Sukses

Telur Asin Brebes Menuju Senjakala?

Liputan6.com, Brebes - Kekhawatiran itu menjadi nyata. Kekhawatiran para perajin telur asin asal Brebes mengenai turunnya omzet penjualan mereka sejak dioperasikannya Tol Pejagan-Brebes Timur pada bulan Juni 2016 akhirnya terbukti.

Hal ini lantaran kendaraan mobil pribadi yang biasanya melalui jalur Pantai Utara (Pantura) beralih menggunakan jalur tol yang dinilai lebih cepat dan bebas dari kemacetan.

"Sudah kita prediksikan sejak dua tahun sebelum peresmian Tol Pejagan-Brebes Timur itu. Kalau kendaraan mobil khususnya masuk tol semua, perajin telur asin di Pantura bakal sepi," ucap Bendahara Forum Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kabupaten Brebes Khomarudin.

"Lebaran kemarin terbukti sudah, omzet perajin di sini rata-rata turun hingga 50 persen dari biasanya."

Khomaruddin menyebutkan biasanya, ketika musim mudik Lebaran, para pedagang telur asin bisa menjual hingga 150 ribu butir. Sayangnya, pada mudik Lebaran tahun ini, pedagang hanya bisa menjual 75 ribu butir telur asin.

"Penurunan omzet ini berlaku merata dirasakan perajin telur asin. Malahan banyak juga yang omzetnya turun sampai 60 persen saat mudik Lebaran lalu," kata dia.

Pria yang juga perajin telur asin HTM Jaya ini menyebutkan, imbas dari penurunan omzet itu pun membuat perajin merugi, sehingga satu persatu perajin ataupun pedagang telur asin terpaksa gulung tikar.

"Awalnya sekitar seratusan perajin dan pedagang telur asin di Pantura. Tapi sekarang tinggal separuhnya saja, yang lain pada pergi enggak bertahan karena itu tadi sepi pelanggan," dia menambahkan.

Setelah dibersihkan, telur asin disortir untuk menjaga kualitas telur yang dijual. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Untuk itu, para perajin telur asin meminta dalam hal ini kepada Pemerintah Daerah Brebes untuk memberikan solusi agar mereka tetap bertahan.

"Kita sudah sampaikan kepada Pemda Brebes terkait keluhan para perajin telur asin. Bagaimana solusinya yang bijak dan saling menguntungkan. Karena ini juga terkait dengan perkembangan UMKM yang wajib hukumnya diperhatikan karena tujuanya untuk kemandirian ekonomi," ujar Khomarudin.

Menurut dia, sudah beberapa kali para perajin telur asin melakukan pembahasan terkait sepinya pelanggan telur asin di jalur Pantura. Salah satu solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan ini, ujar dia, dengan membuat rest area lagi di ruas tol sepanjang 57, 5 kilometer Pejagan-Brebes Timur tersebut.

"Kita sudah minta dan mendesak kepada Pemda Brebes minta dibuatkan rest area di KM 257. Karena lahan sekitar 2 hektare di sana milik pemerintah, makanya dalam pengelolaanya pun nantinya diharapkan bisa disesuaikan dengan kemampuan dan aturan yang ada," ungkap dia.

Khomarudin mengakui saat ini memang sudah ada rest area yang menyediakan lahan bagi para pedagang telur asin. Namun, harga sewa kios berukuran 4x8 meter itu membuat para pedagang menjerit. Harga yang ditawarkan dirasa cukup mahal, yaitu 5,5 juta per bulan.

"Sebenarnya kalau kondisinya seperti saat mudik dan balik Lebaran kemarin, kita enggak masalah sewa bayar segitu. Tapi kalau hari biasa enggak mahal segitu dong bayarnya. Tapi perajin pun nggak bisa berbuat banyak karena pengelolaanya dilakukan PT Waskita Toll Road," kata dia.

Sedangkan, lanjut Khomarudin, jika rest area dimiliki ataupun dikelola sendiri oleh Pemda Brebes, maka proses negosiasi akan berjalan lebih halus dan tentu saja tetap lebih berpihak kepada warga.

"Sampai saat ini belum ada kejelasan permintaan rest area itu. Memang sempat ibu bupati nonaktif berjanji mengusahakanya, tapi belum ada realisasinya," ucap dia.

 

2 dari 3 halaman

Perajin Telur Asin Bermigrasi

Dampak Pengoperasian Tol, Perajin Telur Asin Pun Bermigrasi

Sementara itu, akibat sepinya pelanggan di pusat oleh-oleh jalur Pantura Jalan Diponegoro Brebes, sejumlah pedagang yang semula berjualan di sana bermigrasi ke Jalan Kaligangsa hingga Kota Tegal.

Sekitar 20 perajin telur asin bermigrasi semenjak Tol Pejagan-Brebes Timur beroperasi. Mereka berharap dapat menjangkau pelanggan yang keluar dari pintu Tol Brexit ataupun sebaliknya.

"Sejak dioperasionalkan Tol Pejagan-Brebes Timur itu, memang sebagian pedagang bermigrasi ke sana (sepanjang jalan Kaligangsa hingga ke Kota Tegal). Ya itu, mereka berharap tetap bisa dijangkau pelangganya," ucap Yustar, salah seorang perajin telur asin.

Padahal, kata dia, untuk bermigrasi ke tempat yang baru, perajin harus merogoh koceknya cukup dalam. Pasalnya, mereka harus kembali menyewa kios, toko, ataupun lainnya.

"Ya, pasti modal besar lagi-lah kalau migrasi seperti itu, ‎kan untuk sewa tempatnya sendiri kalau di pinggir jalur Pantura kan pasti mahal hingga belasan juta," kata dia.

Meski demikian, tak sedikit pula perajin telur asin yang bermigrasi itu ‎mengalami hal serupa atau dengan kata lain harus gulung tikar. Hasil dari memindahkan tempat berjualannya tidak sesuai ekspektasi awal.

"Ya memang ada beberapa perajin yang mengeluh juga, sudah pindah lokasi tapi tetap pelanggannya sepi. Kalau lama-lama seperti itu, mereka kan akan pergi lagi. Jadi persoalan ini memang benar-benar dilema. Apalagi kalau nanti tol sudah terhubung hingga ke Semarang," keluh Yustar.

3 dari 3 halaman

Rest Area Khusus Pedagang Oleh-Oleh Khas Brebes


Surati Kemen PU-Pera dan Kemendag Minta Rest Area Khusus Pedagang Oleh-Oleh Khas Brebes

Sebelumnya, Bupati Brebes Nonaktif, Idza Priyanti, saat meninjau langsung kondisi kios pedagang di area peristirahatan Tol Pejagan-Brebes Timur beberapa waktu lalu meminta pengelola tidak memberatkan pedagang dengan harga sewa yang tinggi.

Idza juga mengusulkan untuk menambah tempat peristirahatan menggunakan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) di lahan sekitar 2000-3000 meter.

"Nanti rencananya di rest area itu akan kita tambah kios yang pedagangnya harus warga Brebes," ucap Idza Priyanti.

Sementara itu, terkait keluhan pedagang telur asin, Idza pun telah menyurati Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera).

"Isi suratnya adalah agar kedua Kementria itu bisa menyediakan lahan khusus untuk oleh-oleh khas Brebes, seperti telur asin dan bawang merah. Ini agar pedagang khas oleh-oleh Brebes tetap bisa berjualan, khususnya pada musik mudik Lebaran," kata dia.

Meski saat ini sudah tersedia lahan rest area, namun kata Idza, dinilai masih kurang memadai. Apalagi berada di jalur yang dilintasi kendaraan dari arah barat.

"Hal ini yang membuat kesulitan pedagang oleh-oleh khas Brebes pada saat arus balik Lebaran kemarin," ungkap Idza.

Seperti diketahui, jalan tol ini merupakan bagian tol ruas Pejagan-Pemalang dengan total panjang 57,50 kilometer. Tol tersebut terdiri dari empat seksi, yaitu Seksi I Pejagan-Brebes Barat (14,20 km), Seksi II Brebes Barat-Brebes Timur (6 km), Seksi III Brebes Timur-Tegal Timur (10,40 km), dan seksi IV Tegal Timur-Tegal Barat (26,90 km).

Ruas Tol Pejagan-Brebes Timur resmi dibuka operasionalnya pada Kamis, 16 Juni 2016 oleh Presiden RI Joko Widodo. Namun, saat arus mudik pada awal Juli lalu, kemacetan panjang melanda pintu tol Brebes Timur (Brexit).

 

Loading