335 Murid di Banggai Kepulauan Sulteng Diduga Keracunan MBG hingga Kejang: BGN Minta Maaf, Janji Investigasi

BGN telah mengirimkan tim ke lokasi terdampak sejak Jumat (19/9) untuk memastikan perawatan terhadap para korban.

Diperbarui 21 September 2025, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pelajar di Banggai Kepulauan diduga keracunan program makan bergizi gratis.
  • Badan Gizi Nasional meminta maaf dan mengirim tim untuk penanganan korban.
  • Mayoritas pasien sudah dipulangkan, sisanya stabil tanpa kerusakan saraf.

Liputan6.com, Jakarta Program makan bergizi gratis (MBG) kembali membuat sejumlah pelajar di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, diduga keracunan. Video yang beredar menunjukkan, mereka sampai kejang akibat dugaan keracunan tersebut.

Merespons hal tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas terjadinya insiden. Sebagai bentuk tanggung jawab, BGN telah mengirimkan tim ke lokasi terdampak sejak Jumat (19/9) untuk memastikan perawatan terhadap para korban.

"Kami sangat prihatin atas kejadian ini dan turut berempati kepada seluruh pasien serta keluarga yang terdampak. BGN bersama seluruh pihak terkait terus bekerja keras memastikan penanganan kesehatan terbaik serta melakukan langkah investigasi menyeluruh atas insiden ini," ujar Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, Sabtu (20/09).

300 Murid Sudah Diperbolehkan Pulang

Sementara itu, Direktur RSUD Trikora, Feldy Deki, melaporkan dari total 335 jumlah pasien dirawat, sebanyak 301 di antaranya sudah membaik dan boleh dipulangkan pada Sabtu (20/9). Sisanya, masih menjalani perawatan karena adanya gejala seperti sesak napas serta kram pada otot dada, tangan, dan kaki.

"Mengenai kondisi tersebut, pihak rumah sakit telah memberikan penanganan maksimal dengan memberikan obat serta penanganan medis lainnya sesuai dengan gejala yang dialami masing-masing korban," kata Feldy seperti dikutip Minggu (21/9/2025).

Pasien Membludak, Petugas Medis Ditambah

Untuk memperkuat layanan, lanjut Feldy, RSUD Trikora telah mendapatkan tambahan tenaga medis dari RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Total, ada 4 dokter spesialis anak dan anestesi, serta tiga perawat yang diterjunkan.

"Dukungan ini tentunya sangat penting dan bernilai tinggi bagi kami, keluarga pasien dan pasien itu sendiri, terutama dalam meningkatkan sisi psikologis. Kami mengapresiasi langkah cepat seluruh pihak yang turut fokus dalam menangani insiden ini," ungkap Feldy.

Feldy memastikan, RSUD Trikora bersama tim medis gabungan akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap pasien yang masih dirawat. Evaluasi dan koordinasi dengan berbagai pihak juga terus dilakukan untuk memastikan penanganan maksimal.

"Kami berusaha memberikan penanganan maksimal kepada seluruh pasien yang masih dalam perawatan. Kami juga akan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memberikan update kondisi pasien serta penanganan lebih lanjut jika diperlukan," Feldy menandasi.

Tidak Ada Kerusakan Saraf Akibat Kejang

Sementara itu, perwakilan tim medis Kementerian Kesehatan dari RSUP dr. Wahidin, Rusmin, memastikan bahwa kondisi pasien yang masih dirawat dalam keadaan stabil.

"Alhamdulillah keadaannya stabil, tidak mengancam jiwa. Alhamdulillah artinya anak-anak ini dalam proses recovery," ungkap Rusmin.

Rusmin menambahkan, dari hasil pemeriksaan feses dan anamnesis tidak menunjukkan tanda kerusakan saraf atau gejala serius yang sempat dikhawatirkan publik akibat terjadi kejang.

“Karena dari hasil pemeriksaan feses dan anamnesis tidak ada pemeriksaan yang mengarah ke kerusakan syaraf yang dicurigai mengakibatkan kejang dan itu bukan tanda-tanda yang kita khawatirkan seperti khalayak ramai asumsikan,” dia menutup.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6