Liputan6.com, Jakarta: Megawati Sukarnoputri. Sebelum 1993, putri sulung Bung Karno ini hanya dikenal sebagai ibu rumah tangga. Ketidaksenangan rezim Soeharto pada dirinya yang tiba-tiba muncul menjadi Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia justru membesarkannya. Hanya butuh waktu empat tahun sejak peristiwa 27 Juli, pemilik nama lengkap Dyah Permata Setyawati Sukarnoputri ini kemudian menjadi Presiden kelima republik ini.
Megawati lahir di Yogyakarta pada 1947 dari rahim Fatmawati. Mega kecil kerap berpindah tempat mengikuti ke mana sang ibu pergi pada masa-masa awal pemerintahan ini. Ayahnya juga sering kali berpindah tempat bahkan ditawan Belanda. Sedangkan Mega remaja memang besar di Istana dengan segenap kasih sayang Bung Karno dan Fatmawati. Kebahagiaan itu memang sempat hilang ketika sang bunda memutuskan keluar dari Istana karena menolak dimadu oleh Bung Karno yang menikahi Hartini.
Karier politik Megawati dimulai sejak 1986 sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PDI Jakarta Selatan. Setahun kemudian, Megawati menjadi anggota DPR. Selama duduk di kursi Dewan, Megawati bukan seorang anggota parlemen yang vokal. Bahkan, sebelum 1993, sosoknya lebih muncul sebagai ibu rumah tangga.
Pada 1993 Mega terplilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI. Rupanya, kepemimpinan Megawati tak disukai pimpinan pemerintahan saat itu, Soeharto. Tak heran, Kongres PDI pun digelar di Medan, Sumatra Utara. Posisi Mega digantikan Soerjadi.
Tapi, keputusan mendongkel Megawati oleh rezim Soeharto inilah yang membuatnya kian populer. Selain digoyang, markas PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, juga diserbu orang-orang Soerjadi. Peristiwa ini melahirkan Kerusuhan 27 Juli 1996. Sebuah keputusan politik paling keliru yang pernah dibuat Soeharto. Mega pun berkibar dengan partai barunya, PDI Perjuangan dan sekaligus memenangi pemilihan umum pada 1999.
Meski partainya pemenang pemilu, Mega terganjal kiprah Poros Tengah pimpinan Amien Rais yang mengusung K.H. Abdurrahman Wahid. Mega menjadi menjadi wakil presiden. Tapi, kondisi tersebut tak berlangsung lama. Gus Dur tersangkut kasus penyelewengan dana nonbujuter Badan Urusan Logistik. Dan, Amien Rais kemudian kembali menggalang kekuatan menjatuhkan Gus Dur. Mega akhirnya dengan dukungan penuh mayoritas anggota MPR/DPR didaulat menjadi Presiden RI. Itulah puncak dari munculnya kembali dinasti Soekarno di tampuk kekuasaan di negeri ini.
Sayangnya, Mega memimpin dengan gayanya. Sudah sedikit bicara, sedikit pula bekerja. Mega kerap kali membanggakan makro ekonomi Indonesia yang membaik. Tapi, kepekaannya pada penderitaan rakyat tumpul. Mega juga sering telat berempati pada kasus yang membutuhkan perhatian langsung seorang presiden. Kasus terusirnya ribuan tenaga kerja Indonesia dari Malaysia dan tanah longsor di Bahorok, Sumatra Utara, masih menjadi catatan merah sosok Megawati yang kerap dicitrakan sebagai perlawanan wong cilik ini.
Sepertinya wong cilik bagi Mega hanya sebagai jargon politik. Padahal, bagi sebagian orang, wong cilik itu adalah realitas sehari-hari. Isu wong cilik bagi Mega hanya laku saat masa pemerintahannya akan berakhir dan ingin berkuasa kembali untuk periode berikutnya. Itulah sebabnya, tim sukses Mega kemudian memoles citranya. Mega tiba-tiba rajin ke pasar, terminal, dan rajin berdialog dengan petani, sesuatu yang jarang dilakukan Megawati pada tiga tahun kepemimpinannya.
Tak sampai di situ, Mega kini menggandeng Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama nonaktif Hasyim Muzadi sebagai calon wakil presiden. Harapannya tentu Hasyim dapat membawa suara dari kantong-kantong NU yang jumlah pemilihnya cukup signifikan mengantar Mega lagi menjadi presiden. Selain itu, pasangan itu kini sudah memiliki cetak biru perekonomian yang lebih dikenal dengan Rekomendasi Lima: Rencana Ekonomi Mega-Hasyim. Kelak program ekonomi Mega akan bertumpu pada lima hal yakni lapangan kerja dan usaha baru, pendidikan, kesejahteraan sosial, pelayanan kesehatan serta infrastruktur. Kelima butir tersebut oleh keduanya dinyatakan sebagai rencana ekonomi Mega-Hasyim untuk rakyat kecil.(ORS/Apni Jaya Putra)
Megawati lahir di Yogyakarta pada 1947 dari rahim Fatmawati. Mega kecil kerap berpindah tempat mengikuti ke mana sang ibu pergi pada masa-masa awal pemerintahan ini. Ayahnya juga sering kali berpindah tempat bahkan ditawan Belanda. Sedangkan Mega remaja memang besar di Istana dengan segenap kasih sayang Bung Karno dan Fatmawati. Kebahagiaan itu memang sempat hilang ketika sang bunda memutuskan keluar dari Istana karena menolak dimadu oleh Bung Karno yang menikahi Hartini.
