Sukses

Kaleidoskop: Heboh Remaja Bertelur hingga Drama Penyekapan 3 Bocah

Liputan6.com, Makassar - Banyak peristiwa menghebohkan yang terjadi sepanjang tahun 2018 di Sulawesi Selatan. Diawali pada bulan Januari tepatnya awal pergantian tahun. Kantor Polsek Bontoala, Makassar dilempari bom molotov oleh dua pemuda misterius yang hingga saat ini belum juga tertangkap.

Kemudian menyusul peristiwa heboh lainnya tentang keberadaan remaja di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang kembali bertelur pada bulan Februari 2018.

Selang sebulan, berita tentang remaja bertelur di Kabupaten Gowa itu redup, tiba-tiba kasus besar tentang penipuan yang dilakukan salah satu agen besar pengurusan umrah dan haji, PT Abu Tours, pun mencuat dan membuat sejumlah daerah di Sulsel heboh.

Setelah itu, masyarakat kembali dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan sadis satu keluarga di Jalan Tinumbu, Makassar, yang dilakoni oleh sindikat peredaran narkoba. Tak hanya kakek, cucunya yang berusia 2,5 tahun pun turut tewas dengan cara mengenaskan.

Selengkapnya berikut kejadian heboh yang terjadi selama tahun 2018 di Sulawesi Selatan.

Pria Misterius Lempari Polsek Bontoala Makassar Bom Molotov

Seorang pria misterius melempari Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Bontoala, Makassar dengan bom molotov usai perayaan pergantian tahun, tepatnya Senin, 1 Januari 2018 pukul 03.00 Wita.

Akibat kejadian itu, Kapolsek Bontoala, Kompol Rafiuddin, dan seorang anggotanya, Brigadir Polisi (Brigpol) Yudirsan, terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Makassar. Sedangkan, pelaku berhasil melarikan diri melewati area belakang Mapolsek Bontoala.

"Kedua korban terluka cukup berat akibat terkena serpihan ledakan. Pelaku sendiri kabur," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, Kombes Pol Dicky Sondani.

Identitas pelaku, kata Dicky, sudah diketahui. Hanya saja pihaknya belum dapat membocorkan lebih lanjut mengenai ciri-ciri pelaku yang melempar bom molotov ke Mapolsek Bontoala Makassar tersebut.

"Beberapa saksi mata sudah diambil keterangannya. Adapun di area belakang Mapolsek juga diamankan barang bukti berupa tas ransel milik pelaku," ucap Dicky.

Kapolsek Bontoala Makassar, Kompol Rafiuddin  mengaku melihat ada orang tak dikenal tiba-tiba muncul di depan Mapolsek Bontoala dan langsung melempar bom molotov ke halaman depan Mapolsek.

"Ledakan sebanyak tiga kali. Pelaku langsung lari lewat belakang," ucap Rafiuddin.

Setelah ledakan terjadi, ia pun menghubungi tim Penjinak Bom (Jibom) karena takut ada ledakan susulan. Tim Jibom Gegana Polda Sulsel tiba di lokasi langsung melakukan sterilisasi dan memasang garis polisi.

"Pelaku masih dalam pengejaran tim gabungan resmob," Rafiuddin menandaskan.

2 dari 7 halaman

Heboh Remaja di Gowa Bertelur

A, warga Desa Mangempang, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa yang berusia 15 tahun kembali bertelur.

"Dari hasil pemeriksaan rontgen tadi, ditemukan ada dua butir telur di dalam perutnya," kata Ruslim, ayah kandung Akmal saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RDUD) Syech Yusuf Kabupaten Gowa, Sulsel, Senin 19 Februari 2018.

Menurutnya, A, yang dulunya sempat bertelur juga, awalnya dilarikan ke puskesmas yang berada di dekat rumahnya karena menderita sakit perut dan hendak mengeluarkan telur melalui anusnya.

"Tapi pihak Puskesmas tidak sanggup menangani kelainan yang dialami anak saya sehingga dirujuk ke RSUD Syech Yusuf Gowa," terang Ruslim.

Ia mengaku saat di puskesmas, telur yang berada dalam perut anaknya nyaris keluar. Hanya saja, perawat yang ada di puskesmas tak mampu menangani. A kemudian menjalani perawatan di RSUD Syech Yusuf Kabupaten Gowa.

