Sukses

Polemik Acara Klawing Playon Sonten, Ajak Sumanto Lari Bersama Warga

Liputan6.com, Purbalingga - Acara lomba lari menyusuri tepi sungai Klawing di Purbalingga, Jawa Tengah yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Oktober 2018, mendapat sorotan negatif dari warganet. Sebab, Sumanto yang memiliki sejarah memakan mayat manusia pada 2003 silam, dihadirkan dalam tajuk acara "Klawing Playon Sonten, Lari Dikejar Sumanto".

 

Sejumlah warganet menilai panitia acara menjadikan gangguan jiwa yang diderita Sumanto sebagai bahan olok-olok. Padahal, Sumanto tengah menjalani proses rehabilitasi dari penyakitnya itu.

Namun, ada juga komentar warganet yang menengahi argumen tersebut. Seperti yang diutarakan pemilik akun @achriest_tn. Menurutnya, kehadiran Sumanto justru sebuah metode agar masyarakat menerima lagi keberadaannya.

Pendapat lain diutarakan pemilik akun @dionsatrya, dia memuji ide cerdas dan kreatif penyelenggara. Hanya saja, dia merasa kasihan kepada Sumanto yang dijadikan 'bahan' media promosi untuk mengangkat acara.

Sementara itu, pengamat wisata dan budaya, Chusmeru memandang acara lari sore bisa dijadikan sebagai sport tourism. Kekhasan 'Klawing Playon Sonten' menurutnya menjadi atraksi wisata Purbalingga yang berbeda dengan daerah lain.

Tetapi, Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Jenderal Soedirman itu menyayangkan pemanfaatan ikon Sumanto. Sebab, selama ini publik sudah melihat Sumanto dengan stigma yang kelam. Penggunaan ikon Sumanto pun dikhawatirkan akan berdampak negatif secara keseluruhan.

"Jangan sampai sosok Sumanto malah jadi objek lucu-lucuan, yang terdampak tentunya citra pariwisata Purbalingga secara umum," ujarnya, Selasa, 16 Oktober 2018.

Chusmeru mengingatkan inovasi dan kreativitas dalam menciptakan acara memang diperlukan, tetapi patut mempertimbangkan kearifan lokal sebagai ciri khas. Menurutnya, tajuk 'Lari Dikejar Sumanto' menandakan ketidaksiapan panitia dalam menemukan kekhasan produk wisata yang hendak dipasarkan.

 

2 dari 3 halaman

Panitia Meminta Maaf

Ketua panitia Klawing Playon Sonten, Teguh Setiawan (43) serta merta mengucapkan permohonan maafnya kepada masyarakat saat Liputan6.com meminta tanggapannya mengenai sorotan negatif dari warganet tersebut. Dia pun menyatakan tidak ada niat untuk mengeksploitasi Sumanto.

"Kami sungguh minta maaf, tidak ada niat mengeksploitasi Sumanto. Ini acara pertama yang diselenggarakan oleh Komunitas Pinggir Klawing dan Purbalingga Runners, jadi kami minta juga masyarakat tidak menyalahkan Pemerintah Kabupaten," katanya.

Teguh mengutarakan kehadiran Sumanto memang menjadi daya tarik acara tersebut, tetapi di sisi lain juga bertujuan membantunya berinteraksi dengan masyarakat. Sekaligus sebagai upaya mengubah stigma negatif Sumanto menjadi citra positif.

Pada acara Klawing Playon Sonten juga tidak ada adegan Sumanto mengejar 793 peserta yang ikut. Video serta foto yang beredar semata-mata dokumentasi dari peserta sendiri sebagai kenang-kenangan mengikuti acara.

"Kita lihat pada acara kemarin, masyarakat maupun Sumanto sendiri mengikuti acara dengan enjoy," katanya.

Teguh mengatakan lomba lari sore di tepi Sungai Klawing berawal dari niat masyarakat sekitar, yakni warga RW 5 dan 6, Kelurahan Bancar untuk mengangkat potensi wisata. Selama ini, potensi pinggiran kota seakan terabaikan dengan fokus pengembangan desa wisata.

Panorama tepi sungai, coffee shop, warung kuliner khas Purbalingga, fasilitas olahraga darat maupun air, panggung konser, jogging track, lighting warna warni, jika diramu jadi satu bakal jadi destinasi wisata malam hari yang menarik. Teguh mengungkapkan rencana tersebut sudah tergambarkan dan akan segera direalisasi Pemerintah Kabupaten.

"Wisata malam sendiri belum ada di Purbalingga, niat kami meramaikan tepi Klawing untuk mengangkat ekonomi masyarakat," ujarnya.

Plt Bupati Purbaligga, Dyah Hayuning Pratiwi membantah komentar warganet bahwa acara tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten. Meski demikian, dia berpikiran positif panitia tidak ada niat untuk menjadikan Sumanto sebagai bahan candaan.

"Justru dengan kemarin Sumanto keluar, masyarakat banyak yang tahu bahwa rehabilitasi Sumanto selama ini berhasil karena Sumanto sudah bisa bersosialisasi dengan masyarakat," katanya.

 

 

3 dari 3 halaman

Sumanto Biasa Jadi Tamu Undangan

KH Supono Mustajab, pengasuh Panti Rehabilitasi Mental dan Narkoba AN-Nur H Mustajab, Desa Bungkanel, Purbalingga tempat Sumanto dirawat meminta masyarakat tidak kaget mendengar Sumanto diundang acara. Dia memang berulang kali tampil sebagai tamu undangan baik di Purbalingga, maupun di luar kota.

Supono menuturkan, sebelumnya Sumanto membuka acara lomba balap motor trail di Jakarta dan Sumatera Selatan. Bahkan, sudah ada event organizer dari Papua yang menghubungi, hanya saja jadwalnya belum pasti.

"Ndak apa-apa, selama kegiatan positif dengan niat baik memajukan bangsa, kita terima," katanya.

Bahkan, tak jarang, Sumanto tidak mendapat 'sangu' dari panitia penyelenggara. Seperti pada acara Klawing Playon Sonten, dia hanya mendapat sepatu dan seragam untuk lari.

Padahal, Supono kerap tombok menuruti kemauan Sumanto yang seperti anak kecil. Seperti usai acara itu, dia mesti merogoh kocek sendiri kala anak angkatnya meminta dibelikan rokok dan sate ayam.

Tanpa undangan seperti itu pun, selama ini Sumanto sering diajak Supono untuk mengisi pengajian. Sesekali, dia diminta naik panggung untuk memberikan wejangan kepada masyarakat.

"Pertama lihat rasanya 'Wah, Sumanto' tapi kalau diajak ngobrol ya dia sudah sembuh, hanya saja seringkali bicaranya ndak nyambung," ujarnya.

Supono menuturkan, stigma kelam Sumanto tidak bisa dihapus begitu saja. Kerelaannya memenuhi undangan untuk Sumanto juga merupakan bagian agar dia bisa berbaur dengan masyarakat.

Jadi, komentar negatif di media sosial, menurutnya tidak perlu diperpanjang. Sumanto sendiri lebih senang keluar bermasyarakat daripada sekadar diam di panti rehabilitasi.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Elegi Wayang Suket, Berjaya di Luar Negeri Mati Suri di Negeri Sendiri
Artikel Selanjutnya
Empati Santri dan Pegiat Seni untuk Korban Gempa Palu dan Donggala