Senator Jakarta Soroti Program 'Bedah Rumah', Dorong Perluasan Program Hunian Layak di DKI

Program bedah rumah memiliki urgensi yang sangat tinggi di Jakarta, mengingat masih terdapat warga yang tinggal di rumah dengan kondisi tidak layak

Diterbitkan 17 Maret 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menyampaikan apresiasi atas penyerahan 26 unit rumah hasil program bedah rumah oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo kepada warga penerima manfaat di kawasan Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Program ini merupakan kolaborasi antara Baznas/Bazis DKI Jakarta bersama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta pihak swasta, yang dinilai sebagai langkah konkret menghadirkan hunian layak, sehat, dan bermartabat bagi warga kurang mampu di Jakarta.

“Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci dalam menjawab persoalan mendasar kota, termasuk penyediaan hunian layak bagi warga. Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga menghadirkan harapan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Fahira Idris, Selasa (17/3).

Fahira Idris menilai, program bedah rumah memiliki urgensi yang sangat tinggi di Jakarta, mengingat masih terdapat warga yang tinggal di rumah dengan kondisi tidak layak huni, minim ventilasi dan sanitasi, serta lingkungan yang kurang sehat. Melalui program ini, pemerintah dan para pemangku kepentingan menghadirkan solusi nyata yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Menurutnya, dampak program ini tidak hanya terbatas pada perbaikan bangunan rumah, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi warga. Hunian yang layak akan meningkatkan kualitas hidup, mendorong produktivitas, serta memperkuat ketahanan keluarga.

“Rumah yang layak adalah fondasi utama kehidupan yang sehat dan produktif. Dari rumah yang baik, lahir keluarga yang kuat dan masyarakat yang lebih berdaya,” kata Senator Jakarta ini.

Namun demikian, Fahira Idris juga menyampaikan lima harapan agar program ini dapat berjalan optimal, berkelanjutan, dan berdampak lebih luas.

Pertama, memastikan validitas dan integrasi data penerima manfaat agar program tepat sasaran dan menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan.

Kedua, memperkuat kolaborasi lintas sektor secara berkelanjutan, tidak hanya dalam pembangunan, tetapi juga dalam pengawasan dan evaluasi program.

Ketiga, mendorong pemberdayaan masyarakat dalam proses pembangunan, termasuk melibatkan warga setempat agar tumbuh rasa memiliki serta meningkatkan efisiensi pelaksanaan.

Keempat, mengintegrasikan program bedah rumah dengan penataan kawasan permukiman secara menyeluruh, sehingga dampaknya tidak parsial tetapi sistemik.

Kelima, memastikan keberlanjutan program melalui skema pendanaan yang inovatif, transparan, dan akuntabel, termasuk optimalisasi dana sosial dan kemitraan dengan berbagai pihak.

Fahira menjelaskan bahwa program bedah rumah harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia dan kota. Jakarta sebagai kota global tidak hanya diukur dari pembangunan fisik yang megah, tetapi dari seberapa layak dan manusiawi kehidupan warganya.

Ia berharap program kolaboratif ini dapat menjadi model yang terus dikembangkan dan direplikasi, sehingga mempercepat terwujudnya Jakarta sebagai kota yang inklusif, berkeadilan, dan berdaya saing.

“Program seperti ini harus terus diperluas agar semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya. Semoga semakin banyak kolaborasi seperti ini yang hadir, sehingga tidak ada lagi warga Jakarta yang tinggal di rumah yang tidak layak huni,” pungkas Fahira Idris.

Sebagai informasi, Baznas Bazis DKI Jakarta menargetkan program bedah rumah akan dilaksanakan secara bertahap dengan total target sebanyak 633 unit sepanjang tahun 2026. Warga kurang mampu dengan kondisi rusak parah berhak menerima bantuan program bedah rumah.

 

 

 

Pramono Minta Program Bedah Rumah DKI Jakarta Bisa Jangkau Warga Semua Agama

Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta meminta agar program bedah rumah di Jakarta dapat diakses oleh masyarakat dari semua agama.

Ia menekankan agar bantuan perbaikan rumah yang dikelola bersama Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas (Bazis) DKI tersebut diberikan secara inklusif kepada warga kurang mampu yang membutuhkan.

Hal tersebut disampaikan Pramono kepada Ketua Baznas (Bazis) DKI Jakarta Akhmad H Abu Bakar saat menyerahkan secara simbolis 26 unit rumah hasil program bedah di Jalan Serdang Baru I Gg III Nomor 31, RT 007/RW 005, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026).

"Tadi saya meminta kepada penyelenggara, terutama Baznas (Bazis) untuk berkolaborasi dengan BUMD dan BUMN untuk semua agama diberikan kesempatan mendapatkan program bedah rumah ini," kata Pramono, Senin (16/3/2026).

Menurut Pramono, program tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Baznas Bazis, BUMD, BUMN, serta pihak swasta.

Selain itu, sejumlah perusahaan yang terlibat dalam program ini antara lain PAM Jaya dan Dharma Jaya dari BUMD, serta Pertamina dan Pegadaian dari BUMN, selain juga dukungan dari pihak swasta.

Pramono berharap kolaborasi berbagai pihak tersebut dapat memperluas jangkauan program bedah rumah sehingga semakin banyak warga yang terbantu.

"Mudah-mudahan program yang diadakan oleh Balai Kota bersama dengan Baznas Bazis, BUMD, BUMN, dan juga pihak swasta ini berjalan dengan baik," kata dia.

Pramono juga menekankan pentingnya transparansi dalam pemanfaatan dana yang dihimpun Baznas (Bazis). Oleh karenanya, ia mendorong agar program bedah rumah diperluas agar dana yang terkumpul benar-benar dimanfaatkan untuk masyarakat yang membutuhkan.

"Supaya dana yang terkumpul di Baznas (Bazis) betul-betul termanfaatkan untuk masyarakat atau rakyat yang kurang beruntung," ucap Pramono.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6