Warga Aceh Antre Tiket di Bandara Soekarno-Hatta

Sepanjang Kamis kemarin, warga tampak mengantre untuk membeli tiket tujuan Banda Aceh di loket-loket Bandara Soekarno-Hatta. Sejumlah calon penumpang menunggu jadwal penerbangan tambahan yang akan berangkat.

Diterbitkan 31 Desember 2004, 10:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Tangerang: Keluarga korban gempa bumi dan Tsunami masih kesulitan mendapat tiket pesawat ke Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Sepanjang Kamis (30/12), mereka mengantre di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Beberapa calon penumpang memadati ruang tunggu bandara menunggu kepastian jadwal penerbangan tambahan yang akan berangkat.

Yus, calon penumpang mengaku, sudah dua tahun ini dia belum pulang ke Bungen, Banda Aceh, kota kelahirannya. Lebaran belum lama ini, Yus terakhir kali bertemu kedua orang tua dan saudara-saudaranya yang sengaja merayakan Idul Fitri di Jakarta. Saat mengetahui adanya gempa dan Tsunami yang menewaskan ribuan orang, Yus ingin segera ke Banda Aceh, Ia ingin mengetahui keadaan keluarganya. Yus panik karena menurut berita yang diterimanya, di Bungen mungkin hanya 10 orang warga saja yang tersisa pascabencana.

Kepanikan yang sama juga dirasakan Syarofi yang hingga sekarang belum mendapatkan kabar mengenai nasib kedua orang tuanya. Bagi Sayrofi dan adiknya yang merantau ke Jakarta, musibah Tsunami yang mengguncang aceh membuatnya terpukul. Namun Syarofi selalu mencoba tabah dan tenang karena menurutnya semua adalah takdir Tuhan. Syarofi juga mengaku belum bisa berangkat ke Banda Aceh karena ingin memberikan kesempatan kepada adiknya berangkat lebih dahulu.

Saat ini, sekitar 700 mahasiswa Aceh sedang berkuliah di Yogyakarta berduka. Selain mengkhawatirkan keluarganya mereka, para mahasiswa itu juga resah dengan kelanjutan sekolahnya. Dalam kondisi normal saja, kiriman uang dari kampung sering terlambat, apalagi setelah terjadi musibah seperti sekarang ini. Kesedihan ini juga dirasakan para mahasiswa NAD di Asrama Mahasiswa Aceh, Jalan Kartini, Nomor 1A, Yogyakarta. Mereka panik dan sedih mendengar kabar kampung halamannya porak-poranda dilanda Tsunami.

Para mahasiswa ini mengaku, hal yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah berkoordinasi menggalang bantuan bagi korban Aceh. Sementara mahasiswa asal NAD lainnya mencoba menghubungi pihak keluarganya dengan menggunakan telepon seluler.

Nanda Imanda, mahasiswa asal Lhoksemawe, Aceh Utara, yang kuliah di Jurusan Teknik Informatika Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, mengaku, sudah berupaya menghubungi keluarganya sejak Ahad silam. Namun hingga kini, ia belum belum mendapatkan kabar tentang keberadaan orang tua dan saudara-saudaranya.(OZI/Wiwik Susilo dan Ferry Aditri)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6