Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 16 Desember terdapat berbagai peringatan bersejarah. Hari ini diperingati sebagai Hari Akademi atau yang dulu disebut sebagai Hari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).
Hari ini diperingati untuk merayakan sejarah berdirinya Akademi TNI pada tahun 1965 melalui Surat Keputusan Presiden RI No.185 /Koti/1965. Lahirnya Akademi TNI ini diharapkan dapat mejaga persatuan dan keamanan bangsa Indonesia.
Selain itu, hari ini, Selasa (15juga diperingati sebagai Hari Lahir Bank Rakyat Indonesia (BRI). Bank BRI adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tertua di Indonesia. BRI didirikan di Purwokerto pada hari ini, tepatnya tahun 1895. Hingga kini, BRI masih setia melayani melayani masyarakat Indonesia untuk kebutuhan perbankan.
Advertisement
Hari ini turut diperingati sebagai Hari Nasional Bahrain. Hari Nasional Bahrain dirayakan selama dua hari, yakni pada tanggal 16 dan 17 Desember.
Tanggal 16 Desember dirayakan untuk memperingati kenaikan tahta Emir atau kepala negara Bahrain yang pertama, yakni Isa Bin Salman Al Khalifa. Sementara, tanggal 17 Desember merupakan hari libur nasional tambahan di Bahrain.
Tak kalah menarik, hari ini juga menjadi hari yang bersejarah untuk Afrika Selatan. Saat masih berada di bawah kekuasaan Belanda dan Inggris, wilayah Afrika Selatan dipenuhi oleh diskriminasi. Situasi ini pun membuat masyarakat Afrika Selatan geram sehingga melakukan protes terhadap Diskriminasi yang telah terjadi tepat pada tanggal 16 Desember.
Terakhir, hari ini diperingati sebagai Peringatan Vijay Diwas di India. Pada hari ini, India berhasil mengalahkan Pakistan saat perang tahun 1971. Hari ini pun kemudian diperingati sebagai Peringatan Vijay Diwas yang berarti Hari Kemenangan.
Berikut sederet peringatan yang jatuh pada 16 Desember dihimpun oleh Tim News Liputan6.com dari berbagai sumber:
Hari Akademi TNI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5371486/original/011163300_1759659889-def6.jpg)
Berdasarkan catatan Liputan6.com, pada tanggal 16 Desember diperingati sebagai Hari jadi Akademi TNI atau yang dulu sering disebut sebagai Akabri.
Dilansir situs resmi Akademi TNI, Dibentuknya organisasi lembaga pendidikan Akabri (sekarang Akademi TNI) adalah didasarkan kepada pengalaman sejarah dimasa lalu, bahwa rivalitas antar Angkatan begitu tinggi dan persaingan yang kurang sehat karena dipengaruhi oleh suasana politik saat itu, serta timbulnya berbagai gejolak yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.Â
TNI sebagai bhayangkara negara pernah merasakan betapa pahitnya menghadapi PKI pada tahun 1960an, dimana tanpa kekompakan TNI sulit untuk mengatasi gerakan Politik PKI. Oleh karena itu para pendiri TNI merasa perlu untuk menyatukan visi dan persepsi dengan mengintegrasikan Angkatan Perang dan Polri menjadi ABRI.Â
Berdirinya Akabri pada tahun 1965 ini juga sejalan dengan upaya integrasi angkatan bersenjata negara-negara lain dalam mendidik perwiranya, seperti Jepang dengan NDA nya mendidik semua perwira AD, AL, AU pada tahun 1960 dibawah satu atap sampai sekarang.Â
Oleh karena itu berdirinya Akabri merupakan salah satu harapan besar baik bagi TNI maupun bagi masyarakat, demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Akademi TNI (dahulu Akabri) kemudian dibentuk melalui suatu proses bertahap diawali dengan dibentuknya suatu panitia yang dipimpin oleh Laksamana Muda OB Syaaf pada tanggal 5 Juli 1965 dengan tugas pokok menyusun dan merencanakan pendidikan Akademi TNI yang terintegrasi dalam satu wadah.
Atas dasar perencanaan tersebut maka pada Tanggal 16 Desember 1965 keluarlah Surat Keputusan Presiden RI No.185 /Koti/1965 sebagai dasar berdirinya Akademi TNI dan selanjutnya tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Akademi TNI Realisasi pembentukan Akademi TNI dilaksanakan secara bertahap mulai dari integrasi formil pada tanggal 5 Oktober 1965.
Advertisement
Hari Lahir Bank BRI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4536574/original/005005500_1691977195-IMG-20230814-WA0001.jpg)
Berdasarkan catatan Liputan6.com, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk adalah salah satu BUMN yang bergerak di bidang perbankan, yang konsisten memberikan layanan terbaik untuk masyarakat hingga saat ini.
Bahkan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menjadi salah satu perusahaan yang sangat berkembang yang dibuktikan dengan banyaknya anak perusahaan yang fokus menyediakan berbagai layanan yang berbeda.
Pencapaian BRI sekarang ini tidak lepas dari sejarah panjang yang dimulai sejak Indonesia belum merdeka. Awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau "Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto." Lembaga keuangan tersebut berdiri pada tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.
Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia.
Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat.
Kemudian pada 1960 BRI menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN), usai merger dengan Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM).
Proses merger tersebut didasarkan pada PERPU No. 41 tahun 1960. Selanjutnya Berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.
Setelah berjalan satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia.
Dalam ketentuan baru tersebut, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).
Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992, status BRI berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah Republik Indonesia.
Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.
Hari Nasional Bahrain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1006256/original/000129700_1443675325-20151001-Bendera_Bahrain.jpeg)
Dilansir Liputan6.com dari National Today, Bahrain dan sejumlah negara di wilayah Teluk Arab merupakan protektorat Inggris pada sekitar tahun 1960-an.
Hal ini membuat Bahrain terbatas untuk melakukan hubungan diplomasi dengan negara lain. Hal ini disebabkan larangan yang telah dibuat oleh Inggris.
Inggris berjanji akan melindungi Bahrain dari serangan laut. Namun, ia juga melarang Bahrain untuk melakukan hubungan Internasional tanpa persetujuan dari Inggris, Ketentuan tersebut membuat Bahrain secara tak langsung berada di bawah kendali Inggris sepenuhnya.
Bahrain pun mulai melakukan perlawanan pada saat Perang Dunia II. Ketidakpuasan Bahrain atas keterbatasan yang diberikan oleh Inggris selama memerintah pun tak dapat dibendung lagi. Situasi saat itu kian memanas, konflik dan kerusuhan tak terelakkan lagi.
Situasi yang semakin kacau ini pun tak dapat ditahan lagi oleh Inggris, Pada tanggal 15 Agustus tahun 1971. Inggris dan Bahrain menandatangani sebuah perjanjian yang membebaskan Bahrain dari protektorat Inggris.
Empat bulan usai penandatangan tersebut, Inggris meninggalkan Bahrain dan Bahrain telah sepenuhnya merdeka.
Meski kemerdekaan Bahrain didapatkan pada tanggal 15 Agustus, Hari Nasional Bahrain diperingati setiap tanggal 16 Desember. Hal ini karena kepala negara pertama Bahrain atau yang disebut sebagai Emir baru naik tahta pada hari ini. Selain itu, Bahrain juga menjadikan satu hari setelah pelantikan ini sebagai hari libur nasional negaranya.
Isa Bin Salman Al Khalifa, Emir pertama Bahrain pun memulai pemerintahannya dengan memulihkan situasi politik, sosial, dan ekonomi negaranya. Di bawah kepemimpinannya selama 38 tahun, Bahrain menjadi pusat keuangan di wilayah Teluk Arab.
Advertisement
Peringatan Vijay Diwas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2712772/original/069947500_1548392411-india.jpg)
Berdasarkan catatan Liputan6.com, tepat 54 tahun silam, India mengalahkan Pakistan dalam Perang 1971, yang dikenal sebagai Vijay Diwas. Hari kemenangan ini diperingati setiap tahun.
Dikutip dari India Today, India mengakui Vijay Diwas sebagai kemenangan dalam Perang Indo-Pakistan, yang dikenal sebagai Swarnim Vijay Varsh. Ini adalah perang yang bersejarah bagi India yang juga menyebabkan terciptanya Bangladesh -- yang sebelumnya disebut Pakistan Timur.
Setiap tanggal 16 Desember, Vijay Diwas atau Victory Day dirayakan dengan memberi penghormatan kepada para tentara yang meraih kemenangan atas Pakistan pada perang 1971 itu.
Di India, Upacara Penghormatan Swarnim Vijay Mashaal biasa diadakan di National War Memorial.
Sejarahnya, perang India-Pakistan dimulai pada 3 Desember 1971. Perang itu tersulut karena genosida dan penindasan yang dilakukan terhadap rakyat Pakistan Timur oleh rezim militer Jenderal Yahya Khan dari Pakistan.
Perang terjadi di front timur dan barat selama 13 hari. Konflik ini berlanjut pada masa pemerintahan Indira Gandhi dan berakhir pada 16 Desember 1971.
Pertumpahan darah diakhiri dengan Operasi Trisula yang diprakarsai oleh India ketika Komando Angkatan Laut Barat India berhasil melakukan serangan mendadak di pelabuhan Karachi.Â
Pakistan menyerahkan 93.000 tentaranya ke India yang kemudian menciptakan Bangladesh. Pada hari itu, Bangladesh lahir sebagai negara baru yang merdeka dari Pakistan.
Ini menjadi salah satu kemenangan terbesar, yang mengakui India sebagai salah satu kekuatan regional.
Hari Rekonsiliasi Afrika Selatan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3616585/original/028811300_1635474693-den-harrson-C14EEtqVsNA-unsplash.jpg)
Dilansir Liputan6.com dari National Today, Hari Rekonsiliasi Afrika Selatan ditujukan untuk memperingati keberhasilan negara Afrika selatan dalam mencapai kebebasan dari jejak kolonialisme dan rasisme di masa lampau, khususnya ketika Afrika Selatan masih berada di bawah Pemerintahan Belanda dan Inggris.Â
Pada tahun 1652, Afrika Selatan dipenuhi dengan perlakukan diskriminasi oleh Pemerintah Belanda. Kemudian, Inggris pun mengambil alih negara tersebut pada tahun 1795. Namun, pergantian kekuasaan ini tidak membawa perubahan untuk Afrika Selatan.
Di bawah kekuasaan Inggris, khususnya pada tahun 1950, perwakilan Inggris yang bukan berasal dari orang kulit putih dihapuskan. Kebijakan ini pun menuai terjadinya pemberontakan di Afrika Selatan. Kekerasan terjadi di berbagai tempat karena ketidakpuasan masyarakat Afrika Selatan yang terus mendapat tindakan diskriminasi.
Tak hanya itu, akibat dari konflik ini, Afrika Selatan memberlakukan embargo perdagangan. Negara tersebut menutup jalur ekspor dan impor dengan negara lain untuk menjaga situasi politik dan keamanan nasional Afrika Selatan.
Pada tanggal 16 Desember, Afrika Selatan pun melakukan rekonsiliasi dan menghilangkan diskriminasi rasial yang sudah tertanam sejak lama.
Demokrasi di tanah Afrika Selatan pun mulai berdiri. Peringatan Hari Rekonsiliasi Afrika Selatan dimulai sejak tahun 1995. Tanggal 16 Desember juga dipilih untuk memperingati Voortrekker melawan Zulu dalam 'Pertempuran Darah' pada tahun 1838.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4854362/original/014465400_1717597016-Polri_1.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3904843/original/ACg8ocJuvA7TBzU0DIkkfmS_IdeFJxGnUN1q8-9R-RVXV4SUgKYUeHr3%3Ds200.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3364594/original/002280000_1612143274-debby-hudson-TqKFiMR9O6s-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/618/original/015378900_1751874433-WhatsApp_Image_2025-07-06_at_20.36.08_5b85adcb.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615608/original/002262500_1782601852-063_2283621934.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615223/original/052059800_1782601281-063_2283624238.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8392528/original/081634600_1782272943-000_B83Z88V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8553933/original/032729600_1782499706-uzbek_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615333/original/040722200_1782601521-000_B8JQ6V9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261062/original/073105300_1781677236-063_2281989496.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8331592/original/085679400_1782201838-mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263929/original/069841500_1782033777-portugal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545332/original/045931400_1775182460-1fa2ab9d-1298-431e-a800-726df6e54877.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5544314/original/006170800_1775099008-Irak_lolos_piala_dunia-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545527/original/023791400_1775197312-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5191298/original/037828900_1744950097-20250418-Prosesi_Jalan_Salib-ANG_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457952/original/085391400_1767067413-unnamed.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5456466/original/009787700_1766890648-bc2b5539-f92b-4f92-af8a-a6f8aa63f2eb.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5468776/original/038038200_1768015024-isra_miraj7.jpg)