Sukses

Belajar Toleransi dari Kisah Imam dan Pendeta

Liputan6.com, Kota Batu - Komunitas Gusdurian menggelar nonton bareng film The Imam and The Pastor di Gereja Katolik Paroki Gembala Baik Hati di Jalan Ridwan, Kota Batu, Jawa Timur.

Kegiatan dalam rangka Hari Toleransi Sedumia itu sekaligus untuk memberi dukungan ke gereja yang mendapat telepon teror ancaman bom pada Senin 14 November.

Juru bicara Gusdurian Kota Batu, Lilik Sugianto, optimistis toleransi antar umat beragama di Indonesia akan terus terjaga.

“Nonton bareng film ini sekaligus pesan bahwa perbedaan agama tidak menjadi halangan untuk saling bertoleransi di tengah bermasyarakat dan bernegara,” kata Lilik di sela kegiatan, Rabu malam 16 November 2016.

Pemutaran film di Gereja Katolik Paroki Gembala Baik Hati ini sudah direncanakan sejak 10 hari lalu. Namun musibah terlebih dahulu dialami gereja dengan mendapat telepon teror meledakkan bom di gereja.

Setelah pemutaran film, komunitas Gusdurian menyempatkan diri berkunjung ke Biara Rubiah Karmeli yang persis berada di depan gereja.

“Kami yakin bahwa situasi yang saat ini terjadi bukan karena sentiment agama, tapi ditumpangi oleh unsur politik. Masyarakat sekarang sudah cerdas menyikapi,” ujar Lilik.

Film The Imam and The Pastor berkisah tentang dua warga negara Nigeria yakni Imam Muhammad Ashafa seorang pemimpin muslim dan Pendeta James Wuye seorang pemimpin Kristen. Kedua pemuka agama itu berkeyakinan bahwa kekerasan di Nigeria bisa dihentikan oleh pemimpin masing-masing agama yang mendorong ajaran perdamaian dan non kekerasan.

Kepala Paroki Gereja Katolik Gembala Baik Hati, Romo Michael Agung Cristi Putra berterimakasih atas kegiatan Gusdurian Kota Batu nonton bareng di gereja tersebut.

“Kami bersyukur kelompok Gusdurian hadir di tengah kami. Kehadiran mereka ini juga menguatkan kami setelah ada telepon teror itu,” ucap Romo Michael.

Awalnya kelompok Gusdurian ragu untuk datang setelah terjadi peristiwa telepon teror ancaman bom. Namun gereja meyakinkan agar tetap datang, karena gereja terbuka dengan kelompok manapun. Apalagi figur Gus Dur merupakan sosok pluralis yang menghendaki bangsa ini terhindar dari perpecahan.

“Film yang kita tonton ini bagus, mendukung persaudaraan sejati. Bahwa perbedaan itu bukan dipertentangkan tapi saling melengkapi dan mendukung,” kata Romo Michael.