55 Proyek Energi Terbarukan Diresmikan Prabowo, Listrik Desa Jadi Ujung Tombak di 3T

Menurut Defiyan, komitmen pemerintah dalam memperluas akses energi listrik semakin nyata setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan 55 proyek energi baru terbarukan (EBT) pada 26 Juni 2025 di PLTP Ijen, Bondowoso, Jawa Timur.

Diperbarui 02 Agustus 2025, 07:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Lisdes bukti negara hadir wujudkan keadilan sosial di sektor energi wilayah 3T.
  • Peresmian 55 proyek EBT oleh Presiden Prabowo wujudkan komitmen perluasan akses energi.
  • Lisdes salurkan listrik ke pelosok desa, jangkau 10.000 titik di 40 kabupaten.

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom konstitusi Defiyan Cori menyatakan bahwa Program Listrik Desa (Lisdes) menjadi bukti hadirnya  negara dalam mewujudkan keadilan sosial di sektor energi, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Lisdes merupakan bukti bahwa negara tidak tinggal diam. Hal itu bagian dari usaha nyata mewujudkan keadilan energi, terutama bagi masyarakat di wilayah 3T,” kata Defiyan di Jakarta, Rabu (30/7/2025).

Menurut Defiyan, komitmen pemerintah dalam memperluas akses energi listrik semakin nyata setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan 55 proyek energi baru terbarukan (EBT) pada 26 Juni 2025 di PLTP Ijen, Bondowoso, Jawa Timur.

Proyek tersebut mencakup delapan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan 47 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas mencapai 380 megawatt (MW).

"Lisdes menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek EBT tersebut. Bersama Kementerian ESDM dan PLN, program ini menyalurkan listrik ke pelosok desa, menjangkau lebih dari 10.000 titik di 40 kabupaten dan 18 provinsi hingga Juli 2025,” ungkapnya.

Defiyan menambahkan, keberadaan listrik di desa-desa terpencil tidak hanya membawa penerangan, tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

"Lisdes tidak hanya membawa terang ke rumah-rumah warga, tetapi juga menghadirkan harapan, kehidupan, dan masa depan yang lebih layak,” ucapnya.

 

 

Tembus Desa-desa Terpencil

Defiyan menyebut, akselerasi elektrifikasi dalam satu dekade terakhir tergolong luar biasa. Rasio elektrifikasi nasional meningkat dari 84,35 persen pada 2014 menjadi 99,83 persen pada akhir 2024.

"Listrik bukan hanya soal penerangan. Ia adalah fondasi kemajuan pendidikan, ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat,” tegas Defiyan.

Ia menilai, kemerdekaan dari kegelapan kini bukan lagi sekadar slogan, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat pedesaan.

“Program Lisdes telah membuktikan bahwa cahaya kini hadir di desa-desa terpencil. Di situlah keadilan sosial benar-benar mulai ditegakkan,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6