Pasar China Bakal Dikuasai 90 Persen Mobil Listrik Murni pada 2040

Perkembangan kendaraan listrik di China, diprediksi akan semakin dominan dalam dua dekade ke depan.

Diterbitkan 13 April 2026, 12:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan kendaraan listrik di China, diprediksi akan semakin dominan dalam dua dekade ke depan. Bahkan, seorang pakar otomotif dari Universitas Tsinghua, Ouyang Minggao menilai mobil plug-in hybrid (PHEV) akan mengalami penurunan, dan mobil listrik murni (BEV) akan mendominasi pasar.

Mobil bertenaga listrik murni ini diperkirakan bakal menguasai 90 persen pangsa pasar otomotif Tiongkok pada 2040.

Bahkan, sang pakar juga memapaparkan cetak biru digital yang agresif untuk masa depan industri otomotif di negara tersebut, yaitu pada 2030 pangsa pasar kendaraan penumpang energi baru (NEV) akan melebihi 70 persen, dengan rasio BEV terhadap PHEV sebesar 7:3.

Sedangkan pada 2035, pangsa pasar akan stabil di atas 80 persen, dengan rasio BEV terhadap PHEV mencapai 8:2. Dan pada 2040, pangsa pasar tetap di atas 80 persen, dengan rasion BEV terhadap PHEV adalah 9:1.

"Ini berarti penggerak listrik murni akan sepenuhnya mengakhiri perdebatan tentang rute dan menduduki posisi dominan absolut, membawa industri otomotif Tiongkok untuk menyelesaikan lompatan terakhir dari 'besar' menjadi 'kuat'," kata Ouyang, di Forum Pengembangan Kendaraan Listrik Cerdas, Beijing, pada 11-12 April 2026.

Saat ini, China menjadi pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. Penjualan mobil berbasis baterai di negara tersebut terus mencetak rekor, dengan kontribusi signifikan terhadap pasar global, sekaligus memperkuat posisi produsen lokal dalam persaingan industri otomotif masa depan.

Dengan tren yang terus meningkat, transformasi menuju elektrifikasi penuh di sektor otomotif tampaknya hanya tinggal menunggu waktu.

Jika prediksi ini terealisasi, maka Negeri Tirai Bambu akan semakin mempertegas perannya sebagai pemimpin global dalam era kendaraan listrik.

Penjualan Terus Meningkat, Merek China Makin Diterima Pasar Indonesia

Kiprah merek otomotif asal China di pasar Indonesia, semakin menunjukan penerimaan yang positif. Terbukti, berdasarkan data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikind0), pengiriman wholesale sales (pabrik ke dealer) jenama Tiongkok ini terus meningkat, bahkan mendekati seperlima dari total penjualan mobil nasional.

Periode Januari dan Februari 2026, merek China menyumbang 17,3 persen penjualan mobil nasional, atau sekitar 25.602 unit. Bahkan, dibandingkan periode yang sama, pencapaian tersebut meningkat 7,8 persen, bahkan dibanding lima tahun lalu, yang angkanya masih di bawah 2 persen.

Dijelaskan Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung, ITB, Yannes Martinus Pasaribu, tren penjualan mobil China yang semakin meningkat didorong oleh kesuksesan memanfaatkan momentum pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik Tanah Air.

Merek asal China ini, disebut menawarkan harga kendaraan yang terjangkau, bukan hanya karena adanya insentif pajak dari pemerintah, tetapi juga kemampuan untuk menekan biaya produksi dengan membangun rantai pasokan EV yang kompleks.

Di sisi lain, Yannes mengatakan mobil pabrikan China hadir dengan berbagai fitur inovatif, teknologi canggih, serta peningkatan dari sisi kualitas rakitan.

"Secara konsisten sejak era Wuling masuk ke Indonesia, merek-merek China berhasil membangun sudut pandang baru bagi pasar otomotif Indonesia bahwa mobil mewah tidak harus mahal, sehingga mulai menggeser persepsi pasar terhadap merek-merek lain yang mulai dianggap overpriced," ujarnya kepada Xinhua, disitat dari Antara, Sabtu (11/4/2026).

Alasan lainnya adalah merek-merek China juga dinilai agresif dalam pengembangan layanan purnajual. Tidak sedikit mobil yang ditawarkan hadir dengan garansi kendaraan dan baterai dengan periode yang sangat panjang, membuat biaya kepemilikan kendaraan menjadi lebih murah.