"Sebenarnya waktu di puskesmas sudah mau keluar telur dari lubang pantatnya, tapi pihak puskesmas tak mampu dan juga tak ada dokter sehingga dirujuk ke sini," jelas Ruslim.

Awal mula fenomena ajaib tersebut dialami Akmal sejak Juni 2015. Ketika itu, dia hanya sakit perut tak kunjung sembuh, hingga ia menangis kesakitan.

Karena kondisi demikian, orangtua Akmal meminta bantuan dukun beranak untuk mencoba mengeluarkan telur dari anus Akmal, seperti ayam yang sedang mengeram.

Peristiwa yang dialami A pun menjadi gempar tepatnya Minggu 7 Juni 2015 silam sekitar pukul 16.30 Wita.

"Karena khawatir terjadi sesuatu saat itu, saya membawanya ke rumah sakit ini juga. Setelah telurnya berhasil keluar melalui lubang duburnya," akui Ruslim.

Menurutnya, peristiwa langka yang dialami anaknya itu bukan pertama kalinya. Pada 2015, Akmal telah mengeluarkan telur sembilan butir melalui duburnya.

Peristiwa pertama terjadi di sekitar sungai Kecamatan Bungaya, kemudian berlanjut saat ia hendak buang air besar dan tiba-tiba telur kembali keluar dari duburnya.

"Tapi semuanya pecah tidak disengaja dan uniknya telur tersebut tak memiliki kuning telur," terang Ruslim.

Karena peristiwa yang dialaminya, A saat itu mulai menjadi perhatian masyarakat, keluarga pun memutuskan agar A dibawa ke rumah sakit yang sama yakni RSUD Syech Yusuf Sungguminasa Kabupaten Gowa tempat ia kembali dirawat karena mengalami hal yang sama.

A menjalani proses pemeriksaan medis secara detail. Pada tahun 2018 ini, ia kembali mengalami peristiwa yang sama seperti pada tahun 2015.

Kejadian ini pun memunculkan banyak komentar spekulatif sehingga pihak Polres Gowa menyelidiki secara resmi teka-teki peristiwa yang dialami A tersebut.

Namun belakangan setelah ditemukan beberapa fakta, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Gowa terpaksa menghentikan penyelidikan terhadap remaja bertelur itu. Karena remaja berusia 15 tahun itu ditengarai mengalami gangguan jiwa.

Keputusan itu diambil oleh kepolisian setelah memeriksa sedikitnya 7 saksi untuk mengungkap penyebab warga Desa Mangempang, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu bisa bertelur.

"Penyidikan melakukan pemeriksaan lebih dari tujuh saksi. Termasuk saudara A (Akmal) dan orangtuanya serta kembarannya, juga pamannya dan tetangganya, kita juga memeriksa tim dokter yang memeriksa A (Akmal) pada tahun 2015 dan 2018, dan tambahan satu dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Syech Yusuf," kata Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga, Sabtu, 3 Februari 2018, saat ditemui di Posko Resmob.

Dari hasil pemeriksaan itu, Shinto mengatakan penyidik menarik kesimpulan bahwa A, remaja bertelur itu mengalami gangguan emosi dan perilaku hingga gangguan kejiwaan.

"Sesungguhnya yang bersangkutan ini mengalami gangguan emosi dan perilaku di mana kondisi intelektual yang tidak sesuai dengan usianya. Lalu disimpulkan juga bahwa saudara A mengalami gangguan kejiwaan yang terkait dengan emosi dan perilaku tersebut," dia menjelaskan.

Menurut Shinto, salah satu indikator gangguan emosi dan perilaku ini adalah ketika A merasa bahwa dirinya bertelur, padahal fenomena seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia.

"Itu yang diidentifikasi dari dokter spesialis kejiwaan," sambung dia.

Sementara terkait dengan hasil rontgen yang menggambarkan adanya telur di dalam tubuh A, polisi dan dokter menduga A sengaja memasukkan telur itu ke dalam tubuhnya. Pasalnya, posisi telur yang berada tidak jauh dari lubang anus.

Dugaan tersebut terkait dengan penjelasan dr. Ratnah Hafid mengenai kondisi remaja bertelur itu. Ratnah menjelaskan bahwa setelah difoto rontgen, posisi telur yang ada di dalam tubuh Akmal berada di bagian usus besar.

"Posisi telur di bawah, di bagian rektum. Rektum itu saluran usus besar tempat penampungan tinja sebelum keluar, iya di situ," jelasnya.

 

3 dari 7 halaman

Ramai-Ramai Lapor Bos Abu Tours

Perkumpulan Mitra dan Agen Abu Tours (Permato) melaporkan bos Abu Tours, Hamzah Mamba, ke Polda Sulawesi Selatan pada Selasa (17/4/2018) siang.

Menurut Kuasa Hukum Permato, Muhammad Amin, pihaknya mengalami kerugian hingga Rp 518 miliar dari 41.188 jemaah yang belum diberangkatkan umrah.

"Saya di sini sebagai kuasa humus Permato, Permato itu berbadan hukum dan membawahi ratusan agen dan mitra Abu Tours. Siang tadi saya melapor ke Polda Sulsel, karena 41.188 jamaah kami belum berangkat, kalau di rupiahkan sekitar Rp 518 miliar," kata Amin saat ditemui di bilangan jalan Toddopuli Raya Timur, Makassar, Selasa malam 17 April 2018.

Ia juga memastikan bahwa jumlah tersebut masih akan bertambah lagi, karena masih ada mitra dan agen yang belum melaporkan jamaahnya kepada Permato.

"Masih akan bertambah lagi, terakhir informasinya ada tambahan 1000 jamaah lagi," ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, mitra dan agen Abu Tours yang tergabung dalam Permato ini tersebar di seluruh Indonesia. "Yang terdata sementara ini baru dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Tapi kami sedang tunggu data dari agen yang ada di pulau Jawa dan Sumatera," imbuhnya.

Menurutnya, puluhan ribu jemaah Abu Tours tersebut telah membayarkan uang sebesar Rp 14 juta hingga Rp 18 juta untuk bisa berangkat umrah. Dan telah membayar sejak tahun 2016 hingga tahun 2017.

"Dijanjikan berangkat itu periode Januari, Februari, Maret dan April tahun ini. Tapi tidak ada yang berangkat sampai sekarang," jelasnya.

Bahkan, kata dia, pihak agen dan mitra harus berkorban membiayai jemaah yang selama ini diberangkatkan sedikit demi sedikit. Pasalnya uang jamaah yang telah disetorkan ke Abu Tours telah digelapkan.

"Agen tidak punya pilihan lain, dari pada jamaahnya mengamuk," ucapnya.

 

4 dari 7 halaman

Perkembangan Kasus Abu Tours

Kementerian Agama Wilayah Sulawesi Selatan telah melakukan investigasi dan menemukan bahwa Abu Tours telah mengalami kesulitan dalam membiayai ribuan jamaah untuk pergi umrah.

Berdasarkan data yang diterima Liputan6.com, sedikitnya ada 86.720 jemaah Abu Tours yang tertunda bahkan hingga batal berangkat umrah. Kerugiannya pun ditaksir hingga Rp 1,8 triliun.

Direktorat Kriminal Khusus Polda Sulsel yang menangani kasus ini juga telah menetapkan bos Abu Tours, Hamzah Mamba sebagai tersangka pada Jumat, 23 Maret 2018, setelah dilaporkan dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana umrah jemaahnya.

Tim penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel juga telah melakukan penyitaan terhadap aset-aset milik Abu Tours.

Menurut Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, jika dirupiahkan sitaan barang berharga milik Abu Tours telah mencapai kisaran angka Rp 150 miliar.

"Penyitaan aset tersebut telah dilakukan diberbagai termpat baik aset bergerak maupun yang tidak bergerak," kata Dicky beberapa waktu lalu.

Dicky merinci, aset tidak bergerak yang telah disita oleh pihak kepolisian berjumlah 21 buah, selain di Sulawesi Selatan aset-aset tersebut juga tersebar di berbagai daerah seperti Jakarta dan Depok.

"Aset tidak bergerak yang kita sita itu seperti rumah dan lain sebagainya. Yang jelas di Makassar ada 17 aset, lalu di Jakarta dan Depok masing-masing dua aset," sebutnya.

Sementara untuk aset bergerak yang telah disita oleh pihak kepolisian berjumlah 34 unit, aset-aset tersebut juga tersebar diberbagai daerah.

"Diantaranya penyitaan yang dilakukan di Kota Makassar 16 unit kendaraan roda empat dan empat unit kendaraan roda dua. Lalu di Jakarta 13 unit kendaraan roda empat dan satu unit kendaraan roda empat di Palembang," Dicky merinci.

