Sukses

Berkah dan Momok Lahan Gambut

Liputan6.com, Siak- Adanya lahan gambut di Riau serta beberapa provinsi di Sumatera, Kalimantan dan Papua, menjadi anugerah sekaligus momok bagi Indonesia. Di satu sisi, gambut membuat tanaman di atasnya subur dan berproduktivitas tinggi karena kandungannya.

Gambut bisa pula menjadi pemicu bencana ekologis, seperti kabut asap yang bisa saja memakan korban jiwa. Hal ini disebabkan pembuatan kanal untuk mengeringkannya tanpa ada tindakan membasahkannya lagi.

Hingga kini, tercatat 2,5 juta hektare lahan gambut luluh lantak, termasuk di Riau. Keseimbangan ekosistemnya hilang karena pembukaan hutan tanaman industri, perkebunan oleh korporasi ataupun masyarakat secara massif sejak belasan tahun belakangan.

Menurut Kepala Badan Restorasi (BRG) Gambut Nazir Foead, butuh waktu berpuluh-puluh tahun mengembalikan ekosistem gambut seperti sedia kala. Salah satu cara yang bisa dilakukan sekarang adalah manajemen kanal, sumur bor dan embung (kolam).

Di Riau sendiri, sudah ada ribuan sekat kanal dan sumur bor dibangun BRG sebagai upaya restorasi. Pekerjaan sejak dua tahun lalu ini mulai menunjukkan hasil, di mana radius 2,5 kilometer dari sekat kanal ataupun sumur bor tidak lagi ada kebakaran hutan.

"Lantas pertanyaannya, kenapa masih ada kebakaran lahan gambut di Riau sampai sekarang?" kata Nazir di Desa Bandar Sungai, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak, sebelum meninjau sekat kanal dan sumur bor yang dibangun bersama masyarakat sekitar.

Menurut Nazir, gambut yang terbakar itu berada di atas radius 2,5 kilometer dari sekat kanal ataupun sumur bor buatan BRG bersama warga. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diminta membuat sekat kanal supaya tak terjadi lagi kebakaran.

Dengan sekat kanal, kebasahan gambut tetap terjaga. Sumur bor juga berfungsi bagi petani untuk mendapatkan sumber air guna membasahi gambut jika musim kemarau panjang datang.

"Ini yang kini tengah kami dorong bersama pemerintah untuk memperbanyak sekat kanal dan sumur bor ini. Tahun ini targetnya 450 sumur bor, 331 sekat dan embung dua, di Meranti, Siak, Bengkalis serta lokasi terbakar saat ini," terang Nazir.

Pembuatan sekat dan sumur tentu saja tidak sembarangan. Tinggi muka air harus sesuai dengan kedalaman gambut, begitu juga dengan lebar sekat serta ketinggian pembendung.

2 dari 2 halaman

Sisi Ekonomi Lain

Sementara itu, pembuatan sekat dan sumur bor ini mendapat perhatian dari Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) TNI Moeldoko. Mantan Panglima TNI ini menyempatkan diri meninjau sekat kanal di Desa Bandar Sungai, Siak.

Didampingi Gubernur Riau Syamsuar dan Nazir, Moeldoko sempat berbincang dengan salah seorang warga. Warga tadi menyebut sekat kanal sangat bekerja membasahi gambutnya karena ketersediaan air bisa dijaga saat musim kemarau.

"Ini sudah hampir dua pekan tak turun hujan, tanpa sekat biasanya kanal sudah kering, ini masih ada," sebut warga tadi.

Warga tadi juga menyebut sudah ada beberapa sumur bor dibuat di lahan masyarakat. Sumur ini akan dihisap airnya oleh mesin pompa untuk membasahi permukaan gambut. Anggaran penyediaan mesin disebutnya sudah dianggarkan desa dan dibantu juga oleh BRG.

Selain membasahi, warga tadi juga menyebut masyarakat desanya juga ingin mengembangkan agrowisata di lahan gambut sebagai pembelajaran bagi generasi penerus. Diapun menyebut menyebar bibit ikan di kanal agar juga bernilai ekonomis.

"Tadi ada yang menyebut bisa disebar bibit, saya rasa sangat bagus dikembangkan," terang Moeldoko usai berbicara dengan warga tadi.

Terkait kebakaran yang terus terjadi di Riau, Moeldoko menyebut hal ini menjadi perhatian serius dari Presiden Joko Widodo. Diapun menyebut pemerintah pusat telah mengirim bantuan ke Riau untuk pemadaman api.

"Tadi dilihat di bandara, helikopternya sudah ada, mulai memadamkan api," terang Moeldoko.

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Theti Numan Agau, Perempuan Penjaga Gambut dari Kalteng
Artikel Selanjutnya
Restorasi Lahan Gambut Terbukti Kurangi Kebakaran Hutan