Sukses

ASN Nunukan Dilarang Main Medsos

Liputan6.com, Nunukan - Bupati Nunukan, Kalimantan Utara, Asmin Laura Hafid melarang jajaran aparatur sipil negara (ASN) di bawahnya menulis status atau komentar di media sosial, khususnya Facebook, yang dapat menimbulkan multitafsir terhadap pemerintah.

"Saya minta pegawai di jajaran Pemkab Nunukan agar tidak menulis status atau mengomentari status orang lain yang menimbulkan multitafsir terhadap pemerintahan," kata dia di Nunukan, Selasa, 23 Januari 2018, dilansir Antara.

Ia pun mengajak jajarannya untuk bersama-sama mengevaluasi diri karena ditemukan sejumlah ASN di daerah itu yang sering kali mengkritik pemerintah tanpa mengoreksi diri sendiri.

Seorang ASN yang merupakan abdi negara dan abdi masyarakat, kata dia, perlu meningkatkan wawasan agar pemahamannya lebih luas dalam membantu atasan dalam merumuskan setiap kebijakan yang dilakukan.

Penegasan tersebut berkaitan dengan penyamaan langkah demi terwujudnya program Pemkab Nunukan. Sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ASN bahwa seluruh aparatur negara bertanggung jawab dalam membantu pemerintah dalam menjalankan roda kebijakan.

Asmin Laura menilai komentar-komentar ASN dalam medsos sering kali terpancing dengan status warga yang mengkritisi pemerintah. Padahal, seyogianya mendukung kebijakan tersebut.

 

 

2 dari 2 halaman

Bisa Memecah Belah

Pada saat kebanyakan orang berpikir media sosial (medsos) menjadi alat komunikasi untuk "menyatukan" semua, persepsi tersebut malah dipandang kontras oleh Chamath Palihapitya.

Palihapitya adalah salah satu mantan petinggi raksasa medsos Facebook. Ia bergabung pada Facebook pada 2007 dan menjadi Vice President User Growth di sana.

Baru-baru ini, Palihapitya berkata bahwa medsos ternyata bisa menjadi alat yang memecah belah masyarakat.

"Saya juga turut merasa bersalah. Medsos tak dimungkiri kini telah memecah belah masyarakat," ujar Palihapitya sebagaimana dikutip laman Science Alert, Sabtu, 6 Januari 2018.

Pernyataan yang cukup mengejutkan ini disampaikan saat acara kelulusan mahasiswa Stanford School of Business. Palihapitya. Dalam pernyataannya, bahkan ia mengimbau kepada warganet untuk rehat bermain medsos jika merasa lelah.

Lebih lanjut, salah satu kebiasaan warganet di medsos yang ia anggap "penyakit" adalah kebiasaan pengguna yang mengukur "popularitas" di medsos lewat berapa banyak jempol ("like") yang didapat.

"Tolak ukur mereka selalu dipatok dari situ (jumlah 'likes'). Ini jelas menghancurkan masyarakat. Mereka tidak bekerja sama, tidak menghargai karya asli di dunia nyata. Saya pikir ini menjadi masalah global," lanjutnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Bukti Kekuatan Media Sosial: 8 Tahun Raib, Cincin Kawin Ditemukan
Artikel Selanjutnya
Seluk Beluk Kelamnya Perselingkuhan di Dunia Maya