Lalu ada pula penyitaan aset elektronik yang berjumlah 33 unit. Sama seperti aset-aset lainnya, seluruh aset elektronik ini juga disita diberbagai daerah.

"Di Kota Makassar kita sita 24 unit komputer dan tiga buah laptop. Di Jakarta Selatan kita sita 2 unit komputer dan empat buah kamera," sebutnya.

Selain itu, tim penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel juga telah menyita barang bukti berupa mata uang asing milik bos Abu Tours, Hamzah Mamba.

Berdasarkan data tertulis yang diterima Liputan6.com, mata uang asing yang disita oleh pihak kepolisian dilakukan di dua tempat berbeda.

Di Makassar pihak kepolisian menyita 11.250 Riyal mata uang Arab Saudi, 140 USD mata uang Amerika dan 2. 492.000 rupiah mata uang Indonesia. Sementara di Depok, pihak kepolisian berhasil menyita 43 Riyal mata uang Arab Saudi, 7 Ringgit mata uang Malaysia, 1 Dinar mata uang Arab Saudi, 1 USD mata uang Amerika dan 62 SGD mata uang Singapura.

Dicky mengatakan aset-Aset yang telah disita tersebut sebagian telah dibawa ke Polda Sulsel. Namun sebagian aset lainnya yang disita ada dititip di kantor polisi lainnya sesuai lokasi penyitaan.

"Tidak semua dibawa ke Polda, sebagian aset yang disita dititip," Dicky memungkasi.

 

5 dari 7 halaman

Tenggelamnya KM Arsita dan KM Lestari Maju

Suasana duka menyelimuti masyarakat Sulsel. Pasalnya, sebuah kapal kayu yang diperkirakan bermuatan 70 orang dikabarkan tenggelam di Perairan Makassar, Rabu 13 Juni 2018.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan kapal kayu tersebut awalnya melaju dari Pulau Barrang Lompo menuju Pelabuhan Paotere yang terletak di Kecamatan Ujung Tanah, Makassar.

Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Tradisional Paotere, kapal kayu tersebut hilang kendali dan langsung karam saat diterjang gelombang laut yang cukup tinggi.

"Personel Direktorat Polairud, Satuan Polairud Polres Pelabuhan Makassar, Kapal BKO Baharkam Polri dan Basarnas sementara mengevakuasi para korban," kata Dicky via telepon.

Korban yang berhasil dievakuasi dibawa dan ditangani sementara oleh tim medis yang bersiaga di Posko Operasi Ketupat 2018 yang terletak di Pelabuhan Tradisional Paotere, Makassar untuk dibawa ke Rumah Sakit (RS) terdekat.

"Jumlah korban yang dievakusi 37 orang di mana 13 orang tewas dan 24 orang ditemukan selamat dan sedang menjalani perawatan medis lebih lanjut di beberapa rumah sakit yang berbeda," terang Dicky.

Menurut salah seorang penumpang selamat yang berhasil dievakuasi, Raudah, mengatakan kejadian karamnya kapal kayu Arista bermula saat kapal yang ditumpangi 38 orang tersebut meninggalkan Pelabuhan Tradisional Paotere, Makassar menuju Pulau Barrang Lompo.

Dalam perjalanan tepatnya sekitar 9 mil dari Pelabuhan Tradisional Paotere, Makassar, kapal KM Arsita dihantam angin dan ombak besar yang mengakibatkan KM. Arista terbalik hingga tenggelam alias karam di Perairan Makassar- Perairan Gusung, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar.

Selang sebulan, suasana duka itu kembali berlanjut. KM Lestari Maju dikabarkan juga tenggelam di Perairan Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Selasa 3 Juli 2018 sekitar pukul 14.00 Wita.

KM Lestari Maju yang kesehariannya dimanfaatkan warga untuk menyeberang dari Kepulauan Bira, Kabupaten Bulukumba, menuju ke Pulau Pammatata, Kabupaten Kepulauan Selayar itu tiba-tiba mengalami kebocoran di tengah perjalanan, tak jauh dari Kepulauan Bira, Kabupaten Bulukumba.

"Kapal Motor yang dikabarkan tenggelam tersebut merupakan kapal penumpang bernama KM Lestari Maju," kata Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP Syamsu Ridwan via pesan singkat.

