Mengenal Konsep Jembatan Cincin Donat Dukuh Atas, Jalur Melingkar Penyatu Moda Transportasi Jakarta

Jembatan Cincin Donat dirancang untuk menghubungkan MRT Jakarta, LRT Jabodebek, TransJakarta, KRL Commuter Line, hingga Kereta Bandara. Konektivitas antarmoda di kawasan tersebut sudah berjalan, namun belum maksimal untuk pejalan kaki.

Diterbitkan 14 Oktober 2025, 17:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Melengkung di atas Jalan Sudirman, Jembatan Cincin Donat bakal menjadi   simpul baru yang memadukan empat transportasi massal andalan warga Jakarta, MRT, LRT, KRL, dan TransJakarta dalam satu lintasan pejalan kaki yang efisien. 

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menargetkan pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) berbentuk melingkar di kawasan Dukuh Atas dapat diselesaikan pada tahun 2026. Proyek ini, kata Pramono, merupakan bagian dari penataan kawasan Transit Oriented Development (TOD), pusat integrasi antarmoda transportasi publik di jantung ibu kota.

"Kami akan rapat secara khusus karena saya meminta kalau bisa dimulai segera supaya tahun 2026 itu sudah bisa diselesaikan,” ujar Pramono di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin, 13 Oktober 2025. 

Jembatan Cincin Donat dirancang untuk menghubungkan MRT Jakarta, LRT Jabodebek, TransJakarta, KRL Commuter Line, hingga Kereta Bandara. Selama ini, konektivitas antarmoda di kawasan tersebut memang sudah berjalan, namun belum maksimal untuk pejalan kaki.

"Dengan cincin donat, orang tidak perlu kehujanan atau keluar dulu lalu masuk lagi, tapi bisa berpindah ke mana saja dalam satu jalur pejalan kaki,” tambah Pramono. 

Inspirasi dari Yokohama, Simpul dari Jakarta

Gagasan ini berawal dari keresahan lama, konektivitas di kawasan transit yang belum ramah bagi pejalan kaki. Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, mengungkapkan bahwa ide jembatan ini terinspirasi dari sistem konektivitas kota Yokohama, Jepang, yang berhasil menggabungkan integrasi transportasi dengan ruang publik yang hidup.

"Kami melakukan benchmarking ke Yokohama, dan dari situ muncul ide menghadirkan jembatan melingkar yang bukan hanya fungsional, tapi juga menjadi ruang sosial di atas jalur transit,” kata Tuhiyat.

Jembatan ini akan dibangun melintasi Jalan Jenderal Sudirman, dengan lebar sekitar 12 meter, tujuh meter untuk pejalan kaki dan lima meter lainnya untuk area komersial. Setiap harinya, jembatan ini diperkirakan dapat melayani hingga 70.000 pergerakan penumpang.

Dukuh Atas, Pusat Mobilitas dan Tantangan Lalu Lintas

Dukuh Atas kini menjadi simpul utama mobilitas Jakarta. Titik tersebut menjadi tempat bertemunya empat moda transportasi publik dan kawasan perkantoran padat. Berdasarkan penelitian ResearchGate (2023), volume kendaraan di koridor Sudirman mencapai 6.643 pcu/jam di pagi hari dan 5.244 pcu/jam di sore hari, setara dengan lebih dari 6.000 mobil pribadi melintas setiap jam.

"Dukuh Atas nanti bisa mengurai kemacetan di Jl Sudirman. Kawasan ini bukan hanya titik transit, tapi akan menjadi ruang publik baru yang nyaman bagi semua pengguna transportasi,” ujar Tuhiyat optimistis.

Namun, lebih dari sekadar bangunan, Jembatan Cincin Donat diyakini sebagai bagian dari transformasi budaya mobilitas warga Jakarta. Kepala Dinas Perhubungan Jakarta Syafrin Liputo menyebutkan, perubahan pola mobilitas adalah pekerjaan panjang yang membutuhkan waktu dan konsistensi.

"Butuh tujuh tahun untuk menaikkan angka pengguna transportasi publik dari 18 persen pada 2018 menjadi 22,19 persen di 2025,” ujarnya.

Syafrin menegaskan, peningkatan itu dicapai melalui kebijakan integrasi moda dan peningkatan kenyamanan layanan yang diatur lewat Pergub No. 2 Tahun 2024. “Mulai dari infrastruktur, layanan, rute, tarif, sampai sistem pembayaran dibuat seragam — termasuk untuk wilayah Bodetabek,” jelasnya. 

Mengubah Cara Warga Bergerak

Menurut pengamat transportasi ITB, Soni Sulaksono, Jembatan Cincin Donat dapat menjadi sarana edukasi publik tentang pentingnya berpindah moda tanpa kendaraan pribadi.

"Ini bukan hanya proyek fisik, tapi cara mendidik warga kota agar berpikir ulang tentang cara mereka bergerak,” kata Soni.

Ia bahkan menilai, desain kawasan yang tidak menyediakan lahan parkir kendaraan pribadi akan menjadi strategi efektif. “Kalau tetap ada parkir, orang akan tetap membawa mobil. Tapi kalau tidak, mau tidak mau mereka naik MRT, LRT, atau KRL,” ujarnya menekankan.

 

 

Belajar dari Negeri yang Utamakan Pejalan Kaki 

Konsep serupa telah lama hidup di kota-kota maju Asia. Di Yokohama, jalur pejalan kaki menghubungkan langsung antara gedung perkantoran, stasiun bawah tanah, pusat belanja, dan taman kota tanpa perlu menyeberang jalan raya.

Menurut Japan Transport Planning Association (2023), 68 persen pengguna transportasi umum di Yokohama mengakses stasiun dengan berjalan kaki. Citra itu mulai tampak pula di Jakarta.

Di Blok M, penumpang MRT kini bisa berpindah ke TransJakarta atau berjalan menuju area komersial tanpa harus menyeberang jalan. Dukuh Atas menjadi tahapan berikutnya dari perjalanan panjang menuju kota yang berpihak pada pejalan kaki.

"Kalau Jakarta mau maju seperti kota-kota di Asia Timur, kebiasaan itu harus dibentuk, dipaksa untuk naik transit, bukan mobil. Dan ini bisa dimulai dari Dukuh Atas,” ujar Soni.

Masih dalam Kajian, Menuju 2027

Meski desain Jembatan Cincin Donat telah ramai diperbincangkan publik, bentuk finalnya masih dalam tahap kajian. Staf Khusus Gubernur DKI Bidang Tata Kota, Nirwono Yoga, mengatakan bahwa proyek ini tengah dikaji oleh Urban Renaissance Agency (UR), lembaga tata kota asal Jepang.

"Bentuk jembatan masih belum final. Idealnya memang bulat, tapi nanti disesuaikan dengan kondisi di lapangan,” ujar Nirwono di Balai Kota.

Ia menambahkan, hasil kajian diharapkan rampung dalam waktu setahun. Pembangunan diperkirakan dapat dimulai pada 2026 dan diresmikan pada akhir 2027, bertepatan dengan ulang tahun Jakarta.

Selain desain, aspek pembiayaan juga menjadi fokus kajian. “Anggaran belum ditetapkan karena DED (detailed engineering design) belum selesai. Tapi kita pastikan arsitektur harus indah, struktur kuat, dan efisien,” jelas Nirwono.

Mengenai posisi Patung Jenderal Sudirman yang berada di kawasan tersebut, Nirwono menyebut keputusan baru akan diambil setelah hasil kajian keluar.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6