Sukses

Selamat Datang di Jalur Neraka Konawe Sultra

Liputan6.com, Konawe Utara - Kabupaten Konawe telah belasan tahun menjadi daerah lumbung beras bagi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Di sisi lain, kabupaten ini juga dikenal sebagai daerah dengan jalur neraka, jalur darat berbahaya.

Jalur rusak parah memanjang di tiga desa, Besu, Mendikonu, dan Wonua Morini. Ketiganya terletak di Kecamatan Morosi, lokasi berdirinya salah satu smelter nikel terbesar di Sulawesi Tenggara.

Jika musim hujan tiba, jalan yang menghubungkan Kabupaten Konawe dan Konawe Utara itu dijuluki warga sebagai jalur neraka. Lumpur dan lubang terhampr di sepanjang jalan menuju perbatasan dua kabupaten.

Lubang menganga bertebaran bagai bekas letusan granat tangan di sepanjang jalan menjadi tantangan berat bagi pemotor. Belum lagi, lumpur paling rendah setinggi lutut akan dijumpai sehari-hari. Pada 2017 lalu, lubang di jalan pernah sedalam 1 meter.

Saat ini, paling dalam lubang bisa mencapai setengah meter. Jika tak memakai sepatu khusus, sebagian besar pemotor harus rela'bermain tanah'. Tidak jarang, motor harus mati mesin ketika terjebak di dalam lumpur saat musim hujan.

Jalur ini mau tidak mau harus dilewati pengendara dari Kota Kendari jika ingin menuju Konawe Utara atau sebaliknya. Sebuah jalan alternatif sudah dibuat, namun hampir sama rusaknya dengan lokasi ini.

Bagi pengemudi kendaraan roda empat, tantangan bukan saja datang dari alam. Di sisi lain, sopir harus rela merogoh kocek sekitar Rp 100 ribu untuk melewati rute jika hujan deras menerjang.

"Kita bayar warga yang menjadi tukang tarik kendaraan kalau jalanan sudah tidak bersahabat, mobil kita ditarik warga ramai-ramai,"ujar salah satu sopir yang melintas di Kecamatan Morosi, Sofyan Alam, Kamis, 17 Mei 2018.

Sejak sejumlah perusahaan tambang lainnya merambah wilayah itu pada 2016, kondisi jalan makin rusak parah. Sebab, tekstur aspal yang seharusnya hanya mampu dilewati kendaraan standar, juga dilewati alat berat milik perusahaan.

"Yaa hasilnya seperti ini, musim hujan kita penuh lumpur. Musim panas, mandi debu," ujar Arma, salah satu warga sekitar.

Karena kondisi jalan berlumpur, pasokan sembako dan bahan bakar dari Kota Kendari menuju Konawe Utara sempat kesulitan melewati jalan ini. Malah, harga bahan bakar di wilayah itu sempat mencekik banyak warga kurang mampu.

 

 

2 dari 2 halaman

Reaksi Dua Bupati

Jalan mulai rusak sejak akhir tahun 2016 hingga hari ini. Sudah berkali-kali mendapat sorotan warga dan pemerintah, jalan tak kunjung dibangun pihak perusahaan.

Di sisi lain, rute berbahaya ini merupakan jalan trans sulawesi yang harus diperhatikan semua pihak. Namun, kondisi jalan yang hanya dilapisi tanah gunung, cukup menyiksa warga hampir setiap hari.

Bupati Konawe Utara, Ruksamin, sempat menyatakan prihatin. Ruksamin mengatakan, jalan penghubung Kabupaten Konawe menuju Konawe Utara itu membuat daerah yang dipimpinnya terisolir.

"Kasihan jalan seperti itu, yang susah masyarakat juga," ujar Ruksamin.

Ruksamin sempat meminta kepada pihak Balai Jalan Nasional Wilayah Sultra untuk melakukan perbaikan. Namun, perubahan yang dilakuan malah banyak mengatasi kondisi jalan lumpur.

"Secara administratif, jalan memang masuk Konawe. Namun, karena posisinya jalan penghubung, jelas yang dirugikan warga Konut," ujar Ruksamin kala itu.

Sementara itu, Bupati Konawe Kerry Syaiful Konggoasa mengatakan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Sebab, jalur Morosi merupakan tugas dari balai jalan nasional.

"Tapi, sampai hari ini belum ada realisasi. Sehingga kami hanya bisa menunggu pihak balai merealisasikan pengaspalan," ujar Kerry.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

Artikel Selanjutnya
Kisah Perjuangan Bu Nunung, Pahlawan Gizi Balita di Onembute yang Tak Kenal Lelah