Festival Kora-Kora, Napak Tilas Perjuangan Rakyat Banda

Lomba perahu belang atau kora-kora di Banda Neira, Kepulauan Banda, Maluku Tengah, bukan sekadar pesta rakyat biasa. Perlombaan ini bertujuan melestarikan nilai-nilai heroik perjuangan rakyat Banda melawan penjajah.

Diterbitkan 22 Januari 2005, 20:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Banda Neira: Banda Neira adalah pulau kecil di tengah keindahan Laut Banda. Pulau bersejarah yang pernah menjadi tempat pengasingan sejumlah pendiri republik ini, seperti Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir, belum lama berselang disibukkan dengan persiapan Lomba Kora-Kora. Lomba mendayung dengan menggunakan perahu tradisional yang hampir setiap tahun diselenggarakan.

Para peserta dari berbagai desa turut meramaikan perlombaan ini. Tahun silam, peserta dari Desa Pulau Ayi menjadi juara. Dan tahun ini, entah siapa jawaranya. Yang jelas, para pendayung dari berbagai desa mulai sibuk memperbaiki perahu-perahu mereka. Warga Kampung Panjang, misalnya. Para pendayung dari kampung ini ditunjuk untuk tampil mewakili Desa Nusantara, dalam Lomba Kora-Kora. Mereka tampak sibuk memperbaiki perahu. Ada yang menambal perahu. Ada pula yang mengecat sambil menghias perahu. Setelah itu barulah perahu diujicobakan ke tengah laut.

Kora-kora atau belang adalah julukan bagi perahu adat masyarakat Banda, Maluku Tengah. Pada mulanya perahu ini hanya digunakan dalam upacara adat setempat. Atau untuk menyambut para tamu kehormatan yang datang dari luar Kepulauan Banda. Namun sejak bangsa Eropa berdatangan ke pulau ini, fungsi perahu kora-kora berubah menjadi kendaraan perang di lautan untuk melawan penjajah asing.

Maklumlah, Banda Neira yang mempunyai kekayaan alam luar biasa memang merupakan pulau yang menggiurkan bagi bangsa Eropa. Pena sejarah mencatat, tahun 1512, bangsa Portugis menjejakkan kakinya di pulau ini disusul Inggris. Setelah Inggris kalah perang melawan Belanda pada tahun 1803, pulau yang kala itu menjadi salah satu pusat perdagangan dunia berpindah tangan. Belanda menjadi penguasa.

Para pejuang Banda pun mencoba mengusir para penjajah ini dengan menghadirkan armada kora-kora. Armada ini memang dikenal gesit dan lincah di lautan. Latar belakang sejarah penuh heroik inilah yang kemudian mengilhami masyarakat Banda Neira menggelar lomba adu cepat perahu perang kora-kora.

Malam menjelang perlombaan, tim kora-kora dari Kampung Panjang dikumpulkan di musala kecil di sudut desa. Aktivitas di musala ini rutin diselenggarakan setiap kali lomba kora-kora akan digelar. Mereka berkumpul untuk memanjatkan doa-doa keselamatan dalam nuansa sinkretis yang masih kental. Ayat-ayat suci Alquran pun dikumandangkan, tapi mereka juga membakar kemenyan.

Pembacaan kitab suci yang disertai pembacaan mantra-mantra itu dipimpin oleh tokoh spiritual setempat. Selain memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, ritual ini juga untuk menangkal upaya-upaya magis yang mungkin saja dilakukan kontingen lawan.

Untuk itu para pendayung diwajibkan meminum air yang sudah diberi mantra dan membasuhkannya ke seluruh tubuh. Ini bertujuan agar para pendayung tak merasa haus dan letih saat perlombaan nanti, serta kebal dari serangan lawan.

Perahu kora-kora yang akan mereka naiki juga tak luput dari rangkaian prosesi ritual. Sambil dikelilingi para pendayung, perahu yang akan diterjunkan dalam perlombaan disirami air yang sudah diberi mantra. Ini dimaksudkan supaya perahu menjadi &quotringan&quot dan mampu melaju pesat di lautan.

Menjelang subuh, mereka secara beramai-ramai memindahkan perahu ke tepi pantai. Perahu yang sudah berada di permukaan air laut ini kemudian dinaiki para pendayung. Mereka mendekam di dalam perahu hingga pagi hari. Sesuai aturan adat setempat, pantang bagi mereka meninggalkan perahu sampai perlombaan usai dilaksanakan. Walau perlombaan baru berlangsung beberapa jam lagi, mereka pun tetap berada di atas perahu. Tradisi tersebut tampaknya ditiru dari kebiasaan para pejuang Banda Neira yang selalu bersiap-siap di atas perahu menjelang pertempuran.

Nah, saat para pendayung yang berjumlah 38 orang ini masih terapung di atas perahu, kaum perempuan sibuk di dapur umum. Makanan yang mereka siapkan kemudian dibawa ke atas kora-kora. Para pendayung pun mengisi perut mereka secukupnya untuk memperoleh tambahan tenaga yang sangat diperlukan saat kompetisi.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seluruh tim sudah berada di arena dengan beragam perahu yang mereka miliki. Undian pun dilakukan. Seiring dengan itu, para penonton sudah mulai berdatangan. Sama halnya dengan para peserta, sebagian penonton menyaksikan perlombaan ini dari atas perahu. Mereka berkeinginan melihat lebih dekat jalannya lomba. Namun tak sedikit pula yang menyaksikan pertarungan perahu-perahu dari pinggir pantai.

Kendati sudah menjadi hal yang rutin bagi masyarakat Banda, tetap saja, Festival Kora-Kora dipenuhi penonton. Para penonton ini bukan hanya mereka yang tinggal menetap di Kepulauan Banda, tapi juga warga Banda di perantauan. Memang, banyak dari mereka yang sengaja pulang ke kampung halaman, sekadar turut memeriahkan Lomba Kora-Kora.

Perlombaan dimulai. Begitu bendera start dikibarkan, perahu-perahu para peserta melaju dengan kecepatan tinggi. Kecepatan yang benar-benar hanya mengandalkan keahlian dan kekompakan para pendayung.

Lomba berjalan seru. Sorak-sorai penonton diiringi bunyi genderang dan suara aba-aba dari setiap perahu turut meramaikan pertarungan air itu. Para peserta yang mengikuti lomba kora-kora ini tampak memiliki kemampuan seimbang. Mereka berkejaran dalam selisih jarak yang tak terpaut jauh. Adapun jarak tempuh lomba yang harus mereka lalui mencapai 14 mil atau sekitar 18 kilometer.

Kendati sama-sama dicat hijau dan dihiasi bendera Merah Putih, setiap perahu belang atau kora-kora memiliki ciri khas tersendiri. Panjang perahu tradisional ini mencapai 20 meter dengan daya tampung 38 orang. Tiga puluh orang bertugas sebagai pendayung, tiga orang memberi komando, seorang pawang atau disebut orang tua belang, dan sisanya sebagai penguras air yang masuk ke dalam perahu.

Tugas orang tua belang yang duduk di ujung perahu adalah untuk menjaga haluan depan kora-kora. Dia sekaligus membaca mantra-mantra agar perahu yang ditumpanginya selamat dan dapat melaju cepat.

Namanya juga perlombaan tak berskala internasional, adu cepat kora-kora ini tak jarang terganggu oleh perahu-perahu penonton yang terkadang memotong jalur lintasan peserta. Memang, antusiasme mereka untuk memberikan semangat kepada peserta yang mewakili desanya, terkadang berada di luar kontrol.

Kendati demikian, perahu kora-kora dari Kampung Panjang yang merupakan kontestan dari Desa Nusantara, akhirnya menjadi pemenang. Luar biasa, memang. Mereka mampu menyelesaikan jarak tempuh 14 mil hanya dalam tempo 13 menit. Adapun juara bertahan, tim perahu Pulau Ayi yang dikenal paling tangguh, akhirnya harus mengakui keunggulan regu Desa Nusantara.

Namun bukan sekadar kalah dan menang yang menjadi tujuan diselenggarakannya Lomba Kora-Kora. Jauh lebih penting adalah pewarisan nilai-nilai juang seperti yang pernah ditunjukkan oleh para pahlawan Banda Neira. Mereka bertempur melawan kaum penjajah dengan menggunakan armada kora-kora.(ANS/Bambang Triono dan Dono Prayogo)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6