Data sementara yang ia ketahui, KM Lestari Maju tersebut tak hanya mengangkut ratusan penumpang, tetapi juga sejumlah kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat.

"Tim gabungan berupa Basarnas, Polres Bulukumba dan Selayar sementara perjalanan menuju lokasi kejadian untuk mengevakuasi," ucap Ridwan.

Berdasarkan dokumentasi yang tersebar, para penumpang terlihat mengapung di lautan dengan menggunakan jaket pelampung. Sementara, sejumlah kendaraan terjun ke laut sesaat kapal karam.

Hasil pendataan terakhir setelah proses evakuasi pun menyatakan dalam peristiwa tersebut menewaskan 36 orang penumpang.

6 dari 7 halaman

Pembunuhan Sadis Satu Keluarga di Makassar

Tak hanya Fahri yang menjadi korban, 5 orang keluarganya turut tewas mengenaskan dalam peristiwa pembakaran yang dilakukan oleh sindikat peredaran narkoba pimpinan Akbar Daeng Ampu tersebut.

Mereka yang tewas dalam peristiwa sadis tersebut, masing-masing pemilik rumah H Sanusi (70), istrinya Hj Bodeng (65), anak perempuannya Musdalifa (30), serta cucunya Ahmad Fahri (25), Namira Ramadina (21), dan Hijas (2,5).

"Yang sangat menyedihkan, tindakan sadis pelaku juga telah menewaskan mereka yang tahu apa-apa yakni kakek Fahri, Haji Sanusi (70) dan cucunya, Hijaz usia 2,5 tahun," ucap Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Kapolrestabes) Makassar, Kombes Pol Irwan Anwar.

Hijaz, ungkap Irwan, selama ini dipelihara oleh kakeknya, Haji Sanusi karena bapaknya sedang berada di Papua mencari pekerjaan. Sedangkan, ibunya sudah lama meninggal dunia sejak Hijaz masih bayi.

Tim pun berupaya menangkap seluruh pelaku yang terlibat dalam pembunuhan sadis satu keluarga tersebut. Hanya berlangsung dua minggu, seluruh pelaku berhasil tertangkap. Terakhir yang tertangkap yakni ZA alias Rammang alias Appang (23).

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polrestabes Makassar, Kompol Diari Estetika mengatakan tim Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polrestabes Makassar berhasil menangkap Zulkifli di Kota Pare-Pare setelah dibuntuti selama 4 hari.

"Tim membuntutinya dari Kabupaten Toraja kemudian bergeser ke Kota Pare-Pare. Di situlah tim menyergapnya saat pelaku berada di rumahnya tepatnya pada pukul 21.00 wita," kata Diari, Sabtu 18 Agustus 2018.

Saat hendak ditangkap, Z sempat melawan dan kabur. Namun tim Jatanras yang sejak awal mengepung rumahnya lebih sigap.

"Nyaris dia kabur dan saat diberi tembakan peringatan tetap berusaha kabur sehingga anggota tim Jatanras melumpuhkannya dengan sekali tembakan tepat di bagian betisnya," jelas Diari.

Dalam kasus pembunuhan sadis satu keluarga di Jalan Tinumbu, Kecamatan Tallo, Makassar tersebut, Z berperan ganda. Selain bertugas mencari alamat rumah korban, ia juga yang berinisiatif membeli bahan bakar bensin dan membakar rumah yang didalamnya terdapat korban dan beberapa kerabatnya.

"Seluruh korban tewas terbakar. Sehingga atas perbuatan sadisnya itu, pelaku kita jerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 340 KUHP Jo Pasal 187 KUHP Jo Pasal 170 KUHP. Dimana ancaman pidananya seumur hidup," tutur Diari.

Pelaku, ZA mengatakan ia terlibat dalam pembunuhan sadis satu keluarga di Jalan Tinumbu, Kecamatan Tallo, Makassar tersebut bermula diajak oleh pelaku lainnya yang lebih awal tertangkap yakni bernama AMI alias Ilo (23).

 

Ia mengaku nekat membakar rumah korban saat korban dan kerabatnya berada di dalam rumah tersebut, karena merasa kecewa dengan korban, Fahri yang tak mau membayar utang narkobanya sesuai yang dikatakan Ilo kepadanya.

"Dia (Fahri) malah rencananya mau menghindari utangnya dan akan kabur ke Kendari. Sehingga saya kecewa sehingga langsung menyiram rumahnya dengan bensin dan membakarnya," ungkap Fahri.

Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Kapolrestabes) Makassar, Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan dalam peristiwa kebakaran yang dialami oleh satu keluarga di Jalan Tinumbu tersebut, murni karena telah direncanakan oleh para pelaku yang masuk dalam jaringan sindikat peredaran narkoba di Makassar.

Pelaku yang berhasil diamankan, semuanya berjumlah 6 orang. Masing-masing memiliki peran yang berbeda. Di mana tiga pelaku masing-masing W (23), Ch (25) dan RI (23) berperan menganiaya setelah gagal menagih hutang pembelian narkoba kepada salah satu korban bernama Ahmad Fahri (25). Sementara AMI (23) alias Ilo, warga Jalan Borong bersama dengan ZA alias Rammang alias Appang berperan membakar rumah korban.

 

Awal perkenalan Akbar dengan Fahri, bermula dari Iwan. Kemudian Akbar mencoba memberi Fahri narkoba sebanyak 9 paket seharga Rp 10 juta. Meski ia sendiri masih berada di dalam Lapas Klas 1 Makassar.

"Sabu diberikan ke Fahri dari hasil komunikasi via telepon antara Akbar yang berada di Lapas Klas 1 Makassar dengan Aswar pemilik sabu yang berada diluar Lapas dan saat ini Aswar masih dalam pengejaran tim. Tapi kasusnya berbeda. Dimana Aswar kita kejar dalam penanganan kasus narkoba bukan terkait pembakaran maupun penganiayaan," ungkap Irwan.

 

 

7 dari 7 halaman

Perjuangan Dramatis 3 Bocah Kabur dari Penyekapan Ibu Asuh di Makassar

Peristiwa terakhir yang juga cukup menyita perhatian masyarakat tepatnya terjadi pada bulan September 2018. Tiga bocah bersaudara masing-masing bocah laki-laki inisial AW (10) dan dua bocah perempuan inisial US (5) dan inisal DV (2,5) berhasil kabur dari upaya penyekapan dan penyiksaan yang diduga dilakukan oleh ibu asuhnya yang bernama Meilania Detaly alias Memey.

Mereka kabur dari sebuah ruko berlantai 3 tepatnya berada di Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakukang, Makassar, Minggu, 16 September 2018.

Ketiganya nekat kabur dari rumahnya setelah ibu asuhnya keluar dari rumah. AW yang merupakan anak tertua dari kedua saudaranya tersebut bertindak bak pahlawan. Ia yang menyusun rencana agar mereka dapat keluar dari rumah yang selama ini dijadikan ibu asuhnya tempat menyekap dan menyiksa mereka.

"AW ini menggunakan besi tumpul yang biasa dipakai ibunya memukulnya untuk digunakan mencungkil gembok pintu rumahnya. Setelah pintu terbuka, ketiganya pun berpencar," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono via telepon, Selasa 18 September 2018.

AW meninggalkan kedua adiknya mencari perlindungan ke seorang pendeta di sebuah Gereja yang berlokasi di Jalan Toddopuli, Makassar. Sementara kedua adiknya diselamatkan warga dan diserahkan ke sekuriti perumahan dan selanjutnya diserahkan ke Dinas Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP3A) Kota Makassar.

"Pelaku sendiri (Memey) menyerahkan diri ke DP3A Makassar Senin, 17 September 2018 pukul 15.30 Wita dan kemudian diserahkan ke Unit PPA Polrestabes Makassar dan saat ini pelaku sudah diamankan dan sedang menjalani proses penyidikan," ucap Wirdhanto.

Untuk bahan penyidikan, penyidik PPA Polrestabes Makassar juga telah mengambil keterangan beberapa saksi-saksi dari warga setempat serta ketiga korban.

"Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) juga sudah dilakukan. Di mana kita telah mengamankan sejumlah barang bukti berupa besi tumpul, beberapa puntung rokok dan menemukan sejumlah hewan peliharaan di antaranya anjing, kucing dan ular dari lantai 3 rumah tempat penyekapan ketiga korban," ungkap Wirdhanto.

Ketua RT 5 RW 3 Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakukang, Makassar setempat, Nuraeni mengatakan ketiga bocah tersebut kerap melambaikan tangan dari balik jendela yang berada di lantai tiga rumahnya sembari memegang perutnya.

