencari penyebab kerusuhan di Timika. Disitulah, Prabowo mendatangi rumah Norman dan mencari sang ayah, yang dianggap sebagai seseorang yang dapat dipercaya untuk mengumpulkan tokoh Komoro, dengan latar belakang sang istri berasal dari suku dari Komoro.

Almarhum Aman Sugianto pun memfasilitasi Prabowo dan bertemu sejumlah tokoh adat dan kepala suku Komoro. Sejumlah permintaan dari masyarakat diminta dari hasil pertemuan itu, mulai dari penutupan Freeport, pemekaran, pembuatan pelabuhan, pembayaran royalti Freeport hingga Papua ingin merdeka.

Kata Nurman, saat itu Prabowo memastikan bahwa apapun bisa disampaikan kepada Presiden yang saat itu dijabat oleh Soeharto, kecuali aspirasi merdeka.

Usai pertemuan, Prabowo membawa aspirasi masyarakat Timika untuk selanjutnya diserahkan kepada Presiden Soeharto.

3 dari 3 halaman

Berpihak Kepada Anak Asli Papua

Aspirasi warga dari Suku Amungme dan Suku Komoro yang mendiami Timika juga meminta pembangunan fasilitas satuan Brimob dan tentara di Timika, termasuk adanya permintaan anak asli Papua dapat bersekolah lebih tinggi lagi.

Segala permintaan pun dicatat dan dibawa Prabowo ke Jakarta. Lalu, dua-tiga hari, Prabowo kembali ke Timika dan memberitahukan kepada tokoh adat dan kepala suku untuk bertemu langsung dengan Presiden Soeharto.

Dalam pertemuan tersebut, sebanyak 60-an kepala suku dan tetua adat bertemu dengan Soeharto, termasuk Aman Sugianto, ayah Nurman yang seorang PNS di Dinas Sosial, sebagai perwakilan dari pemerintah.

“Banyak tokoh yang ikut, termasuk Tom Beanal dan juga Klemen Tinal, Wakil Gubernur Papua yang saat itu masih duduk di perguruan tinggi. Saya ingat, ada dua anak muda mewakili mahasiswa dalam pertemuan itu,” jelasnya.

Satu per satu, usai pertemuan perwakilan masyarakat adat Timika dengan Soeharto, permintaan warga pun dikabulkan. Tahun 1996, Kabupaten Mimika terbentuk bersamaan dengan sejumlah kabupaten lainnya, termasuk Paniai.

Lalu, royalti 1% dari Freeport pun dikabulkan, walupun sebelumnya ada penolakan dari Freeport, hingga akhirnya Soeharto bertemu dengan Pimpinan Freeport James R. Moffett dan menyetujui pemberian 1% yang saat itu dikelola Lembaga pengembangan masyarakat Irian Jaya (LPMI).

Gebrakan Prabowo lainnya untuk Timika adalah membuka pendaftaran pertama kalinya anggota Kopassus bagi anak asli di Papua. Ada 1.000 orang anak asli Papua yang ikut perekrutan, lalu proses seleksi menyisakan 300 orang  dan setelah di seleksi ke Jakarta tersisa 35 orang.

“Salah satunya adalah saya dari komando 74, angkatan 96-97. Hingga hari ini masih ada 5 orang anak asli Timika yang aktif di Kopassus. Intinya, sebelum yang lain berfikir afirmatif action atau keberpihakan untuk orang asli Papua, Prabowo sudah memulainya lebih awal, bahkan hingga hari ini,” kata Nurman yang bersyukur mengenal sosok Prabowo.

Loading
Artikel Selanjutnya
2 Anggota KKB Tewas dalam Kontak Tembak dengan Aparat di Intan Jaya Papua
Artikel Selanjutnya
Kementerian PUPR Lanjutkan Pembangunan Venue PON XX Papua