Sukses

Semarang Luncurkan Kampung Quran di Kawasan Bersejarah

Liputan6.com, Semarang - Tata kota di Jawa Tengah nyaris memiliki pola yang sama. Pusat kota selalu ditandai dengan bangunan pusat pemerintahan yang di depannya terdapat alun-alun dan masjid besar. Biasanya di sekitar masjid itulah selalu ada sebuah kampung bernama Kampung Kauman.

Di Semarang, Kampung Kauman berada di bekas pusat kota, yakni di kompleks Kanjengan. Saat ini, situs pusat kota itu sudah menjadi Pasar Johar, Pasar Kanjengan dan juga Masjid Agung Semarang atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Agung Kauman.

Kampung Kauman dihuni oleh masyarakat Jawa yang memiliki karakter beragama Islam. Ciri khas utamanya adalah banyaknya santri. Sebagai pusat peradaban Islam, maka Kauman yang padat penduduknya menjadi poin tersendiri bagi kebudayaan Jawa yang direpresentasikan dalam Kampung Kauman.

Memanfaatkan kondisi antropologis itu, Pemerintah Semarang akan mem-branding menjadi Kampung Alquran. Rencananya pencanangan akan dilakukan Sabtu (6/2/2016) mendatang.

Menurut Muhaimin, ketua panitia pencanangan Kampung Quran, branding baru itu akan dilakukan oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Semarang, Tavip Supriyanto.


"Nanti papan nama ‘Kampung Quran’ dipasang di gapura sebagai tanda," kata Muhaimin kepada Liputan6.com, Kamis (4/2/2016).

Alasan branding baru itu dibutuhkan sebagai penegasan. Sebab, di Kauman kegiatan yang lekat dengan Alquran sudah dilakukan sejak 1952. Pelajaran menghapal Alquran itu dipusatkan di Pondok Pesantren Radhatul Quran.

Semarang bakal luncurkan Kampung Quran di dekat Masjid Besar (Liputan6.com/Edhie Prayitno Ige)

Menurut pengasuh pondok, Ma’sum, ide membranding Kauman sebagai Kampung Quran itu mengadopsi dari Kampung Inggris di Pare, Kediri. Murid-murid akan diberi paket belajar Alquran, baik yang mulai dari nol, maupun yang tingkat lanjutan.

"Bukan hanya mencetak hafiz (penghapal Alquran), namun juga akan dibimbing hingga ke aplikasi dalam kehidupan sehari-hari," kata Ma'sum.

Bimbingan membaca akan dijalankan dengan ketat. Menurut Ma'sum, jika salah membaca akan memiliki arti yang berbeda. Dampaknya bisa memunculkan radikalisme atau bahkan aliran sesat.

"Membaca huruf Arab kan ada panjang pendeknya. Kemudian kalau Arab gundul, salah meletakkan haraqat bisa menyebabkan beda arti. Itu menjadi perhatian," kata Ma'sum.

Deklarasi sebagai Kampung Quran itu rencananya akan didahului dengan kirab. Ratusan warga dan wisudawanakan berjalan dari Kauman menuju Jalan Pemuda melewati Jalan Gajahmada dan kembali ke Kauman melewati Jalan Kranggan. 

Tragedi Kabut Asap
Loading