Sukses

4 Penyebab Motor Matik Harus Turun Mesin dan Kisaran Biayanya

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Anda yang harus bepergian setiap hari, memiliki kendaraan pribadi seperti sepeda motor merupakan pilihan yang tepat. Tentu memiliki sepeda motor harus juga siap dengan biaya perawatan yang dikeluarkan.

Utamanya melakukan servis berkala, dalam hal ini dikhususkan pada kuda besi jenis matic. Apabila penggunanya lalai, maka bisa berdampak pada kerusakan komponen atau bahkan sampai harus turun mesin. Jika hal tersebut sampai terjadi, mau tidak mau kendaraan harus melakukan perbaikan ke bengkel resmi ataupun bengkel mandiri.

Bila mengalami permasalahan tersebut, alangkah baiknya ketahui terlebih dahulu mengenai berapa besar biaya perbaikannya. Untuk kasus ini, kami mengambil contoh motor jenis matic. Namun sebelum membahas biaya pemulihan, bagusnya kita kenali dulu gejala dan penyebab terjadinya turun mesin atau kerusakan total.

Dilansir dari situs resmi Honda, ada empat ciri mudah untuk mengenali sepeda motor bakal turun mesin. Pertama dan paling gampang dikenali tentu asap putih yang keluar dari knalpot saat motor dinyalakan. Itu bisa muncul karena reaksi oli yang terbakar di ruang bakar mesin. Kondisi ini bisa semakin parah bila motor tak segera diperbaiki.

Ciri kedua motor susah hidup dinyalakan. Bisa disebabkan karena oli mesin naik ke ruang pembakaran sehingga busi kerap basah dan menimbulkan kerak. Kemudian motor kehilangan tenaga atau kompresi. Ketika mesin kekurangan oli, maka pelumasan komponen di dalam mesin tidak maksimal. Hal ini bisa membuat beberapa komponen seperti seher atau ring seher kinerjanya melemah. Lalu terakhir suara mesin kasar. Terdeteksi karena suara mesin berbeda dari biasanya. Kemungkinan terburuk oli mesin habis dan suara lebih kasar lagi.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Penyebab Turun Mesin

Menyoal turun mesin, ada beberapa penyebabnya. Bahkan di antaranya terlihat sepele dan kurang mendapat perhatian. Di sini kami mengelompokkan menjadi lima penyebab motor harus perbaikan total.

Telat Ganti Oli

Ini merupakan permasalahan paling umum yang sering terjadi pada pengguna motor matic. Terjadi karena kelalaian pemilik, entah itu karena sibuk, lupa atau bahkan karena masalah keuangan. Mundurnya jadwal penggantian oli membuat kualitas dan volume oli mesin berkurang. Akibatnya suara mesin kasar dan cepat panas. Bila dibiarkan, jangka panjangnya beberapa komponen bisa hancur. Seperti seher / piston akan ngancing dan tidak bisa dihidupkan sama sekali.

Jarang Melakukan Servis Besar

Jarang atau malas melakukan servis besar bisa menjadi penyebab motor turun mesin. Sepeda motor membutuhkan servis besar minimal sekali dalam setahun. Setidaknya membersihkan kerak-kerak yang menumpuk di bagian pembakaran mesin. Bila terlalu cuek, beberapa komponen bisa rusak.

Cara Pakai

Cara penggunaan motor juga mempengaruhi awet tidaknya mesin. Kebiasaan buruk dalam berkendara membuat spare part mesin cepat aus dan lemah.

Tidak Sesuai Standar

Istilah paling umum yakni tune-up atau bore-up. Memperbesar kapasitas silinder memiliki risiko turun mesin lebih tinggi. Apalagi tidak diimbangi dengan penyesuaian pada bagian lain. Bahasa sederhananya, motor yang dipaksa naik kecepatannya atau cc-nya, membuat part mesin bekerja ekstra sehingga membuat mesin cepat rusak.

Usia Pakai Sepeda Motor

Semakin sering motor dipakai maka kilometer bertambah. Jadi jangan heran jika motor tua perlu bongkar mesin, karena part / komponen di dalam mesin sudah mulai aus. Biasanya motor yang telah melewati kilometer 30.000 atau telah dipakai lebih dari 3 tahun, sudah mulai rewel minta perbaikan pada bagian mesin.

 

3 dari 4 halaman

Biaya Turun Mesin Matic

Setelah mengetahui gejala serta penyebab motor matic harus turun mesin, selanjutnya yang harus dipahami yaitu berapa besar biaya perbaikannya. Tarif yang dikeluarkan untuk masalah ini tentu lebih besar. Lantaran beberapa bagian atau komponen perlu dibongkar dan diganti, serta memerlukan ketelitian khusus.

Umumnya para bengkel, baik itu bengkel resmi atau mandiri, mereka mematok ongkos atau harga jasa mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 1 juta tergantung jenis maticnya. Untuk part atau komponen yang diganti juga sangat bervariasi, tergantung dari kerusakan.

Contoh lazimnya saat bongkar mesin atas. Ini dilakukan ketika motor mengalami kebocoran kompresi, piston aus dan noken as rusak. Biasanya ditimbulkan karena kerak yang menumpuk disekitar payung klep. Sedangkan piston yang aus umumnya disebabkan usia pakai dan sistem pelumasan yang tidak baik. Ini juga berdampak pada noken as.

Dalam kasus ini kami mengambil contoh New Honda Beat. Berikut estimasi biayanya jika harus bongkar mesin atas.

1. Piston kit: Rp 150 ribu

2. Gasket Top Set: Rp 80 ribu

3. Skir Klep: Rp 50 ribu

4. Korter: Rp 100 ribu

5. Noken As: Rp 300 ribu

6. Rocker Arm: Rp 170 ribu

7. Bongkar mesin atas: Rp 300 ribu

Daftar harga part dan jasa di atas adalah estimasi yang biasanya terjadi jika dilakukan bongkar mesin atas. Perlu diingat, masing-masing bengkel biasanya mematok tarif berbeda-beda, tergantung pada kebijakannya masing-masing. Selain itu lokasi bengkel juga menentukan harga jasa pembongkaran.

Bongkar Mesin Total

Bongkar mesin total ini dilakukan jika ada kerusakan di bagian connecting road / stang seher dan bearing connecting yang rusak. Rusaknya kedua part ini biasanya disebabkan karena usia pakai dan oli mesin yang bercampur dengan air. Cirinya ditandai dengan suara kasar yang berasal dari bagian tengah mesin. Untuk part yang diganti sama seperti saat bongkar mesin atas dan ditambah dengan stang seher dan bearing kruk as, berikut rinciannya.

1. Connecting Rod: Rp 200 ribu

2. Bearing Kruk As: Rp 110 ribu

3. Jasa Bongkar Pasang: Rp 400 ribu

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa besaran tarif bengkel terkait perbaikan untuk motor matic turun mesin tergantung pada tingkat kerusakan serta kesulitannya. Semakin parah tingkat kerusakan, maka semakin mahal pula biaya perbaikannya.

Sumber: Oto.com

4 dari 4 halaman

Infografis Sudah Vaksinasi Covid-19? Jangan Kendor 5M!