Karier politik Megawati dimulai sejak 1986 sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PDI Jakarta Selatan. Setahun kemudian, Megawati menjadi anggota DPR. Selama duduk di kursi Dewan, Megawati bukan seorang anggota parlemen yang vokal. Bahkan, sebelum 1993, sosoknya lebih muncul sebagai ibu rumah tangga.
Pada 1993 Mega terplilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI. Rupanya, kepemimpinan Megawati tak disukai pimpinan pemerintahan saat itu, Soeharto. Tak heran, Kongres PDI pun digelar di Medan, Sumatra Utara. Posisi Mega digantikan Soerjadi.
Tapi, keputusan mendongkel Megawati oleh rezim Soeharto inilah yang membuatnya kian populer. Selain digoyang, markas PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, juga diserbu orang-orang Soerjadi. Peristiwa ini melahirkan Kerusuhan 27 Juli 1996. Sebuah keputusan politik paling keliru yang pernah dibuat Soeharto. Mega pun berkibar dengan partai barunya, PDI Perjuangan dan sekaligus memenangi pemilihan umum pada 1999.
Meski partainya pemenang pemilu, Mega terganjal kiprah Poros Tengah pimpinan Amien Rais yang mengusung K.H. Abdurrahman Wahid. Mega menjadi menjadi wakil presiden. Tapi, kondisi tersebut tak berlangsung lama. Gus Dur tersangkut kasus penyelewengan dana nonbujuter Badan Urusan Logistik. Dan, Amien Rais kemudian kembali menggalang kekuatan menjatuhkan Gus Dur. Mega akhirnya dengan dukungan penuh mayoritas anggota MPR/DPR didaulat menjadi Presiden RI. Itulah puncak dari munculnya kembali dinasti Soekarno di tampuk kekuasaan di negeri ini.
Sayangnya, Mega memimpin dengan gayanya. Sudah sedikit bicara, sedikit pula bekerja. Mega kerap kali membanggakan makro ekonomi Indonesia yang membaik. Tapi, kepekaannya pada penderitaan rakyat tumpul. Mega juga sering telat berempati pada kasus yang membutuhkan perhatian langsung seorang presiden. Kasus terusirnya ribuan tenaga kerja Indonesia dari Malaysia dan tanah longsor di Bahorok, Sumatra Utara, masih menjadi catatan merah sosok Megawati yang kerap dicitrakan sebagai perlawanan wong cilik ini.
Sepertinya wong cilik bagi Mega hanya sebagai jargon politik. Padahal, bagi sebagian orang, wong cilik itu adalah realitas sehari-hari. Isu wong cilik bagi Mega hanya laku saat masa pemerintahannya akan berakhir dan ingin berkuasa kembali untuk periode berikutnya. Itulah sebabnya, tim sukses Mega kemudian memoles citranya. Mega tiba-tiba rajin ke pasar, terminal, dan rajin berdialog dengan petani, sesuatu yang jarang dilakukan Megawati pada tiga tahun kepemimpinannya.
Tak sampai di situ, Mega kini menggandeng Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama nonaktif Hasyim Muzadi sebagai calon wakil presiden. Harapannya tentu Hasyim dapat membawa suara dari kantong-kantong NU yang jumlah pemilihnya cukup signifikan mengantar Mega lagi menjadi presiden. Selain itu, pasangan itu kini sudah memiliki cetak biru perekonomian yang lebih dikenal dengan Rekomendasi Lima: Rencana Ekonomi Mega-Hasyim. Kelak program ekonomi Mega akan bertumpu pada lima hal yakni lapangan kerja dan usaha baru, pendidikan, kesejahteraan sosial, pelayanan kesehatan serta infrastruktur. Kelima butir tersebut oleh keduanya dinyatakan sebagai rencana ekonomi Mega-Hasyim untuk rakyat kecil.(ORS/Apni Jaya Putra)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/417096/original/140604bMegawati.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258188/original/054428500_1781325475-AP26164102653511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4891677/original/000043600_1721008752-10_AP24196756280349.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8504143/original/019730100_1782424741-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/934935/original/034536700_1437647124-AP_173328494831.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264147/original/086220300_1782096373-063_2282523599.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/916085/original/009668100_1435788780-Cover.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261449/original/024360400_1781704034-000_B7CB6XN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8530300/original/023508000_1782462492-AP26175847717345.jpg)