Berbagai Cara Gaji Cekak Bisa Beli Rumah di Jogja

Gaji boleh cekak tetapi berbagai cara bisa dilakukan untuk mendapatkan rumah di Jogja. Bisa pakai strategi mencari rumah di pinggiran kota.

Diterbitkan 22 September 2025, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tidak cuma warga Jogja dengan pendapatan setara upah minimum regional (UMR) Yogyakarta yang kesulitan membeli rumah. Pekerja bergaji di atas UMR pun mengeluh sulit mengejar harga rumah di Yogyakarta yang terus-terusan naik.

Seperti diceritakan oleh Mubarok. Pria 28 tahun yang bekerja sebagai digital marketing di Kota Jogja ini. Dia merasa harga rumah masih sangat tinggi, meski gajinya Rp 4 juta per bulan.

“Model KPR itu cicilannya berat banget. Belum lagi bunganya. Terus kalau ada PHK, khawatir tidak bisa melanjutkan, gimana mau ngelunasin,” kata Mubarok, yang merupakan perantau asal Kabupaten Karawang itu.

“Beli rumah di tengah Kota Jogja memang susah, tapi mungkin di daerah-daerah pinggirannya bisa. Pengin cari sebenarnya, tapi paling mepet-mepet sama Purworejo yang mungkin lebih murah,” katanya.

Mubarok mengaku lebih tertarik dengan konsep rumah tumbuh yang menurutnya realistis untuk dibeli. Ia punya rencana untuk membangun rumah pelan-pelan, hingga layak ditempati bersama istri serta anak-anaknya kelak.

“Kecil enggak papa, buat aku. Asal murah dan aksesnya gampang. Nanti kan bisa tambah kamar, tambah dapur gitu,” kata Mubarok.

Meski peluang memiliki rumah di Jogja cukup kecil, bukan berarti tak bisa dibeli sama sekali. Aziz (35) jadi salah satu contoh pendatang yang berhasil mencicil rumah, walau sadar harganya tidak ramah.

“Harga rumahnya emang mahal banget. Nominalnya hampir sama kaya temanku di Bandung yang beli rumah, dengan kondisi ekonomi daerah yang sangat berbeda,” kata pria asli Cilacap itu.

Aziz menyebut, untuk bisa memiliki rumah di Jogja, harus pindah sana, pindah sini dalam bekerja. Mulanya, ia sempat menjadi karyawan di salah satu kantor dengan gaji di bawah UMR. Diakuinya sulit untuk menabung, apalagi beli rumah. Kemudian, ikhtiarnya menuntun untuk pindah ke perusahaan lain dengan gaji yang lebih tinggi.

Tak berhenti sampai di sana. Takdir lantas kembali menunjukkan jalan untuk meraih peluang yang lebih besar, dengan bekerja remote di perusahaan start up asal Jakarta. Kurang lebih 2 tahun Aziz mengadu nasib di start up tersebut, hingga badai PHK Covid-19 menerpa dirinya. Berbekal jerih payah sebelum efisiensi, juga dibantu usaha kuliner sang istri, rumah dengan harga yang dianggap masuk akal lantas bisa dicicil.

“Waktu itu surveinya ke Bantul sampai Klaten tiap Sabtu-Minggu selama 5 bulan. Dari sana, dapatlah di Ngaglik yang paling murah waktu 2022. Per meternya di harga Rp 1,7 juta yang akhirnya saya pilih,” kata Aziz.

Rela Mencicil Sampai 20 Tahun Demi Punya Rumah di Jogja

Adapun rumah yang saat ini ia tempati bertipe 45 dan sudah diangsur selama 3 tahun. Lokasinya berada di Jalan Besi-Jangkang, Kabupaten Sleman. Jangka waktu angsurannya cukup panjang, sampai 20 tahun, dengan luas tanah 120 meter persegi dan luas rumah 42 meter persegi.

Mengangsur hingga puluhan tahun memang penuh risiko. Dirinya sadar betul keuangannya tidak se-stabil pekerja dengan gaji bulanan tetap. Harga jual yang ia ambil ketika itu juga tinggi di angka Rp 350 juta. Meski dirasa berat karena situasi ekonomi yang bisa gonjang-ganjing kapan saja, ia tetap optimis, karena skema yang ditawarkan bank serta developer jelas.

Aziz juga mengaku beruntung, sebab usaha kuliner yang kini dibesarkan sudah bisa membuka jalan mendapatkan rumah idaman. Selain itu, ia juga juga mendapat bantuan dari orang tua untuk melunasi DP-nya yang sempat ditalangi developer di luar kontrak bank.

“Kebetulan waktu itu dengan skema bank yang cukup lumayan tinggi, aku bisa kerja sama dengan developer. Aku nyicil DP-nya ke developer, kasarnya ditalangi dulu sampai aku bisa lunasi uang muka sebesar Rp 100 juta, yang dilanjut ngangsur sampai 2040,” kata Aziz.

Aziz menambahkan, bahwa sangat mustahil untuk membeli rumah di sini jika hanya mengandalkan gaji UMR Jogja. Setidaknya, calon pemilik harus memiliki penghasilan jauh di atas upah minimun, menggabungkan pendapatan dengan istri atau mendapat bantuan dari orang tua.

Saat ini, usaha kulinernya disebut sudah cukup untuk membantunya mengangsur, dengan cicilan mulai Rp 2,5 juta, dari pendapatan usaha kuliner di rata-rata Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per bulan. “Jadi aku nyicil flat mulai tahun ke tujuh di angka Rp 3,7 juta sampai tahun 2042,” katanya.

Bergeser ke Pinggiran

Harga rumah di Yogyakarta terutama di dalam Ring Road dan utamanya wilayah Utara kota membuat banyak orang mencoba menggeser keinginan untuk memiliki rumah dengan mencari alternatif wilayah lain di pinggiran Yogyakarta. Harga rumah akan jauh lebih murah dibandingkan wilayah kota meskipun konsekuensinya tinggal agak jauh jika berkantor di pusat kota.

Beberapa wilayah di Yogyakarta, dengan keunikan geografisnya yang dikelilingi kabupaten-kabupaten tetangga, menawarkan alternatif menarik bagi pemburu hunian terjangkau.

Beberapa wilayah pinggiran kini menjadi sasaran para pencari rumah murah di Yogyakarta. Di antaranya Imogiri. Terletak sekitar 25 kilometer selatan Yogyakarta, Imogiri menawarkan harga rumah yang sangat kompetitif. Dengan kisaran Rp 200-600 juta untuk rumah berbagai tipe.

Seorang pekerja swasta bernama Muhammad dengan pendapatan tidak berselisih jauh dari UMR, mengaku mendapatkan rumah subsidi seharga Rp 208 juta dengan luas 27 meter persegi dan luas tanah 60 meter persegi. "Itu rumah subsidi yang paling dekat dengan kantor saya dan dengan kota Jogja," kata dia.

Menurut pengakuannya, hanya butuh dua kali survei dan mantap menjatuhkan pilihan membeli rumah di Imogiri dengan cara mencicil selama 10 tahun. Keunggulan wilayah Imogiri antara lain akses mudah ke Ring Road Selatan via Jalan Imogiri Timur atau Barat. Selain itu alamnya masih sejuk karena banyak perbukitan. Suasana pedesaan masih terasa asri dan dekat dengan kawasan wisata seperti Makam Raja-Raja Mataram.

Wilayah lain yang menarik adalah Prambanan. Kawasan Prambanan, yang terkenal dengan Candi Prambanannya, menawarkan beberapa rumah dengan harga antara Rp 400-500 juta. Kelebihan Prambanan antara lain nilai historis dan budaya yang tinggi, lalu potensi investasi jangka panjang karena kawasan wisata. Hanya saja, di pagi hari terkadang bergelut dengan kemacetan jika bergerak menuju kota Yogyakarta.

Wilayah Kasihan di Bantul juga menjadi primadona baru untuk mencari rumah. Dari Kasihan hanya membutuhkan sekitar 30 menit menuju pusat Yogyakarta jika lancar. Kawasan ini menawarkan rumah dengan harga Rp 500-900 juta.

Wilayah alternatif lainnya antara lain Godean yang menawarkan akses mudah ke Ring Road Barat dan suasana pedesaan yang tenang. Kawasan ini cocok bagi mereka yang bekerja di kawasan industri atau universitas di sisi barat Yogyakarta.

Selain itu, ada Kalasan dengan akses yang sangat baik ke UGM, UII, dan kawasan Condongcatur. Sewon di Bantul juga terus berkembang dengan hadirnya berbagai perumahan baru. Begitu pula Berbah yang menawarkan rumah dengan harga Rp 400-600 juta. Lokasinya strategis sebagai jalur menuju Klaten dan Solo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6