Sukses

HEADLINE HARI INI:PERPISAHAN WAPRES, MENGENANG EKSISTENSI JK DI PANGGUNG POLITIK NASIONAL

Sempat Dikira Teroris, 7 Nelayan Filipina Hanyut di Perairan RI

Liputan6.com, Talaud - Petugas Kantor Imigrasi (Kanim) Tahuna, Koramil Nanusa, Pos AL Marampit, dan Polsek Nanusa serta aparat terkait lainnya di Kabupaten Talaud menyelamatkan 7 orang warga Negara (WN) Filipina, Kamis, 18 Januari 2018. Sebelumnya pada 15 Desember 2017 silam, 11 nelayan Filipina juga terdampar di perairan perbatasan Sulawesi Utara.

Dodi Karnida, Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kemenkumham Sulut mengungkapkan, 7 pria yang diketahui nelayan Filipina itu menggunakan pumpboat puso M/BCA NAJAY ZITA berbendera Filipina dengan panjang 7,32 meter dan lebar 1,83 meter.

"Pumpbout tersebut mengalami kerusakan mesin pada tranmisi setelah berlayar dari Davao pada 14 Januari 2018," ungkap Dodi.

Setelah dievakuasi dari laut, pumpboat itu sempat diamankan di Dermaga Karatung, sementara 7 nelayan Filipina yang merupakan awak kapal itu itu diamankan di Koramil Nanusa.

"Selanjutnya kapal dan awaknya diamankan di Pangkalan AL Melonguane untuk pendalaman dan perbaikan kapal," papar Dodi.

 

 

 

2 dari 2 halaman

Sempat Dikira Separatis

Dia menambahkan, berdasarkan pemeriksaan awal 7 WN Filipina itu tidak terindikasi gerakan separatisme, terorisme dan sebagainya. "Karena murni kecelakaan berupa kerusakan mesin dan kemudian hanyut terbawa arus," ujar dia.

Dalam pemeriksaan oleh pihak TNI AL, diketahui bahwa hanya 2 orang memiliki kartu identitas. Terungkap juga bahwa, ketujuh WN Filipina itu mencari ikan di wilayah laut Filipina. Namun karena mengalami kendala kerusakan mesin sejak hari Minggu 14 Januari 2018, mereka ikut hanyut terbawa arus laut.

"Dan angin kencang ikut membawa mereka hingga sampai perairan Pulau Nanusa tepatnya di sebelah Utara Pulau Karatung," ujarnya. 

Kepala Seksi Wasdakim Kanim Tahuna, Adityo A Wibowo menyatakan, dia telah berkordinasi dengan Konsulat Jenderal Filipina di Manado. Dia berharap, kapal WN Filipina dapat segera diperbaiki agar mereka dapat segera didorong masuk ke wilayah Filipina lagi.

"Sehingga proses pemulangan ke negara asalnya menjadi lebih efektif dan efisien, jika dibandingkan dengan proses deportasi ke Manila via Manado dan Bandara Soekarno-Hatta Jakarta," papar Adityo.

Tujuh WN Filipina yang terdmapar itu adalah Altamarino Ian Bokong (kapten kapal), Kim Gin Garsiano, Jim Boy Garsiano, Rando Altamarinu, Loloy Antulin, Jade Lumu dan Verinico L Saavedra.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading