Ini Alasan Polisi Belum Simpulkan Terduga Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Alami Bullying

Polisi masih mendalami dugaan bahwa pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta merupakan korban perundungan di sekolahnya sendiri.

Diterbitkan 12 November 2025, 14:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Polisi masih menyelidiki dugaan bahwa terduga pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta merupakan korban perundungan atau bullying di sekolahnya sendiri.

Hingga kini, penyidik belum bisa menggali keterangan lebih jauh karena kondisi pelaku belum memungkinkan.

“Masih pendalaman agar fakta sebenarnya bisa ditemukan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, Rabu (12/11/2025).

Budi menuturkan, anak berhadapan dengan hukum (ABH) tersebut masih dalam tahap pemulihan pasca operasi, sehingga belum bisa dimintai keterangan lebih jauh.

Sebelumnya, Siswa kelas XI SMAN 72 Jakarta berinisial S sempat bercerita adanya dugaan perundungan atau bullying dalam peristiwa ledakan saat salat Jumat di sekolahnya.

"Saya dapat info katanya pelakunya terindikasi siswa. Mungkin karena dia tuh korban bully jadi ingin balas dendam," tutur S di lingkungan SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025).

Dengan pakaian yang masih berlumuran darah teman-temannya, S bercerita bahwa ledakan terjadi di tengah masjid saat salat Jumat baru akan dimulai. Para siswa pun langsung berhamburan keluar masjid.

"Kronologi sebelum salat Jumat lagi mau khutbah selesai, lagi mau iqomah, tiba-tiba ada ledakan. Dari tengah masjid. Ada ledakan kita kabur, nyelamatin teman-teman, setelah nyelametin teman-teman ada ledakan lagi kedua kali," jelas dia.

Ledakan kedua terdengar di belakang sekolah. Sementara terduga pelaku diketahui merupakan seniornya yakni kelas XII.

"Tadi benar-benar panik banget saya gendongin satu-satu bantu ngobatin korbannya. Untung saya belajar dari online cara ngobatin pasien jadi Alhamdulillah bisa ngobatin sampai dibawa ke Rumah Sakit Islam," ungkapnya.

Motif Terduga Pelaku Ledakkan Bom di SMAN 72 Jakarta

Polisi mengungkap motif terduga pelaku meledakkan bom di SMAN 72 Jakarta. Hasil penyelidikan sementara, dari tujuh bom empat di antaranya meledak. PPID Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana mengatakan, terduga pelaku merasa tertindas dan menyimpan dendam.

“Bahwa (pelaku) merasa perasaan tertindas, merasa kesepian tidak tahu harus menyampaikan kepada siapa, lalu yang bersangkutan juga memiliki motivasi dendam,” kata Mayndra saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025).

Meski begitu, Mayndra tidak menjelaskan lebih detail perlakuan yang diterima terduga pelaku hingga menyimpan dendam.

“Dendam terhadap beberapa perlakuan-perlakuan kepada yang bersangkutan,” ungkap dia.

Pelaku Terinsipirasi 6 Aksi Pelaku Teror Dunia

Mayndra menyebut terduga pelaku yang merupakan pelajar aktif di SMAN 72 Jakarta terinspirasi dari nama-nama asing yang tertulis di senjatanya. Mereka adalah tokoh-tokoh teror global yang pernah beraksi di pelbagai negara.

“Nah di sini ada suatu hal yang memprihatinkan, ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur kita sebutkan ada kurang lebih 6 yang tercatat,” kata Mayndra.

Sejumlah nama tersebut adalah Eric Harris dan Dylan Klebold yang merupakan dua pelaku penembakan massal di Columbine High School, Littleton, Colorado, Amerika Serikat, pada 20 April 1999. Diketahui, keduanya adalah sosok yang beraliran neo-nazi.

Sebagai informasi, neo-nazi sendiri adalah gerakan atau ideologi ekstrem kanan. Secara sederhana, neo-Nazi berarti "Nazi baru", yakni orang atau kelompok yang masih menganut ide-ide utama Nazi.

Sosok selanjutnya adalah Dylann Storm Roof, seorang pria asal Carolina Selatan, Amerika Serikat, pelaku aksi teror bermotif rasial di sebuah gereja bersejarah di kota Charleston, pada 17 Juni 2015. Diketahui, Dylan menganut paham white supremacy atau supremasi kulit putih, sebuah paham ideologi rasis yang meyakini bahwa ras kulit putih lebih unggul dibandingkan ras-ras lain.

Berikutnya, Alexandre Bissonnette, seorang pelaku penembakan masjid di Kota Quebec, Kanada, pada 29 Januari 2017. Kasus ini menjadi salah satu serangan Islamofobia paling mematikan dalam sejarah Kanada modern. Diketahui, Alexandre juga penganut paham white supremacy atau supremasi kulit putih.

Kemudian ada nama Vladislav Roslyakov, pelaku penembakan massal di Politeknik Kerch, Crimea (Krimea) pada 17 Oktober 2018 yang beraliran neo-Nazi.

Lalu ada nama Brenton Tarrant, pelaku serangan teror masjid di Christchurch, Selandia Baru, tahun 2019. Dalam foto yang beredar di publik, nama Brenton adalah yang paling jelas tertulis.

Nama terakhir, Natalie Lynn “Samantha” Rupnow, pelaku penembakan di Abundant Life Christian School, Madison, Wisconsin, Amerika Serikat, yang terjadi pada 16 Desember 2024 yang beralirn neo nazi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6