Sukses

Kaddo Bulo, Makanan Khas Sulsel Yang Mulai Terlupakan

Liputan6.com, Makassar - Di antara banyaknya makanan khas Sulawesi Selatan yang dikenal hingga mancanegara, terdapat satu makanan yang perlahan terlupakan. Makanan itu, yakni makanan dari campuran beras ketan dan santan yang dibungkus daun pisang kemudian dimasukkan ke dalam potongan bambu lalu dipanasi dengan perapian. Makanan ini dikenal oleh masyarakat Sulsel dengan sebutan Kaddo Bulo.

Suryadi warga Jalan Sukaria, Makassar mengatakan, dulu hampir setiap hari para pedagang Kaddo Bulo lewat di depan rumahnya menawarkan makanan bergizi tersebut. Namun seiring perkembangan pembangunan Kota Makassar, nyaris tak ada lagi pedagang Kaddo Bulo.

"Kami sekeluarga penggemar makanan Kaddo Bulo, tapi sudah beberapa tahun ini tak ada lagi penjualnya yang lewat. Yah mungkin karena selera warga kota sudah berubah ke makanan cepat saji yang lebih modern," kata Adi panggilan akrab Suryadi kepada Liputan6.com, Sabtu, 4 Maret 2017.

Meski demikian kata Adi, masih ada beberapa daerah di Sulsel yang kerap menggelar pesta adat tertentu yang menyediakan makanan Kaddo Bulo sebagai makanan khas Sulsel. Di antaranya ketika panen raya padi di daerah pinggiran Kabupaten Gowa, Sulsel.

"Saya biasa ke sana ketika musim panen raya. Hampir semua masyarakat membuat Kaddo Bulo sebagai rasa kesyukuran kepada sang pencipta," terang Adi.

Makanan Kaddo Bulo biasanya dimakan bersamaan dengan kelapa goreng dan ikan teri kering. "Tapi kebanyakan sih dimakan bareng kelapa goreng," ujar Adi.

Ia mengungkapkan selain karena kelezatannya, Kaddo Bulo sebagai makanan khas Sulsel mengandung banyak gizi, di antaranya karena kandungan bahan baku dalam pembuatannya, yakni beras ketan dan santan yang segar.

"Raja-raja dulu senang makan Kaddo Bulo bahkan sudah menjadi makanan kewajiban. Karena diyakini sebagai makanan kesehatan dapat menjaga tubuh tetap fit. Tapi sekarang mulai terlupakan," ungkap Adi.

2 dari 2 halaman

Sejarah Kaddo Bulo

Tradisi Akaddo Bulo berawal dari zaman pemerintahan Raja Gowa ke-9, I Matanre Karaeng Manguntungi Tumaparisi Kalonna. Hal itu terukir dalam naskah lontara bilang milik kerajaan Gowa.

Dimana saat itu, raja yang tercatat memimpin kerajaan Gowa pada tahun 1510-1546 memerintahkan masyarakatnya membangun benteng pertahanan yang bernama benteng Somba opu.

Raja meminta kepada warga warga kampung yang berada di dekat lokasi pembangunan benteng kala itu untuk berpartisipasi menyiapkan makanan bagi para pekerja.

Kampung Tama’la’lang salah satunya, dimana warganya membuat Kaddo Bulo untuk menyuplai kebutuhan makan para pekerja benteng. Terpilihnya makanan tersebut karena memiliki keawetan bisa hingga tiga hari lamanya.

Tradisi ini pun mulai berlanjut disaat kerajaan gowa di bawah kepimpinan Raja Gowa ke-10, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1546-1565). I manriwagau juga membangun Benteng Panakkukang dan Benteng Anak Gowa yang letaknya tak jauh dari Somba Opu.

Warga kampung Tama’la’lang kembali berpartisipasi dan membantu menyediakan makanan Kaddo bulo kepada para pekerja.

Saat ketiga benteng itu selesai, areal persawahan Kampung Tama’la’lang dijadikan tempat latihan pasukan perang Kerajaan Gowa. Warga pun diminta kembali menyuplai makanan untuk kebutuhan pasukan dengan makanan khas Kaddo Bulo.

Sejak itu, Kaddo Bulo menjadi tradisi yang melekat dan selalu dirayakan warga Tama’la’lang untuk memperingati ulang tahun kampung sekaligus perayaan panen. Namun, tradisi ini terhenti saat Perang Makassar berkecamuk pada 1666 yang berlanjut dengan pendudukan Belanda hingga kemerdekaan pada 1945.

Tradisi Kaddo Bulo kembali dihidupkan setelah Kemerdekaan Indonesia oleh Raja Gowa ke-36 atau yang terakhir sekaligus bupati pertama Kabupaten Gowa, Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang, Sultan Alauddin. Raja tersebut pula yang mengusulkan agar Kaddo Bulo dirangkaikan dengan peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia sebagai pesta rakyat.

Sejak saat itu, Akaddo Bulo sudah menjadi hidangan utama dalam tradisi 'Akaddo Bulo' yang digelar masyarakat Kampung Tama’la’lang dalam memperingati ulang tahun kampungnya sekaligus HUT Kemerdekaan Indonesia.

Loading