3 Pesawat Hercules TNI AU Tiba di Tanah Air Usai Selesaikan Misi Bantuan Kemanusiaan ke Gaza

Kedatangan Satuan Tugas Garuda Merah Putih II TNI AU disambut langsung oleh KSAU Marsekal Tonny Harjono. Selain itu, tampak Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al-Shun.

Diperbarui 13 September 2025, 16:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Tiga pesawat Hercules TNI AU kembali usai misi kemanusiaan di Gaza.
  • Misi berhasil menyalurkan 91,4 ton bantuan meski sempat terhenti.
  • Indonesia siap lanjutkan bantuan, namun izin otoritas setempat krusial.

Liputan6.com, Jakarta - Tiga pesawat Hercules C-130J milik TNI Angkatan Udara (AU) mendarat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta, Sabtu (13/9/2025). Puluhan personel yang ditugaskan kembali ke Tanah Air usai menyelesaikan misi bantuan kemanusiaan ke jalur Gaza, Palestina.

Kedatangan Satuan Tugas Garuda Merah Putih II TNI AU disambut langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Tonny Harjono. Selain itu, tampak Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al-Shun.

"Siang ini kita menerima kehadiran tiga pesawat Hercules yang telah melaksanakan misi bantuan kemanusiaan ke Gaza," kata Tonny di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta Timur, Sabtu (13/9/2025).

Dia menyampaikan bantuan kemanusian mulai diberangkatkan secara bertahap pada 13 Agustus 2025, sesuai perintah Presiden Prabowo Subianto. Satgas sempat singgah ke Jordania, sebelum melakukan dropping pertama pada 17 Agustus 2025.

"Dari tanggal 17 mereka melakukan dropping sampai dengan tanggal 28 (Agustus)," ujarnya.

Tonny menyebut total bantuan yang sudah di dropping seberat 91,4 ton atau 520 bundle logistik. Adapun bantuan diterjunkan dari udara dan dijatuhkan di Gaza.

"Selama di Palestine mereka tergabung dalam Solidarity Pad Operation, jadi ada 15 negara yang tergabung di dalam multinasional untuk perbantuan kemanusiaan di Gaza," tutur Tonny.

 

Dropping Bantuan Sempat Terhenti

Kendati begitu, Tonny mengungkapkan misi kemanusiaan ini tak melulu berjalan mulus. Dia menuturkan dropping bantuan sempat terhenti karena tak mendapat izin pelepasan dari otoritas setempat.

"Hanya tanggal 27 dengan 28 mereka tidak bisa melaksanakan karena tidak mendapat release dari otoritas tempat," ucap dia.

Setelah itu, tim bertolak ke Kairo Mesir pada 7 September 2025, untuk dropping bantuan tahap berikutnya sebanyak 40 bundle logistik. Namun, dropping tertunda karena tak mendapatkan izin.

"Rencana ada 40 buckle yang sudah disiapkan untuk dropping pertama karena tidak mendapatkan izin dari otoritas setempat, sehingga atas perintah Panglima TNI tanggal 10 mereka kembali," tutur Tonny.

"Dan hari ini sekitar jam 11 (siang) mereka sudah landing di Halim," imbuh dia.

Tonny menyampaikan masih tersisi 250 ton bantuan yang belum tersalurkan. Hanya saja, kata dia, penyaluran bantuan ini tak mudah mendapatkan izin karena fakto keamanan.

 

Terbuka untuk Bantuan Kemanusiaan

"Jadi barangnya masih 250 ton. Jadi sebetulnya barangnya masih banyak. Hanya memang perizinan dari otoritas tempat terkait dengan keamanan, terkait dengan schedule yang ada di sana. Karena untuk memasuki daerah sana juga harus mendapatkan izin dari beberapa negara yang bisa menjamin keamanan di sana. Jadi kita tidak bisa sesuka hati untuk bisa melaksanakan dropping di sana," ujar Tonny.

Dia menekankan Indonesia sangat terbuka memberikan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Tonny menyebut penyaluran bantuan dapat dilakukan melalui udara atau jalur darat.

"Hanya semua bergantung dari situasi yang ada di sana dan tentunya kami akan melaksanakan tugas ini atas perintah Bapak Presiden. Metode yang dilaksanakan bisa didrop atau bisa kita kirim lewat darat. Tetapi sekali lagi semua tergantung dari otoritas setempat untuk memberikan izin. Jadi dinamikanya sangat-sangat tinggi," pungkas Tonny.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6