Mendikdasmen: Pendidikan Adalah Investasi Jangka Panjang untuk Generasi Muda

Mu'ti mengatakan, salah satu tantangan utama adalah mengubah persepsi terhadap ilmu Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) yang masih dianggap sulit.

Diterbitkan 28 Oktober 2025, 21:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pemerintah memperkuat reformasi pendidikan untuk mencetak generasi unggul dan adaptif.
  • Kemendikdasmen mengatasi tantangan pendidikan melalui Gerakan Numerasi dan konsep STEM 3M.
  • Fokus pada pemerataan akses, kualitas, kompetensi SMK, serta revitalisasi infrastruktur dan guru.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat reformasi pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak generasi muda Indonesia yang unggul dan adaptif di era global.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat menjadi narasumber dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia bertema “Resiliensi Ekonomi Domestik sebagai Fondasi Menghadapi Gejolak Dunia” di Jakarta, Selasa, 28 Oktober 2025. Ia merespons pertanyaan terkait tren penurunan skor PISA Indonesia yang terjadi sejak 2006.

Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah mengubah persepsi terhadap ilmu Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) yang masih dianggap sulit.

“Kemendikdasmen telah menggulirkan Gerakan Numerasi Nasional untuk membangun budaya numerasi sejak dini dengan cara yang menyenangkan agar anak-anak tidak hanya terampil berhitung, tetapi juga berpikir kritis dan adaptif,” ujar Mu’ti.

Ia menjelaskan konsep STEM 3M sebagai inovasi pembelajaran yang lebih ramah bagi siswa.

“Belajar STEM harus Mudah, Murah, dan Menarik. Kami mendorong Matematika diajarkan sejak TK melalui kegiatan bermain logika,” tegasnya.

Mu’ti menyebut tiga persoalan utama yang terus dibenahi pemerintah, yakni pemerataan akses pendidikan di daerah 3T, kesenjangan kualitas antardaerah, serta peningkatan kompetensi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mendorong revitalisasi infrastruktur pada 16.140 satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran melalui pengadaan Interactive Flat Panel, perangkat laptop, materi belajar digital, serta pelatihan guru.

“Secanggih apa pun teknologi, guru tetap agen peradaban. Karena itu kualitas guru harus menjadi prioritas,” katanya.

Ia menambahkan, Kemendikdasmen juga memperluas ruang belajar di jalur formal, informal, hingga homeschooling, agar semua anak mendapat kesempatan pendidikan yang setara.

“Kami ingin memastikan semua anak usia sekolah mendapatkan pendidikan bermutu, tanpa ada yang tertinggal,” ujar Mu’ti.

 

 

Penguatan Pendidikan Kejuruan dan Dunia Industri

Terkait pendidikan vokasi, ia menegaskan Program Pengembangan SMK 2025 akan memperkuat relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri dan pasar global.

Program tersebut meliputi Teaching Factory, proyek kewirausahaan, sertifikasi bahasa asing, serta akses kerja luar negeri bagi lulusan.

“Pesannya jelas: SMK harus menghasilkan sumber daya manusia yang adaptif, kompeten, dan siap kerja,” tambahnya.

Mu’ti menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa bergantung pada pemerintah semata. Ia menyebut sekolah, keluarga, masyarakat, dan media sebagai empat ekosistem penting dalam menopang kualitas generasi muda.

“Pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tetapi upaya kolaboratif membangun masa depan bangsa,” tuturnya.

Ia berharap komitmen terhadap reformasi pendidikan akan menjadi langkah penting menuju generasi emas 2045 yang unggul, berdaulat, dan berdaya saing global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6