Sukses

Jelang Ramadan, Warga Malaysia dan Singapura Ziarah ke Pulau Penyengat

Liputan6.com, Tanjungpinang - Tradisi ziarah dalam kebudayaan Melayu yang kental dengan pengaruh Islam mulai terasa jelang Ramadan. Seperti di Pulau Penyengat, Tanjung Pinang, tempat penting kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau.

Pulau Penyengat Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ini, setiap tahunnya rutin menjadi tempat ziarah di kalangan masyarakat Melayu.

Tampak pengunjung mulai berbondong-bondong mendatangi kompleks makam. Penjaga komplek makam raja-raja Melayu, Ades, mengatakan penziarah mulai berdatangan sejak tiga minggu sebelum puasa.

"Dari minggu kemarin keturunan keluarga raja-raja sudah berdatangan," kata Ades, Minggu, 6 Mei 2018.

Ia menyebutkan kerabat raja yang sudah berziarah ke makam di antaranya keluarga dari Kesultanan Selangor dan Pahang dari Malaysia, serta keluarga sultan dari Singapura.

Di Pulau Penyengat terdapat situs sejarah Melayu yang kerap didatangi pengunjung dari berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam.

 

2 dari 2 halaman

Pulau Para Raja

Adapun makam yang sering diziarahi adalah makam Raja Ali Haji, seorang pujangga, pengarang puisi sastra lama, Gurindam Dua Belas. Kemudian, ada makam Raja Haji Abdullah yang di Pertuan Muda Riau ke-IX.

Ada juga makam Raja Hamidah (Engku Putri) Permaisuri, Sultan Mahmud Syah III Kerajaan Daek Lingga, Tengku Aisyah, istri yang di Pertuan Muda Riau Ke IX, serta makam Raja Ja’far, anak Raja Haji Fisabilillah yang di Pertuan Muda Raja Riau VI.

Selain makam raja-raja Melayu, di Pulau Penyengat terdapat beberapa bangunan bersejarah lainnya, seperti Masjid Raya Sultan Riau, Istana Kantor dan Monumen Bahasa Melayu, Balai Adat,

Dalam sejarah peradaban Melayu, Pulau Penyengat menjadi salah satu pusat pemerintahan Kerajaan Riau, Lingga, dan Johor. Pulau Penyengat merupakan pulau yang bersejarah dan memiliki kedudukan yang penting dalam peristiwa jatuh bangunnya imperium Melayu, yang terdiri dari wilayah Kesultanan Johor, Pahang, Siak, dan Lingga, khususnya di bagian selatan dari Semenanjung Melayu.

Peran penting tersebut berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya Kerajaan Riau pada tahun 1722, sampai akhirnya diambil alih Belanda.

 

Simak video pilihan berikut ini: