Sukses

Keren, Ekonomi Kerakyatan ala Kulon Progo Diakui Dunia

Liputan6.com, Kulon Progo - Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo mengaku bangga karena program ekonomi kerakyatan berdikari yang digelorakannya diakui dunia. Berkat program itu, ia berbicara di forum pertemuan International Council for Small Business (ICSB) mewakili Asia di Markas PBB di New York, Amerika Serikat.

Forum tersebut mengulas tema asa depan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM/MSME's) dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG's) dari Persatuan Bangsa-bangsa (PBB). Dalam pertemuan pada 12 Mei 2018 itu, Hasto tampil bersama beberapa wali kota dari negara lain.

"Kami bersyukur, membesarkan hati dan semangat kami, bahwa mengembangkan hal-hal yang kecil dihargai dunia, seperti kami menghidupkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bela beli Kulon Progo, dan kita memiliki karya sendiri toko modern milik rakyat," katanya di Kulon Progo, Kamis (17/5/2018), dilansir Antara.

Hasto diundang ke forum itu karena sebelumnya telah memenangkan Natamukti Awards yang digelar oleh ICSB Indonesia didukung Kementerian Koperasi dan UKM. Selanjutnya, dalam forum ICSB di New York itu, Hasto dilantik sebagai anggota kehormatan.

Politikus PDI Perjuangan itu juga pernah mendapat penghargaan sebagai Kepala Daerah Entrepreneurial yang digelar Asosiasi Pemerintah Kabupaten se-Indonesia (APKASI) bersama Markplus, Inc pada 2017.

Hasto Wardoyo mengatakan bagi mereka, toko modern milik rakyat (Tomira) memiliki nilai humanisme tinggi. Kalau dahulu, bisnis kecil dan bisnis menengah mementingkan besarnya kapital, akan tetapi sekarang tidak.

"Mereka bilang, Kulon Progo memberikan nilai-nilai. Nilai itu memperhatikan pelaku UKM dari sisi kemanusiaan. Itu nilai-nilai, karena pergeseran bisnis dari nilai ke nilai-nilai. Untuk itu, kami membawa tema human entrepreneurship model," kata Hasto.

Hasto mengatakan human entrepreneurship model terdapat koperasi, gotong royong, dan bela beli Kulon Progo. Ketika Bulog membeli beras gabungan kelompok tani (gapoktan), katanya, hal itu momot nilai-nilai.

"Mereka mengapreasi kinerja kami, karena kami mengedepankan nilai. Kita tahu, pemerintahan lama mengedepankan administratif, sekarang model pemerintahan penilain publik. Bukan kesejahteraan yang menjadi tujuan, tapi kebahagiaan," katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini: