Sukses

Pagi-Pagi Mengingat Banda Neira

Liputan6.com, Jakarta - Kepulauan Banda masuk dalam wilayah Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Berjarak sekitar 140 kilometer ke arah selatan Pulau Seram. Banda Neira atau Banda Naira adalah salah satu pulau di Kepulauan Banda, dan merupakan pusat administratif Kecamatan Banda.

Secara administratif, Banda Neira terbagi dalam enam desa, yakni Dwiwarna, Kampung Baru, Merdeka, Nusantara, Rajawali, dan Tanah Rata.

Kepulauan Banda menorehkan sejarah di Indonesia, terkenal sebagai penghasil rempah-rempah mahal, salah satunya pala. 

Maluku secara umum memang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar, seperti pala dan cengkih, yang paling dicari oleh negara-negara di Eropa sejak dahulu. Karena awalnya pala dan cengkih hanya ditemukan di Maluku, pulau tersebut dijuluki The Spice Island.

Rempah-rempah dinilai sangat berharga, bukan hanya karena manfaatnya sebagai penambah rasa masakan, tapi juga fungsi sebagai obat-obatan. Pada saat itu, pala digunakan sebagai obat untuk penyakit pes yang pernah mewabahi Eropa. Akibatnya , harga pala menjadi mahal dan tidak banyak daerah yang menghasilkan rempah-rempah ini.

Kepulauan Banda sendiri terdiri atas 10 pulau vulkanis yang tersebar di Laut Banda, seperti Pulau Banda Besar, Run, Ay, Nailaka, juga Pulau Hatta dan Syahrir. Pulau Run yang merupakan salah satu penghasil pala di Kepulauan Banda, sempat menjadi penyebab Perang Inggris-Belanda pada tahun 1652-1654.

Pada 31 Juli 1667, Inggris dan Belanda menyepakati Perjanjian Breda, yang berisi bahwa Pulau Run diserahkan kepada Belanda, sementara Inggris mendapatkan New Amsterdam, yang sekarang bernama Manhattan di New York, Amerika Serikat.

Ratusan tahun kemudian, Manhattan berkembang menjadi kota metropolis, sementara Pulau Run kian terlupakan.

Selain sebagai penghasil pala, Kepulauan Banda turut pula berperan penting dalam lahirnya Indonesia. Di Banda, kolonialisme dimulai. Namun, di Banda pula ide-ide kebangsaan lahir.

Pada saat hampir bersamaan, empat orang founding fathers Indonesia: Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri dibuang ke Banda Neira. Kisah terusirnya pribumi dan kedatangan bangsa-bangsa yang kemudian menjadi orang Banda dalam ragam interaksi sosial budaya membuat Sutan Sjahrir menjadikannya sebagai salah satu gagasan dalam perumusan Undang-Undang Dasar.

Saat ini Banda tetap bertahan dengan industri perikanan dan pariwisata bawah lautnya. Pala Banda yang pernah menjadi koordinat penting dalam sejarah penjelajahan dan penaklukan manusia, hari ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa saat ini tidak lagi lebih dari komoditas sampingan karena tidak adanya inovasi dan kebaruan. Banda tetap bertahan walaupun dengan denyut nadi yang lemah.

(Devi Yunita Parede, dari berbagai sumber)