Sukses

Kisah Pria India yang Berteriak Bangunkan Sahur Warga Setiap Hari

Liputan6.com, New Delhi - Selama hampir 60 tahun, Mohammed Shafiq telah menantang suhu panas hingga dingin di New Delhi, India. Hal itu ia lakukan guna membangunkan para tetangga untuk menjalankan ibadah salat subuh dan sahur pada bulan Ramadan.

Dikutip dari laman New York Times, Jumat (15/6/2018), Mohammed Shafiq yang kini sudah berusia 68 tahun sudah bertugas menjadi pembangun orang sahur sejak masih kecil.

Sejak desa yang ia tinggali belum dialiri listrik hingga sudah terang, Shafiq selalu ada untuk tugas tersebut.

Menurut Shafiq, tugas yang ia lakukan bak prajurit yang sedang ada di medan perang. Ia lebih suka membangunkan tetangga dengan berteriak dibanding warga harus bangun karena alarm.

Tahun ini menjadi kali pertama bagi Shafiq melakukan tugasnya seorang diri. Sebab, saudaranya yang biasa menemani sudah meninggal dunia delapan bulan lalu.

Di kawasan New Delhi, India, Shafiq bersama teman-teman selalu melakukan aktivitas membangunkan orang sahur. Namun, dari tahun ke tahun jumlahnya semakin berkurang.

Hanya segelintir orang sisanya. Jadi, mereka tak bisa berbagi tugas membangunkan warga di area berbeda.

"Saat ini lutut saya sudah sehat lagi. Jadi saya hanya bisa bekerja di beberapa jalur saja. Ini adalah tradisi yang akan saya jaga hingga mati," ujar Shafiq.

Biasanya Shafiq memulai aktivitas pada pukul 02.30 waktu setempat. Ia kerap melafalkan ayat-ayat suci Alquran di setiap sudut jalan kota New Delhi, India dengan tujuan mengusir roh-roh jahat.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

1 dari 2 halaman

Bangunkan Sahur dengan Drum

Aktivitas membangunkan sahur juga dilakukan oleh sekelompok pemuda muslim di Turki. Di kegelapan malam, saat jalanan di Kota Istanbul Turki tengah sunyi sepi, Ali Buldu memukul drumnya untuk membangunkan masyarakat untuk menjalankan sahur.

Dikutip dari laman The Sandiego Union Tribun, sebagian besar warga Turki telah mengetahui bunyi yang dihasilkan oleh drum tersebut sebagai pertanda bahwa telah dimulainya waktu sahur dan masyarakat seketika akan segera terbangun dari tidurnya.

Pria berusia 55 tahun tersebut mengenakan pakaian tradisional bernama Utsmani. Pakaian tersebut sangat unik dengan kombinasi rompi bermotif bordir tradisional khas Turki, ditambah dengan penutup kepala dengan aksen serupa.

"Ini adalah tradisi yang harus dilestarikan. Hal ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kami dan ini akan terus saya sampaikan kepada generasi berikutnya," ujar Buldu.

Sekitar 2.000 pemain drum berkeliaran setiap Subuh di Kota Istanbul selama bulan Ramadan. Saat keluarga Muslim telah tertidur, kelompok mereka berjasa untuk membangunkan warga. Meski terlihat melelahkan, tapi para pemain drum tetap bergembira saat tumpah ruah di jalanan.

"Drum Ramadan telah ada sejak zaman Utsmani," kata Buldu.

Buldu memiliki keponakan laki-laki yang bernama Emrah. Pria berusia 23 tahun tersebut juga tergabung dalam tradisi nenek moyangnya.

Sepanjang tahun, Buldu beserta kerabat dan teman-teman lainnya mendapatkan imbalan berupa uang saat bermain drum di acara pernikahan. Namun, selama bulan Ramadan mereka mengandalkan kemurahan hati dan kepada warga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

"Selama bulan Ramadan, kami tidak memiliki pekerjaan karena tidak ada yang melangsungkan acara pernikahan," ujar Buldu.

"Jadi selama bulan Ramadan kami meminta imbalan sesuai keinginan dari warga dan kami selalu berdoa kepada Tuhan semoga warga yang memberi kami sedikit rezekinya selalu diberikan keberkahan," ujarnya.

Rata-rata pemain drum di Istanbul berusia 40- 50 tahun. Kebanyakan anak muda tidak tertarik dengan aktivitas ini dan memilih untuk mencari pekerjaan yang lain.

Terkadang beberapa pemain drum veteran khawatir tradisi ini akan lenyap dan malah diganti dengan suara alarm dari jam.

Artikel Selanjutnya
Inspirasi Gaya Saat Lebaran ala Anisa Rahma, Tetap Stylish dengan Hijab Syari
Artikel Selanjutnya
Hasil Sidang Isbat: Idul Fitri Jatuh pada Jumat 15 Juni 2018