"Sering ketiga anak tersebut menyapa warga dari balik jendela lantai tiga rumahnya. Mereka seakan memberikan isyarat jika mereka lapar. Tapi rumahnya terkunci. Dikunci dari luar oleh ibu asuhnya," terang Nuraeni saat ditemui dirumahnya, Selasa (18/9/2018).

Menurut Nuryati, ketiga bocah bersama ibu asuhnya tinggal di rumahnya sejak 2 tahun lalu dan tidak pernah ingin bergaul dengan masyarakat setempat. Pintu rumahnya pun selalu tergembok.

"Jadi memang ibu asuh ketiga bocah tersebut perilakunya sangat aneh. Ketiga bocah dilarang keluar rumah kalau dia ada di rumah. Dan sering tetangganya dengar ia menyiksa ketiga bocah tersebut dari dalam rumah. Bocah tertua malah tak dibiarkan bersekolah padahal jika sekolah dia sudah kelas 5 SD," beber Nuraeni.

Buktinya, lanjut Nuraeni, saat ketiganya diamankan oleh DP3A Makassar, kondisi ketiganya sangat menyedihkan. Bahkan, dua adiknya ada bekas luka bakar bekas sundulan rokok di bagian tangannya.

"Saya sempat tanya anak tersebut dan mereka katakan betul kalau dihukum oleh ibu asuhnya, mereka disundut rokok yang ada apinya. Meski ibunya tersebut tak merokok. Jadi ibunya sepertinya beli rokok untuk nantinya dibakar sebagai mediasi penghukuman bagi ketiga bocah kalau dianggap nakal," ungkap Nuraeni.

Bekas luka sundutan rokok, beber Nuryati, hampir menghiasi lengan tangan ketiga bocah tersebut. Termasuk bocah terbungsu. Lebih dari satu bekas sundutan rokok di tangannya.

"Pokoknya sangat memiriskan kondisinya. Tega amat ini ibu asuhnya. Semoga pihak kepolisian menghukumnya setimpal," tutur Nuraeni.

Tak hanya itu, selain tidur hanya beralaskan tikar, ketiga bocah yang diduga disekap dan disiksa oleh ibu asuhnya tersebut, juga tidur bersama hewan peliharaan di antaranya ada kucing, anjing, dan ular.

"Ketiganya tidur bersama hewan peliharaan yang ada di lantai 3. Kalau lantai dua rumahnya wujudnya seperti gudang. Sementara lantai dasar ada usaha semacam butik pakaian," jelas Nuraeni.

Kepala Dinas Perlindungan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP3A) Kota Makassar, Tenri Andi Palallo mengatakan saat kabar kaburnya ketiga bocah dari rumah penyekapan ibu asuhnya ini heboh, pelaku yang merupakan ibu asuhnya tersebut tiba-tiba menyerahkan diri ke DP3A, Senin 18 September 2018 sekitar pukul 15.30 Wita.

"Memey (Ibu asuh ketiga bocah) bukanlah orang asing bagi petugas DP3A Makassar. Karena dulu pernah dibantu saat dia jadi korban KDRT oleh suaminya sendiri. Dan saat itu kita sempat mediasi dengan menghadirkan pendeta untuk mendamaikan," jelas Tenri.

Namun, saat kejadian ini pihaknya sangat menyayangkan perbuatan Memey yang tega menyekap dan menyiksa ketiga bocah asuhnya tersebut.

"Bahkan Memey sempat melapor ke pos bantuan hukum (Posbakum) dengan aduan jika ketiga anaknya diculik oleh DP3A Makassar. Sehingga petugas posbakum mendatangi kantor DP3A. Tapi kami mengarahkan petugas posbakum tersebut ke Polrestabes Makassar untuk mendapatkan penjelasan dan akhirnya mereka menghentikan pendampingan kepada Memey," ungkap Tenri.

Selama ibu asuhnya dalam proses hukum di unit PPA Polrestabes Makassar, ketiga bocah dalam perawatan oleh DP3A Kota Makassar.

"Alhamdulillah ketiganya sudah riang dalam pembinaan DP3A. Kita juga akan menyediakan ahli psikologi agar psikologis ketiganya membaik dan layaknya anak pada umumnya," terang Tenri. 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Diputar dan Raih Piala di Festival Internasional, Apa Kelebihan Film Kado?
Artikel Selanjutnya
Tanggapan Akademisi soal Kasus Korupsi Pengadaan Kapal Latih SMK di Sulsel