Sukses

Keceriaan Bocah Saat Tangkap Lele dan Mandi Lumpur di Pagi Hari

Liputan6.com, Banyuwangi - Pagi itu kesibukan terlihat di Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur. Ratusan anak pada hari itu akan memeriahkan Makarya Tani yang digelar warga desa setempat yang tergabung dalam Sobujo atau Soko Bumi Jowo.

Saat kegiatan dimulai, mereka berlarian berebut ikan lele yang disebar di tengah sawah. Tanpa rasa takut maupun jijik, para bocah berlari. Bahkan, ada yang terjatuh, sehingga lumpur membasahi seluruh tubuh mereka. Sejumlah anak pun tertawa ketika berhasil mendapat ikan.

Ratusan bocah lainnya memilih berlumur lumpur untuk menanam padi. Banyak yang tidak tahu bagaimana cara menanam padi. Ada yang satu ikat padi langsung ditanam, padahal seharusnya satu per satu.

Ada pula bocah yang menanam padi dengan berjalan maju, padahal seharusnya bergerak mundur. Ada juga anak yang bermain gendong-gendongan di sawah. Mereka turut larut dalam pergelaran Makarya Tani.

"Acara ini unik dan patut diapresiasi. Diprakarsai oleh dan melibatkan seluruh warga desa. Bagaimana pertanian, bisnis, dan pariwisata bisa dipadukan di sini," ucap Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiatmoko, Kamis, 27 Juli 2017.

Ratusan anak turut memeriahkan acara Makarya Tani di Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jatim. (Foto: Humas Pemkab Banyuwangi/Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Menurut Yusuf, salah satu hal terpenting dalam kegiatan tersebut adalah edukasi untuk anak-anak. Selain itu, acara ini difokuskan untuk mengangkat pamor petani.

"Menumbuhkembangkan kecintaan masyarakat dan generasi muda kepada pertanian. Terutama pertanian yang ramah lingkungan, seperti penanaman padi dan pepaya organik, pupuk organik yang tidak memakai obat-obatan," ia menambahkan.

Apalagi, Banyuwangi merupakan salah satu lumbung pertanian di Jawa Timur. "Itu yang harus dipertahankan," ujar Yusuf.

Pagelaran Makarya Tani di Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jatim. (Foto: Humas Pemkab Banyuwangi/Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Adapun Kepala Sub Direktorat Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Resfolidia, yang turut hadir di acara tersebut mengatakan bahwa baru pertama kali melihat acara seperti ini. Acara berlangsung di tengah sawah, dengan tata panggung yang dikemas dengan menggunakan jerami. Produk-produk pertanian juga menjadi konsumsi.

Ia pun terharu melihat banyak anak-anak yang ikut terlibat. "Selama ini, saya di berbagai acara pertanian, ketemunya ya sama petani. Di sini, semuanya terintegrasi dan layak dicontoh daerah lain," tutur Resfolidia.

Pagelaran Makarya Tani di Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jatim. (Foto: Humas Pemkab Banyuwangi/Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Acara ini adalah kegiatan lintas generasi, mulai anak kecil hingga orangtua turut terlibat. "Ini upaya untuk memperkenalkan dunia pertanian pada anak-anak. Ini juga jadi bagian dari upaya mengangkat potensi desa," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Banyuwangi, Arief Setiawan.

Di dalamnya, ada tradisi yang berpegang pada kearifan lokal yang ingin dilestarikan. Menurut Arief, anak-anak dan pemuda harus diperkenalkan terhadap pertanian untuk regenerasi. Apalagi banyak produk-produk pertanian organik, yang menjadi unggulan Banyuwangi. Misalnya, beras organik Banyuwangi yang diminati pasar nasional dan mancanegara.

Pagelaran Makarya Tani di Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jatim. (Foto: Humas Pemkab Banyuwangi/Liputan6.com/Dian Kurniawan)

"Saat ini kami sudah mengembangkan pertanian organik di tujuh kecamatan di Banyuwangi, yakni Glenmore, Singojuruh, Songgon, Licin, Kalibaru, dan Rogojampi. Rata-rata sudah 40-50 hektare per kecamatan," Arief memungkasi.

Saksikan video menarik di bawah ini: