Sukses

Gubernur Bali Berharap Ada Campur Tangan Dukun di Rumah Sakit

Bali - Melihat banyaknya potensi tanaman obat di Bali, Gubernur Wayan Koster ingin menjadikan bali sebagai kawasan industri obat tradisional.

Bali dalam pandangan Koster, punya kekayaan tanaman obat. Setidaknya Bali punya 3.000 jenis tanaman obat yang jika dikembangkan bisa sangat berguna bagi masyarakat.

"Saat ini produksi yang terkenal dari Bangli adalah loloh cemcem dan loloh kunyit saja, dan itu terbukti bagus untuk kesehatan masyarakat, kenapa tidak kembangkan saja itu," ungkap Koster seperti dikutip laman Jawapos, Jumat (2/1/2018).

Ia berharap ke depan bisa membuat industri obat-obatan herbal yang memang sudah teruji secara klinis. Hal tersebut menurut dia sudah dikembangkan di Tiongkok, sehingga pengobatan herbal dan modern di negeri itu bisa disinergikan.

"Ke depan saya harap Bali akan menjadi pusat pengobatan herbal di Indonesia, bahkan bisa menyaingi Tiongkok," ucapnya.

Selain pengobatan, Gubernur Koster juga berencana akan memfasilitasi para tenaga pengobatan herbal atau yang lebih dikenal sebagai balian atau dukun.

Dukun yang telah bersertifikat dan telah praktik selama ini akan didata untuk selanjutnya difasilitasi di rumah sakit di Bali, baik milik pemerintah maupun swasta, agar bisa bersinergi dengan dokter.

"Selama ini kita telah kenal dengan pengobatan Usada yang bersumber dari Ayur Weda, bahkan sudah ada di UNHI, jadi kita akan kembangkan itu," ucapnya.

Apalagi saat ini sudah ada peraturan yang mengatur tentang pengobat tradisional, yaitu PP 103 th 2004 tentang pelayanan pengobatan tradisional. Bahkan dalam UU 36 Tahun 2009 pengobat tradisional terakomodasi sebagai tenaga kesehatan. Untuk melancarkan rencana tersebut, Koster bahkan akan bekerja sama dengan Universitas Udayana.

Untuk memfasilitasi semua rencana tersebut, pihaknya mengakui akan menyiapkan payung hukum. Pihaknya, ungkap Koster, akan menyiapkan Perda yang mengatur tentang industri pengobatan tradisional.

Selain itu, ia juga berencana menyiapkan laboratorium untuk penelitian serta tanah Pemprov di Bangli diperuntukkan budi daya tanaman obat. Alasan pemilihan Bangli karena udara yang dingin dan sangat cocok untuk budi daya tersebut.

"Jika rencana ini berhasil akan membuka peluang ekonomi lebih luas dan ke depan bisa menjadi destinasi wisata baru di Bali. Karena kita semakin menyadari jika gaya hidup orang sekarang semakin beralih ke gaya hidup alami," katanya.

Direktur Produksi dan Distribusi Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Agusdini Banun Saptaningsih sangat mendukung rencana tersebut.

Apalagi menurut dia, di Kementerian Kesehatan sudah ada direktorat pengobatan herbal yang mengembangkan obat-obat tradisional seperti jamu. Ia mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi pasar dan keanekaragaman hayati tinggi yang mendukung pengembangan obat tradisional.

Baca juga berita Jawapos lainnya di sini

Simak juga video pilihan berikut ini: